2 Kampung Adat di Indonesia Hangus Terbakar, Ciptamulya dan Sade, Penyebab Diduga Kelistrikan
Sri Juliati August 25, 2026 03:24 PM

TRIBUNNbEWS.COM - Di tengah musim kemarau panjang ini, dua kampung adat di Indonesia hangus terbakar.

Pada Sabtu (25/7/2026) lalu, api menghanguskan Kampung Adat Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Kampung Adat Ciptamulya dikenal sebagai kampung adat yang mempertahankan tradisi menyimpan padi selama puluhan tahun dan masih terjaga hingga saat ini.

Total ada 49 Leuit, 51 rumah, dan Imah Gede yang kini sudah rata dengan tanah.

Leuit merupakan lumbung padi berbentuk rumah panggung yang digunakan khusus untuk menyimpan gabah.

Gabah berusia puluhan tahun dengan total puluhan ton ikut hangus terbakar.

Kebakaran tersebut pun menyebabkan 318 jiwa terdampak dan 102 kepala keluarga (KK) mengungsi.

Kebakaran di Desa Adat Sade di Lombok, NTB

Terbaru ini, kebakaran juga menghanguskan Desa Adat Sade di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (22/7/2026).

Sebanyak 150 dan sejumlah bangunan penting di kawasan pemukiman adat hangus terbakar.

Kebakaran tersebut juga mengakibatkan sekira 300 jiwa kehilangan tempat tinggal.

Desa adat ini telah diwariskan turun-temurun hingga 15 generasi.

Baca juga: Kerugian Kebakaran Desa Adat Sade NTB Capai Rp34 Miliar, Pemerintah Bahas Bantuan Rehabilitasi

Wisatawan asing juga sudah mulai mengunjungi Sade sejak 1983 secara organik, jadi Sade ini bukan desa yang dibentuk untuk kepentingan wisata.

Sade merupakan permukiman masyarakat Suku Sasak, suku tertua di Pulau Lombok.

Mengutip TribunLombok.com, tokoh masyarakat Desa Adat Sade, Ginanjar, menceritakan detik-detik kebakaran.

“Setelah saya lihat apinya, langsung saya ke sini karena ini rumah anak saya. Itu api masih mutar di sini semalam," ujarnya, Minggu (23/8/2026).

KEBAKARAN DESA ADAT SADE - Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana telah menginstruksikan Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok untuk turun dan terlibat langsung dalam penanganan pasca kebakaran di Desa Adat Sade, Lombok, Minggu (23/8/2026).
KEBAKARAN DESA ADAT SADE - Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana telah menginstruksikan Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok untuk turun dan terlibat langsung dalam penanganan pasca kebakaran di Desa Adat Sade, Lombok, Minggu (23/8/2026). (HO/IST)

Di tengah kepungan asap, Ginanjar langsung memperingatkan warga supaya menyelamatkan diri.

Ia segera mengevakuasi semua orang keluar dari zona bahaya.

“Nah, setelah itu baru saya keluarkan (keluarga serta masyarakat), kalau harta benda tidak kepikiran. Yang penting selamat keluarga dulu,” ungkapnya.

Sayangnya, rumah yang terbuat dari kayu tersebut membuat api cepat menyebar hingga tidak sempat menyelamatkan harta benda.

“Tidak ada yang bisa selamatkan (harta bendanya) semuanya. Semuanya habis. Karena ini kan materialnya alang-alang, syukur gak ada korban jiwanya,” lanjut Amaq Yuli, sapaan akrab Ginanjar.

Peristiwa tersebut, ujarnya, terjadi sekitar pukul 22.00 WITA dan diduga dipicu masalah kelistrikan.

“Kelihatannya api dari listrik. Karena kan kebanyakan masih masyarakat ini pakai kabel masih serabut-serabut itu,” jelasnya.

Ia mengatakan, kejadian seperti ini bukan hal yang baru lagi.

“Sudah tiga kali ini kejadian. Tapi Alhamdulillah (yang dulu) bisa diredamkan, sekarang ini yang paling parah,” tuturnya.

Kampung Adat di Sukabumi Habis Terbakar

Sebelumnya, api menghanguskan Kampung Adat Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (25/7/2026).

