Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan
TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Perjuangan Tenaga Kependidikan (Tendik) Kepahiang dengan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu bernama Ria Herlina (38) bekerja sampingan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ria saat ini bekerja sebagai tenaga teknis di SD Negeri 02 Merigi dengan statusnya menjadi PPPK Paruh Waktu dengan penghasilan sekitar Rp1 juta per bulan sejak Januari 2026.
Sementara disambangi TribunBengkulu.com kerumahnya tampak memang kondisi rumahnya tergolong mewah bekas sepeninggalan suaminya.
Namun, penghasilannya masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang menjadi tanggungannya.
"Saat ini bekerja sebagai tenaga teknis di SD 02 Merigi Kepahiang yang statusnya masih PPPK paruh waktu sejak Januari 2026," ucap Ria pada Selasa (25/8/2026).
Perjalanan Ria sebagai tenaga kependidikan cukup panjang. Ia pernah menjadi tenaga honorer di SMP Merigi sejak 2006 hingga 2017.
Setelah itu, ia sempat berpindah ke SD 02 Merigi selama dua tahun, kemudian ke SMP 1 Ujan Mas selama dua tahun. Sejak 2020, Ria kembali bertugas di SD 02 Merigi hingga sekarang.
Selama menjadi tenaga honorer, penghasilannya bahkan pernah hanya Rp200 ribu per bulan. Kemudian meningkat menjadi Rp600 ribu hingga Rp800 ribu.
Saat ini, Ria yang telah berstatus PPPK Paruh Waktu, penghasilannya berada di kisaran Rp1 juta per bulan.
"Penghasilan kita itu sejujurnya tidak cukup dengan anak dua orang, untuk sehari-hari, belanja sekolah dan kebutuhan sekolah jelas tidak cukup," ungkapnya.
Ria merupakan seorang janda yang harus membesarkan dua anak laki-lakinya yang masih duduk di bangku SD dan SMA.
Dengan latar belakang pendidikan terakhir SMA, Ria mengaku pernah memiliki keinginan untuk melanjutkan kuliah. Namun, kondisi keluarga membuatnya mengurungkan niat tersebut.
"Status saya janda dengan tamatan SMA karena saat ingin lanjut kuliah saya memikirkan kondisi orang tua saya yang juga janda. Sementara saat ini saya menghidupi kedua anak laki-laki saya yang masih duduk di bangku SD dan SMA," ungkap Ria.
Keterbatasan ekonomi bahkan membuat sejumlah kebutuhan sekolah anaknya belum dapat dipenuhi.
"Ini saja pakaian sekolah anak saya belum dibayarkan semua karena memang uangnya belum ada," beber Ria.
Untuk menambah penghasilan, ia bekerja sampingan dengan menjadi pengemudi ojek, berjualan sayuran keliling, hingga menerima jasa titip barang untuk sesama guru.
"Jadi aku cari kerja sampingan sembari ngojek, jual sayuran keliling, dan mengambil pesanan jastip kawan-kawan guru di SD 02 Kepahiang sama SMP 1 Ujan Mas," katanya.
Menurutnya, penghasilan tambahan tersebut memang belum besar. Namun, setidaknya dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.
"Dengan kerja sampingan itu insyaallah sedikit terbantukan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari," ungkap Ria.
Di tengah perjuangannya memenuhi kebutuhan keluarga terasebut, Ria menyimpan harapan agar status PPPK Paruh Waktu yang kini dijalaninya dapat berubah menjadi PPPK penuh waktu.
"Harapannya kalau bisa PPPK paruh waktu ini bisa jadi penuh waktu biar ke depannya bisa mencukupi kebutuhan keluarga kami," harapnya.
Bagi Ria, menjadi tenaga kependidikan memiliki sisi suka dan duka. Ia menikmati kesempatan untuk berinteraksi dengan rekan kerja sekaligus anak-anak di lingkungan sekolah.
Namun, tekanan pekerjaan juga menjadi tantangan tersendiri ketika kondisi pribadi dan ekonomi tidak selalu dipahami.
"Sukanya bisa bergaul dengan teman-teman dan berkumpul dengan anak-anak, kalau dukanya kalau ketemu sama atasan yang tidak mengerti kondisi kami dengan tekanan besar," pungkas Ria.