Jakarta (ANTARA) - Presiden Prabowo Subianto menyatakan di tengah momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, pemerintah tetap bekerja dalam mengejar kemajuan dan kesejahteraan rakyat.
Hal itu disampaikan Prabowo saat menghadiri peluncuran dan peletakan batu pertama pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GWp di Jembrana, Bali, Selasa.
"Karena ini adalah Maulid Nabi, kelahiran Rasulullah kita, saya ucapkan selamat kepada seluruh umat Islam di seluruh dunia, juga di mana pun saudara berada," kata Prabowo.
'Di hari besar ini kita tetap bekerja karena kita juga menyadari bahwa kewajiban kita sebagai insan yang bertakwa, selain berdoa, selain kita selalu menjunjung tinggi junjungan kita dan agama kita, kita juga harus berkarya," imbuhnya.
Menurutnya, peringatan Maulid Nabi tidak hanya dimaknai dengan doa dan penghormatan terhadap Rasulullah SAW, tetapi juga harus diwujudkan melalui karya dan kerja keras untuk kemajuan bangsa.
"Kita harus bekerja keras untuk mengejar kemajuan nyata untuk rakyat kita," ujarnya.
Prabowo mengatakan pembangunan PLTS 100 GWp tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk menghadirkan kemajuan nyata bagi masyarakat.
Presiden menilai hari tersebut tetap menjadi momentum penting meskipun bertepatan dengan hari libur dan peringatan Maulid Nabi.
"Hari ini hari penting, walaupun libur, walaupun Maulid Nabi, kita berjuang untuk rakyat kita," kata Prabowo.
Dalam kesempatan itu, Kepala Negara juga menyinggung ritme kerja jajaran Kabinet Merah Putih yang menurutnya hampir tidak mengenal tanggal merah.
"Memang di Kabinet Merah Putih mungkin hampir tidak ada tanggal merah, dan itu risiko, risiko pengabdian," katanya.
Prabowo kemudian menegaskan bahwa menjadi bagian dari pemerintahan merupakan bentuk pengabdian sehingga membutuhkan kesiapan untuk bekerja keras.
"Yang tidak sanggup, boleh minggir. Banyak yang ingin menggantikan saudara," ujar Prabowo.
Diketahui, peluncuran PLTS 100 Gigawatt peak (GWp) di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa Bali, Gilimanuk, merupakan bagian dari Program Kerja Prioritas Nasional Klaster Kemandirian Energi dan Air, yang diarahkan untuk memperkuat kemandirian dan ketahanan energi nasional serta mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
"Presiden telah menginstruksikan agar pembangunan 100 GWp PLTS dipercepat dan diselesaikan pada 2029, dengan efisiensi biaya listrik diperkirakan mencapai Rp73,9 triliun per tahun. Pada 2026, pemerintah menargetkan pembangunan 30 GWp PLTS sekaligus penghentian 13 GW pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD)," kata Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam keterangannya, Selasa.
Langkah itu diambil mengingat Indonesia memiliki potensi energi surya sekitar 3.294 GWp, sementara kapasitas terpasang hingga April 2026 baru mencapai sekitar 1,5 GWp.
Program itu akan dibangun bertahap, yakni tahap I sebanyak 17 GWp, tahap II 18 GWp, dan tahap III 30 GWp.





