Makna Maulid semestinya tidak hanya berhenti pada seremoni, lantunan shalawat atau pengisahan perjalanan hidup Rasulullah, juga mendorong refleksi terhadap relevansi nilai-nilai kenabian dalam kehidupan masyarakat kontemporer
Purwokerto (ANTARA) - Akademisi Universitas Islam Negeri Prof KH Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto Muridan mengatakan peringatan Maulid Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam (SAW) dapat menjadi momentum memperkuat pendidikan akhlak dan keteladanan di tengah semakin kompleksnya persoalan moral masyarakat.
"Makna Maulid semestinya tidak hanya berhenti pada seremoni, lantunan shalawat atau pengisahan perjalanan hidup Rasulullah, juga mendorong refleksi terhadap relevansi nilai-nilai kenabian dalam kehidupan masyarakat kontemporer," katanya di Purwokerto, Jawa Tengah, Selasa.
Ia mengatakan keteladanan Rasulullah SAW perlu diaktualisasikan melalui perilaku sosial, seperti kejujuran, kasih sayang, keadilan, penghormatan terhadap sesama, dan tanggung jawab moral.
Menurut dia, nilai tersebut semakin penting di tengah persoalan akhlak berupa kekerasan verbal dalam keluarga, kebiasaan menghina dan menghakimi orang lain, perundungan di ruang digital, serta menguatnya sikap individualistis.
Ia menjelaskan manusia tidak hanya belajar melalui nasihat, juga melalui pengamatan terhadap perilaku orang lain. "Nilai moral akan lebih mudah hidup ketika tidak hanya disampaikan dalam bentuk kata-kata, tetapi diperlihatkan melalui tindakan nyata," katanya.
Ia mengatakan Rasulullah SAW merupakan uswah hasanah atau teladan yang baik, termasuk dalam menghadapi perbedaan, memperlakukan keluarga, berbicara kepada orang lain, merespons kesalahan, dan membangun hubungan sosial.
Namun pendidikan keteladanan menghadapi tantangan, kata dia, karena generasi muda tidak hanya belajar dari orang tua, guru, dan tokoh agama, tetapi juga dari berbagai figur melalui media sosial.
Menurut dia, pendidikan akhlak harus dimulai dari ruang terdekat seperti keluarga dan lingkungan sekitar.
“Cara berbicara kepada pasangan, memperlakukan anak, merespons perbedaan dengan tetangga, hingga memperlakukan orang lain merupakan cerminan kualitas akhlak,” katanya.
Ia menilai Maulid Nabi perlu diarahkan dari sekadar seremoni menuju transformasi perilaku. Muridan mencontohkan dalam keluarga, keteladanan Nabi Muhammad SAW dapat diwujudkan melalui budaya berbicara lembut; dalam pendidikan melalui guru yang mempraktikkan nilai moral, serta di masyarakat melalui kepedulian terhadap sesama.
“Sementara di ruang digital, keteladanan dapat diwujudkan dengan memeriksa informasi, menghindari penghinaan, dan menjaga etika komunikasi,” katanya.
Ia mengatakan kehidupan Nabi Muhammad SAW di tengah masyarakat yang beragam juga relevan dengan kondisi masyarakat modern.
Menurut dia, perbedaan tidak semestinya menjadi alasan permusuhan, tetapi perlu dikelola dengan penghormatan dan adab. "Akhlak bukan pelengkap agama. Akhlak merupakan wajah agama dalam kehidupan sosial," katanya.