Baca juga: Kampung Adat di Sukabumi Ludes Terbakar, Gabah Berusia 10 Tahun Jadi Abu

Ketua Adat (Sesepuh) Kasepuhan Ciptamulya, Abah E Suhendri Wijaya alias Abah Hendrik mengatakan, kebakaran ini dipicu oleh korsleting listrik di kamar mandi umum.

"Rumah warga itu 51 rumah dan 49 Leuit, sehingga padi yang di dalam Leuit itu banyak yang angus. Untuk keseluruhan mungkin tidak bisa dihitung karena puluhan ribu," ungkap Abah Hendrik kepada Tribunjabar.id, Minggu (26/7/2026).

SELAMAT - Padi yang selamat dari kebakaran hebat di Kasepuhan Cipta Mulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Sabtu 25 Juli 2026. Kebakaran di Kasepuhan Cipta Mulya Sukabumi hanguskan ratusan ribu pocong padi berusia puluhan tahun di 49 Leuit. Padi ini dipercaya jadi obat diabetes.
SELAMAT - Padi yang selamat dari kebakaran hebat di Kasepuhan Cipta Mulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Sabtu 25 Juli 2026. Kebakaran di Kasepuhan Cipta Mulya Sukabumi hanguskan ratusan ribu pocong padi berusia puluhan tahun di 49 Leuit. Padi ini dipercaya jadi obat diabetes. (TribunJabar.id/M RIZAL JALALUDDIN)

Ia menuturkan, ada gabah yang sudah berusia 10 tahun di dalam Leuit yang ikut hangus terbakar.

Diketahui, padi yang diikat dalam ikatan tradisional (pocong padi) dan disimpan di Leuit bisa bertahan belasan hingga puluhan tahun tanpa merusak kualitas berasnya.

Nahasnya, dalam kebakaran tersebut, padi yang sudah berusia puluhan tahun juga ikut terbakar.

"Tapi yang umur padi itu bisa puluhan tahun, soalnya panennya itu satu tahun sekali di huma dan di sawah itu khusus untuk konsumsi. Itu (jamin kebutuhan pangan) sampai puluhan tahun, dan itu yang udah lama padinya ada istilah untuk obat gula, diabetes, itu ada manfaatnya," kata Abah Hendrik.

Ia menuturkan, satu Leuit bisa menampung lima hingga tujuh ribu pocong padi. Satu pocong padi diperkirakan berobot dua kilogram.

"Abah di sini biasanya tidak dikilo dan perton atau berapa, paling iketan, pocong bahasanya, satu Leuit kadang ada yang 5 ribu, ada yang 7 ribu pocong di dalam Leuitnya ini, tergantung ukuran bangunan Leuitnya. Paling 2 kiloan (satu pocong), perkiraan (1-2 ton untuk 1 Leuit)," ucapnya.

Meski padi yang disimpan hampir semuanya ludes terbakar, Abah Hendrik memastikan warganya tak akan kelaparan.

Baca juga: Mengais Sisa Kain Tenun di Desa Adat Sade Lombok, Rumah Warisan Lelulur Luluh Lantak Dilalap Api

Pihaknya mendapatkan bantuan dari banyak pihak terkait kebutuhan pokok hingga sanitasi.

"Alhamdulillah mungkin dari dinas terkait dari Pemerintahan, sekalipun Gubernur Jawa Barat, dan instansi Kabupaten seperti Disbudpora dan dinas lainnya itu bisa ngebantu untuk sembako dan kebutuhan korban kebakaran ini, alhamdulillah sudah ada poskonya diatur sama panitia, alhamdulillah sudah ada bantuan-bantuan," urai Abah Hendrik.

BPBD Sukabumi mencatat ada 51 unit rumah rusak, 1 masjid, 1 bangunan PAUD, 49 Leuit, 2 Lisung, 6 warung, dan 2 MCK yang ludes terbakar.

Dari peristiwa kebakaran ini menyebabkan 318 jiwa terdampak dan 102 kepala keluarga (KK) menunggunsi.

(Tribunnews.com, Muhammad Renald Shiftanto)(TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika)(TribunJabar.id, M Rizal Jalaludin)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.