BMKG Tarempa Prediksi Anambas Belum Turun Hujan Hingga Sepekan Kedepan
Septyan Mulia Rohman August 25, 2026 07:07 PM



TRIBUNBATAM.id, ANAMBAS -
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarempa memprediksi Kabupaten Kepulauan Anambas belum akan diguyur hujan dalam sepekan ke depan.  

Kondisi ini membuat cuaca panas dan kering diperkirakan masih akan berlangsung di tengah musim kemarau. 

Prakirawan BMKG Tarempa, Raja Rekhsa Naumi, mengatakan berdasarkan prakiraan cuaca terbaru, kondisi atmosfer di wilayah Anambas belum mendukung terbentuknya hujan. 

"Selama sepekan ke depan, cuaca di Kabupaten Kepulauan Anambas diprakirakan didominasi cerah berawan hingga berawan. Belum ada prakiraan potensi hujan," kata Raja Rekhsa Naumi, Selasa, (25/8/2026). 

Menurutnya, salah satu faktor yang menyebabkan hujan belum berpotensi terjadi adalah kondisi kelembapan udara di lapisan atas yang relatif rendah.  

Kondisi tersebut membuat pembentukan awan hujan di wilayah Anambas menjadi kurang mendukung. 

Situasi ini juga memperpanjang periode cuaca panas yang dirasakan masyarakat.

Terlebih, hujan dengan intensitas berarti belum turun dalam waktu cukup lama. 

Bahkan, berdasarkan kondisi yang dirasakan masyarakat, sejumlah wilayah di Anambas sudah sekitar satu bulan tidak mengalami hujan.  

Hujan yang turun dalam periode tersebut, jika ada, hanya bersifat sangat singkat dan belum cukup untuk membasahi wilayah secara merata. 

Cuaca yang terus kering membuat kebutuhan terhadap air bersih menjadi perhatian.

Masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak, terutama untuk kebutuhan sehari-hari. 

"Untuk kondisi seperti ini, masyarakat kami imbau melakukan penghematan penggunaan air dan tetap memantau perkembangan informasi cuaca dari BMKG," ujarnya. 

Selain kondisi daratan yang kering, BMKG juga memantau kondisi angin di wilayah perairan Anambas.

Saat ini angin dominan bertiup dari arah selatan dengan kecepatan sekitar 6 hingga 13 knot. 

Sementara itu, tinggi gelombang di perairan Anambas dalam tiga hari ke depan diprakirakan masih berada pada kategori rendah, yakni sekitar 0,5 hingga 1,25 meter. 

Dengan kondisi tersebut, aktivitas melaut pada umumnya masih dapat dilakukan.

Namun, nelayan dan pengguna jasa transportasi laut tetap diminta tidak mengabaikan perkembangan cuaca. 

Sebab, terdapat potensi peningkatan kecepatan angin yang dapat menyebabkan ketinggian gelombang ikut meningkat.

Kondisi laut dapat berubah sehingga masyarakat yang beraktivitas di perairan perlu tetap waspada. 

"Kami mengimbau nelayan dan pengguna jasa transportasi laut untuk selalu memperbarui informasi cuaca dan gelombang dari BMKG serta memastikan memperoleh informasi dan perizinan berlayar dari instansi terkait, seperti Syahbandar," katanya. 

Di sisi lain, kondisi kemarau panjang juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).  

BMKG meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran sampah maupun membuka lahan dengan menggunakan api. 

Pembakaran dalam kondisi cuaca yang kering dan panas berpotensi membuat api lebih mudah menyebar.  

Karena itu, masyarakat diminta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, khususnya di area yang banyak terdapat semak dan vegetasi kering. 

BMKG juga mengingatkan adanya potensi penurunan jarak pandang hingga sekitar 4 kilometer akibat asap kiriman.  

Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker serta terus memantau informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG. 

"Kami mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG dan tetap waspada terhadap potensi perubahan cuaca yang dapat terjadi secara tiba-tiba," ujar Raja. (TribunBatam.id/Ihsan Imaduddin)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.