TRIBUNTRENDS.COM - Yohana Yulita, warga Danga, Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo, menjadi salah satu warga yang merasakan langsung dahsyatnya gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Gempa tersebut tidak hanya merusak sejumlah bangunan di sekitar tempat tinggalnya, tetapi juga membuat Yohana terpisah dari suaminya.
Saat gempa terjadi, suami Yohana berada di tempat tinggal mereka.
Namun, setelah guncangan hebat tersebut, Yohana tidak sempat bertemu kembali dengan sang suami. Hingga saat itu, keberadaan suaminya juga belum diketahui karena terkendala komunikasi.
Menurut Yohana, sejumlah rumah berdinding tembok mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa. Sementara itu, bangunan dengan konstruksi rumah panggung relatif lebih banyak yang masih bertahan.
Kondisi tersebut membuat Yohana semakin cemas, terlebih ia harus memastikan keselamatan anak-anaknya di tengah situasi yang serba tidak pasti.
Baca juga: Kisah Pilu Yohana Yulita, Terpisah dari Suami Usai Gempa Flores M 7,7, Pulang Selamatkan Anak
Setelah meninggalkan Danga, Yohana mengungsi ke rumah adik kandungnya di Desa Ndora, Kecamatan Nangaroro.
Di tempat tersebut, ia berusaha menenangkan diri bersama anak-anak sembari menunggu informasi mengenai kondisi suaminya.
Namun, Yohana tidak ingin terlalu lama berada dalam ketidakpastian. Ia berencana kembali ke Danga untuk melihat kondisi barang-barang yang masih dapat diselamatkan sekaligus mencari informasi tentang suaminya.
"Pokoknya sekarang mau ke bawah untuk lihat barang yang bisa diselamatkan, beres-beres, lalu cari suami," katanya.
Setelah memastikan kondisi di Danga, Yohana berencana membawa anak-anaknya ke Kisol, Manggarai.
Ia ingin anak-anaknya mendapatkan tempat yang lebih tenang setelah mengalami kepanikan akibat gempa.
"Saya bawa ke Manggarai, di Kisol. Istirahat dulu, tenang-tenang di sana," ujar Yohana.
Ia belum memutuskan apakah nantinya akan kembali ke Danga atau memilih tinggal sementara di tempat lain. Keputusan tersebut baru akan diambil setelah situasi kembali aman dan keberadaan suaminya diketahui.
Bagi Yohana, keselamatan anak-anak menjadi hal utama. Ia ingin memastikan ketiga anaknya berada dalam kondisi aman sebelum menentukan langkah berikutnya.
Hingga saat ini, satu hal yang paling membuat Yohana cemas adalah belum adanya kepastian mengenai keberadaan suaminya.
Sejak gempa terjadi, ia belum kembali bertemu dengan sang suami. Gangguan jaringan komunikasi dan listrik yang padam semakin menyulitkan upaya pencarian informasi.
Di tengah trauma dan kehilangan tempat tinggal, Yohana kini hanya berharap bisa segera mendapatkan kabar mengenai suaminya.
Ia juga berharap situasi di Danga segera membaik sehingga warga dapat kembali memeriksa rumah, menyelamatkan barang-barang yang tersisa, serta menentukan tempat tinggal yang aman bagi keluarga mereka.
Bagi Yohana, gempa tersebut bukan hanya merusak bangunan dan memisahkan keluarganya untuk sementara. Peristiwa itu juga meninggalkan trauma yang membuatnya harus menata kembali kehidupan bersama anak-anaknya dari awal.
(TribunTrends.com)