Laporan Wartawan TribunJabar.id, Nazmi Abdurrahman
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sebanyak 743 ribu anak usia balita di Jawa Barat tercatat mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sepanjang Januari hingga Juli 2026.
Jumlah tersebut mencapai lebih dari separuh, dari total sekitar 1,4 juta kasus ISPA yang tercatat Dinas Kesehatan (Dinkes) Jabar pada periode yang sama.
Kepala Dinkes Jabar, Raden Vini Adiani Dewi mengatakan, balita menjadi kelompok yang paling rentan terpapar ISPA karena daya tahan tubuhnya belum optimal.
"Kelompok rentan. Anak-anak ada di 743.000. Kalau data yang masuk ke saya, dari Januari sampai Juli," ujar Vini, Selasa (25/8/2026).
Baca juga: Dampak Debu Kapur di KBB: 378 Warga Padalarang dan Cipatat Suspek TBC, Ratusan Kena ISPA
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian karena ISPA dapat menyerang seluruh kelompok usia. Namun, balita dan lansia merupakan kelompok yang lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat penyakit tersebut.
Vini menekankan pentingnya pemberian ASI eksklusif, asupan makanan bergizi, serta imunisasi untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak.
"Makanya ASI eksklusif harus, makan bergizi harus, imunisasi harus. Karena anak itu kan rentan terhadap penularan ISPA," katanya.
Selain faktor daya tahan tubuh, lingkungan dan perilaku masyarakat juga turut memengaruhi risiko penularan ISPA.
Vini menyebut sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko ISPA, mulai dari rendahnya cakupan imunisasi, kurangnya asupan gizi, pemberian ASI eksklusif yang tidak optimal, ventilasi rumah yang buruk, hingga paparan asap rokok.
"Tidak boleh merokok di dalam rumah atau di ruangan. Tentu hal-hal itu bisa menurunkan infeksi saluran pernapasan akut," katanya.
Upaya pencegahan lainnya dapat dilakukan dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti rutin mencuci tangan menggunakan sabun, memakai masker ketika sakit, serta memastikan sirkulasi udara di rumah tetap baik.
Meski kasus ISPA di Jabar masih menjadi yang tertinggi secara nasional, Vini menyebut tren kasus berdasarkan data Dinkes Jabar justru mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Vini mencatat terdapat sekitar 1,4 juta kasus ISPA sepanjang Januari-Juli 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan jumlah kasus pada 2025 yang mencapai hampir tiga juta kasus.
"Nah sekarang itu sekitar 1,4 juta. Ya, di mana yang 1,4 juta ini dari Januari sampai Juli. Berarti kan kalau asumsinya sudah setengah tahun. Tahun kemarin itu hampir di angka tiga jutaan," ujarnya.
Vini juga menyebut belum terjadi peningkatan signifikan kasus ISPA di tengah musim kemarau yang sedang berlangsung.
"Enggak sih. Ini justru tidak ada peningkatan. Maksudnya sama saja," katanya.
Baca juga: Bahaya Polusi Debu Kapur di Bandung Barat: Ratusan Warga Suspek TBC Hingga Terinfeksi ISPA Parah
Vini menilai, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, termasuk kebiasaan menggunakan masker, ikut membantu menekan penyebaran ISPA.
Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga pekan ke-31 2026, Jabar tercatat sebagai provinsi dengan jumlah kasus ISPA tertinggi di Indonesia dengan 1.858.779 kasus.
Jawa Tengah berada di urutan kedua dengan 1.819.793 kasus, disusul DKI Jakarta sebanyak 1.241.791 kasus dan Jawa Timur 1.007.305 kasus.
Pada 2025, Jabar juga menjadi provinsi dengan kasus ISPA tertinggi dengan 2.527.302 kasus. Angka tersebut disusul Jawa Tengah 2.292.627 kasus, DKI Jakarta 1.845.882 kasus dan Jawa Timur 1.337.901 kasus.
Data Kemenkes juga menunjukkan kasus ISPA mulai mengalami peningkatan pada awal musim kemarau 2026, terutama sejak pekan ke-27 hingga pekan ke-31 dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada pekan ke-32 hingga pekan ke-44. Pada periode tersebut, masyarakat terutama kelompok rentan diminta tetap menjaga kondisi kesehatan dan menghindari faktor yang dapat memicu gangguan pernapasan.