Kisah Pilu Yohana Yulita, Terpisah dari Suami Usai Gempa Flores M 7,7, Pulang Selamatkan Anak
Talitha Daren August 25, 2026 01:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026, meninggalkan kisah pilu bagi Yohana Yulita, warga Danga, Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo.

Yohana yang telah hampir empat tahun tinggal di Danga bersama suami dan ketiga anaknya, harus menghadapi situasi mencekam ketika gempa terjadi. Saat itu, ia sedang berada di pasar untuk berjualan ketika tanah tiba-tiba berguncang hebat.

Dalam kepanikan, Yohana langsung meninggalkan dagangannya dan berlari menuju tempat tinggalnya untuk memastikan keselamatan anak-anaknya.

Namun, setelah berhasil menyelamatkan anak-anak, Yohana justru kehilangan kontak dengan suaminya. Hingga wawancara dilakukan, keberadaan sang suami belum diketahui.

Baca juga: Derita Anak Korban Gempa NTT: Kehabisan Susu, Popok Terbatas dan Bayang-Bayang Gempa Susulan

Tinggalkan Dagangan demi Selamatkan Anak

Yohana menuturkan, saat gempa terjadi dirinya sedang berada di pasar. Ia baru saja hendak memulai aktivitas berjualan ketika gempa mengguncang wilayah tersebut.

"Saya di pasar. Begitu gempa, saya lari ke kos ambil anak," ujar Yohana.

Ia berjualan sayur, penyedap, bawang, beras dan sejumlah kebutuhan pokok lainnya. Namun, seluruh barang dagangannya terpaksa ditinggalkan karena keselamatan anak-anak menjadi prioritas.

Setibanya di tempat tinggal, Yohana mendapati anak-anaknya sudah berada di luar bersama warga lain. Mereka keluar dari bangunan dalam keadaan panik dan menangis.

Yohana kemudian langsung membawa kedua anaknya dan mencari kendaraan untuk meninggalkan lokasi.

"Saya takut. Saya langsung tarik kedua anak, langsung dari situ naik ke sini," tuturnya.

Ia kemudian menumpang kendaraan yang hendak meninggalkan wilayah tersebut dan membawa anak-anak menuju rumah adiknya di Desa Ndora, Kecamatan Nangaroro.

MAMA YOHANA-Mama Yohana Yulita pedagang di Pasar Danga Nagekeo bersama anaknya mengungsi ke rumah keluarga
MAMA YOHANA-Mama Yohana Yulita pedagang di Pasar Danga Nagekeo bersama anaknya mengungsi ke rumah keluarga (Tribun Trends/TRIBUNFLORES.COM/ARIS NINU)

Terpisah dari Suami

Di tengah kepanikan setelah gempa, Yohana justru tidak mengetahui keberadaan suaminya.

Saat gempa terjadi, suaminya berada di tempat tinggal mereka. Namun, setelah kejadian, keduanya tidak sempat bertemu.

"Sampai sekarang belum tahu kondisinya. Belum pernah ketemu sampai sekarang," kata Yohana sambil menangis.

Upaya menghubungi suaminya juga belum membuahkan hasil. Telepon seluler masih berada di tangan Yohana, tetapi komunikasi tidak dapat dilakukan karena jaringan terganggu dan listrik padam.

Yohana berharap suaminya dalam kondisi selamat. Ia berencana kembali ke Danga untuk mencari informasi sekaligus memastikan kondisi tempat tinggal mereka.

MAMA YOHANA-Mama Yohana Yulita pedagang di Pasar Danga Nagekeo bersama anaknya mengungsi ke rumah keluarga (Tribun Trends/Youtube Tribun Flores)

Rumah dan Barang Dagangan Rusak

Gempa besar tersebut juga menyebabkan banyak bangunan di sekitar tempat tinggal Yohana mengalami kerusakan.

Menurut Yohana, rumah-rumah yang menggunakan konstruksi tembok mengalami kerusakan cukup parah.

Sementara bangunan panggung relatif lebih banyak yang masih bertahan.

Ia mengaku baru kali ini merasakan gempa dengan kekuatan sedahsyat itu.

"Ini yang besar sekali sampai tumbang semua. Sampai rumah-rumah banyak yang hancur," ujarnya.

Yohana mengatakan selama hampir empat tahun tinggal di Mbay, dirinya memang beberapa kali merasakan gempa. Namun, tidak pernah merasakan guncangan sebesar yang terjadi pada 15 Agustus 2026.

Ia juga belum mengetahui kondisi seluruh barang yang ditinggalkan di tempat tinggalnya. Saat gempa terjadi, Yohana hanya sempat menyelamatkan anak-anak.

"Barang-barang lepas semua, terserah. Saya selamatkan nyawa dengan anak-anak," katanya.

Anak-anak Selamat, tetapi Masih Trauma

Yohana memiliki tiga anak. Dua anak berada bersamanya ketika gempa terjadi, sedangkan anak sulungnya yang berusia 17 tahun berada di Bajawa.

Ketiga anaknya disebut dalam kondisi selamat.

Meski demikian, pengalaman gempa tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi Yohana. Ia mengaku masih merasa takut ketika merasakan sedikit saja guncangan.

"Sekarang masih rasa macam trauma. Kalau ada oleng sedikit, seperti pusing, ingat kejadian kemarin," tuturnya.

Yohana bahkan memilih tidur di lantai setelah gempa karena masih merasa takut berada di dalam bangunan.

Kondisi tersebut membuatnya belum berani kembali tinggal di tempat semula. Ia ingin membawa anak-anaknya ke tempat yang lebih aman terlebih dahulu.

(TribunTrends.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.