Pengasuh Pesantren AIS Jombang Prihatin Kandidat Ketum PBNU Saling Serang: Keluar dari Tradisi
Januar August 25, 2026 03:14 PM

 

Laporan wartawan TribunJatim.com, Anggit Pujie Widodo


TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, dinamika pencalonan Ketua Umum PBNU mulai mendapat sorotan dari kalangan pesantren.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Aqobah International School (AIS) Jombang, KH A Junaidi Hidayat, menyayangkan munculnya sejumlah pernyataan yang dinilai mengarah pada aksi saling serang antar kandidat, maupun pendukungnya.

Menurut KH Junaidi, perbedaan pandangan dalam sebuah organisasi merupakan sesuatu yang wajar. Namun, ia mengingatkan agar perbedaan tersebut tetap disampaikan dengan cara yang mencerminkan tradisi dan akhlak Nahdlatul Ulama.

"Ya, kita melihat dinamika yang terjadi sebelum Muktamar ini. Ada sesuatu yang bagi kita sebagai santri maupun sebagai pemangku pondok pesantren, banyak hal yang membuat kita prihatin," ucap KH Junaidi kepada Tribunjatim.com, Selasa (25/8/2026).

Baca juga: Penampakan Kamar untuk Istirahat Muktamirin di Muktamar NU Jombang, Rapi Tertata

Ia menilai Muktamar NU seharusnya tidak sekadar menjadi forum untuk memilih pemimpin. Lebih dari itu, Muktamar harus menjadi momentum konsolidasi, sekaligus ruang untuk menunjukkan karakter dan nilai-nilai yang diwariskan para pendiri NU.

"Saya kira ini tentu sudah keluar dari tradisi dan kultur yang dikembangkan oleh para muassis terkait dengan proses Muktamar ini," ujarnya.

KH Junaidi berharap seluruh pihak dapat menahan diri dan mengedepankan sikap saling menghormati.

Sebab, menurutnya, proses menuju Muktamar semestinya memberikan pendidikan politik dan organisasi yang baik kepada warga Nahdliyin.

"Seharusnya Muktamar ini harus mendidik. Muktamar ini harus membangun satu suasana yang betul-betul menggambarkan akhlak Nahdlatul Ulama. Nah, kita melihat sudah keluar dari akhlak ini," tegasnya.

Jangan Nilai Kandidat dari Satu Sisi

KH Junaidi juga menanggapi munculnya penilaian terhadap kapasitas sejumlah kandidat Ketua Umum PBNU. Salah satunya terkait KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng.

Menurut dia, kapasitas seorang calon pemimpin NU tidak semestinya diukur hanya dari kemampuan keilmuan agama. Sebagai organisasi besar dengan jaringan yang luas, NU membutuhkan pemimpin yang memiliki kemampuan dalam berbagai bidang.

"Karena seorang pemimpin di Nahdlatul Ulama itu sebagai sebuah organisasi besar, maka tidak hanya dibutuhkan kapasitas keilmuan di bidang agama, tetapi juga harus punya kemampuan secara utuh di bidang manajerial, kemampuan jaringan, kemampuan membangun kekuatan NU secara ekonomi, pendidikan, maupun pergerakannya," jelasnya.

Ia menilai tantangan yang dihadapi NU pada abad kedua semakin kompleks. Perubahan global menuntut organisasi memiliki kepemimpinan yang mampu mengelola sekaligus mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki NU.

Dalam konteks tersebut, KH Junaidi menilai Gus Kikin memiliki sejumlah kapasitas yang dibutuhkan untuk memimpin organisasi.

"Saya melihat Gus Kikin punya kemampuan yang lebih utuh. Beliau juga seorang pengusaha, punya kekuatan di bidang jaringan untuk bagaimana membangun. Di media juga beliau pernah punya media televisi," ungkapnya.

Karena itu, ia mengingatkan agar penilaian terhadap seorang tokoh dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan satu aspek.

"Artinya, melihat ketokohan seseorang jangan dilihat dari satu aspek, tetapi secara utuh. Karena NU membutuhkan kekuatan itu," katanya.

Harap Muktamar Jadi Momentum Konsolidasi

Lebih lanjut, KH Junaidi berharap Muktamar ke-35 NU di Tambakberas tidak terjebak pada pertarungan kepentingan. Ia ingin forum tersebut menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan melahirkan kepemimpinan yang mampu membawa NU menghadapi tantangan zaman.

Menurutnya, NU ke depan perlu memperkuat berbagai sektor, mulai dari kemandirian ekonomi, tata kelola organisasi, pendidikan, jaringan internasional hingga gerakan sosial.

Dengan kekuatan tersebut, ia berharap NU mampu menghadapi tantangan abad kedua secara lebih matang dan mandiri.

"Sehingga NU betul-betul akan siap untuk bisa masuk pada pertarungan abad kedua dengan kedigdayaan dalam semua aspek, secara ekonomi, manajerial, jaringan internasional, pendidikan, dan sebagainya," pungkasnya.

 

Informasi lengkap dan menarik lainnya baca di TribunJatim.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.