TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BULIAN - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mengganggu aktivitas masyarakat di Kabupaten Batanghari, Selasa (25/8/2026).
Meski ketebalannya fluktuatif, paparan kabut asap dirasakan warga yang beraktivitas di luar rumah. Kondisi tersebut terutama dikeluhkan pengendara sepeda motor yang harus melintas di tengah kabut asap.
Berdasarkan data resmi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang dirilis UPTD Laboratorium Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Batanghari per 24 Agustus 2026, kualitas udara di Muara Bulian mencatat angka 214 untuk parameter PM2,5.
Angka tersebut menempatkan kualitas udara dalam kategori sangat tidak sehat.
Berdasarkan pantauan TribunJambi.com di lapangan, kabut asap tipis masih terlihat melingkupi sejumlah titik di Muara Bulian, seperti sepanjang jalan lintas depan Kantor Bupati Batanghari, kawasan Alun-Alun, pusat keramaian di BBC, dan sejumlah lokasi lainnya.
Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat yang beraktivitas di luar rumah, mulai dari warga yang berinteraksi dalam kegiatan jual beli hingga pengendara, mengenakan masker maupun penutup wajah.
Keluhan terutama dirasakan oleh pengendara sepeda motor yang melintas. Rasa perih pada mata membuat pengguna jalan harus lebih waspada saat berkendara.
Salah seorang pengendara sepeda motor di Batanghari, Supono, menuturkan dampak asap terasa cukup mengganggu saat berkendara dari pagi hingga sore hari.
"Dari pagi sampai sore kabut ini sangat tampak dan terasa sekali. Mata perih dan dada sesak kalau berkendara tidak pakai masker. Kecepatan kendaraan terpaksa kami kurangi supaya tidak terjadi kecelakaan," ungkapnya.
Melihat kondisi udara yang belum sepenuhnya pulih, ia berharap masyarakat semakin sadar untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Ia juga meminta pihak berwenang menindak tegas para pelaku pembakaran hutan dan lahan.
Baca juga: Sejarah Kabut Asap Karhutla di Jambi, Kebakaran 1997-2026 yang Jarang Diketahui Gen Z