Dinamika Muktamar ke-35 NU, Pengasuh Ponpes AIS Jombang Ingatkan Pentingnya Menjaga Akhlak Nahdliyin
Dyan Rekohadi August 25, 2026 04:32 PM

 

SURYA.CO.ID, JOMBANG - Kondisi politik organisasi menjelang perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, kian hangat dan menyedot perhatian kalangan pesantren.

Peta persaingan menuju kursi Ketua Umum PBNU itu rupanya memunculkan riak yang dinilai mulai mengikis nilai-nilai dasar organisasi.

Sikap saling senggol antar calon maupun pendukung itu pun memantik keprihatinan mendalam dari para tokoh agama di Kota Santri.

Baca juga: Jadwal Terbaru Ziarah Makam Gus Dur Selama Muktamar NU ke-35: Buka 24 Jam

 

Sorot Gesekan Jelang Muktamar ke-35 NU

Pengasuh Pondok Pesantren Al Aqobah International School (AIS) Jombang, KH A. Junaidi Hidayat, menyayangkan aksi saling serang yang mewarnai bursa calon pimpinan PBNU itu.

Meski silang pendapat merupakan wawasan yang lazim dalam berorganisasi, ia menekankan agar tata cara penyampaiannya tidak menanggalkan etika serta kebudayaan khas warga Nahdliyin.

"Ya, kita melihat dinamika yang terjadi sebelum Muktamar ini. Ada sesuatu yang bagi kita sebagai santri maupun sebagai pemangku pondok pesantren, banyak hal yang membuat kita prihatin," ucap KH Junaidi kepada SURYA.CO.ID, Selasa (25/8/2026).

Menurutnya, panggung Muktamar NU semestinya dioptimalkan sebagai sarana pertautan nilai dan penegakan karakter murni yang telah ditanamkan oleh para pendiri organisasi.

"Saya kira ini tentu sudah keluar dari tradisi dan kultur yang dikembangkan oleh para muassis terkait dengan proses Muktamar ini," ujarnya.

Maka dari itu, dirinya meminta seluruh elemen yang terlibat untuk mengendalikan diri demi menyajikan pendidikan berorganisasi yang sehat bagi masyarakat luas.

"Seharusnya Muktamar ini harus mendidik. Muktamar ini harus membangun satu suasana yang betul-betul menggambarkan akhlak Nahdlatul Ulama. Nah, kita melihat sudah keluar dari akhlak ini," tegasnya.

Baca juga: Muktamar NU ke-35 di Tambakberas Jadi Pintu Masuk Kenalkan Wisata Wonosalam Jombang

 

Ukur Kapasitas Pemimpin Secara Menyeluruh

Di samping menyoroti etika berorganisasi, KH Junaidi turut memberikan pandangannya mengenai penilaian kelayakan para calon pimpinan PBNU, termasuk Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin.

Ia berpandangan bahwa kriteria nahkoda NU tidak boleh sebatas ditakar dari kedalaman ilmu agama semata.

Mengingat besarnya cakupan organisasi, figur pemimpin PBNU idealnya menguasai berbagai instrumen pendukung lainnya secara komprehensif.

"Karena seorang pemimpin di Nahdlatul Ulama itu sebagai sebuah organisasi besar, maka tidak hanya dibutuhkan kapasitas keilmuan di bidang agama, tetapi juga harus punya kemampuan secara utuh di bidang manajerial, kemampuan jaringan, kemampuan membangun kekuatan NU secara ekonomi, pendidikan, maupun pergerakannya," jelasnya.

Langkah ini dinilai krusial mengingat tantangan zaman di era abad kedua NU bakal makin berat dan membutuhkan tata kelola yang adaptif.

Mengenai sosok Gus Kikin, KH Junaidi menilai figur tersebut mengantongi kualifikasi beragam yang sangat berguna bagi pengembangan Nahdlatul Ulama.

"Saya melihat Gus Kikin punya kemampuan yang lebih utuh. Beliau juga seorang pengusaha, punya kekuatan di bidang jaringan untuk bagaimana membangun. Di media juga beliau pernah punya media televisi," ungkapnya.

Atas dasar itu, dirinya mengimbau agar publik mampu menakar kualitas seorang tokoh lewat kacamata yang luas.

"Artinya, melihat ketokohan seseorang jangan dilihat dari satu aspek, tetapi secara utuh. Karena NU membutuhkan kekuatan itu," katanya.

Baca juga: PW ISNU Jatim Siapkan Beragam Kegiatan Sambut Muktamar NU di Jombang

 

Dorong Konsolidasi Menuai Kedigdayaan

Harapan besar dipancarkan KH Junaidi agar perhelatan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas terbebas dari jebakan persaingan pragmatis semata.

Dirinya mendesak agar forum tertinggi itu difokuskan untuk mempererat simpul persaudaraan sekaligus merumuskan strategi besar bagi masa depan NU.

Penguatan di sektor pendidikan, kemandirian ekonomi, manajemen internal, jaringan global, hingga pergerakan sosial menjadi fokus penting yang harus dimatangkan.

Penguatan di berbagai lini itu diyakini bakal menjadi modal utama NU dalam mengarungi dinamika zaman yang makin kompleks.

"Sehingga NU betul-betul akan siap untuk bisa masuk pada pertarungan abad kedua dengan kedigdayaan dalam semua aspek, secara ekonomi, manajerial, jaringan internasional, pendidikan, dan sebagainya," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.