TRIBUN-MEDAN.com – Rumah tangga pasutri berakhir berantakan usai sang istri mempekerjakan seorang asisten rumah tangga (ART) untuk merawat ibu mertuanya yang mengalami patah kaki.
Tak sampai dua bulan setelah perempuan tersebut bekerja di rumahnya, sang istri mengetahui bahwa ART itu sedang hamil dan mendapati adanya hubungan antara kehamilan tersebut dengan suaminya.
Dikutip dari Eva, Selasa (25/8/2026), pasangan itu diketahui telah menjalani pernikahan selama 10 tahun. Selama berumah tangga, kehidupan mereka disebut berjalan cukup tenang.
Namun, pasangan tersebut belum juga dikaruniai anak, meski kehadiran buah hati menjadi salah satu hal yang paling mereka nantikan.
Setelah bertahun-tahun menjalani pengobatan, pasangan itu akhirnya mengetahui bahwa masalah kesuburan berasal dari pihak suami.
Kondisi tersebut membuat perjalanan rumah tangga mereka tidak mudah. Sang istri mengaku pernah merasa sedih dan kecewa, bahkan sempat berpikir bahwa kehidupan mereka akan terus berjalan tanpa kehadiran seorang anak hingga usia tua.
Meski demikian, ia tetap mencintai suaminya dan tidak pernah membayangkan bahwa rumah tangganya suatu hari akan berada di ujung perceraian karena kehamilan seorang perempuan lain.
Beberapa bulan sebelum persoalan tersebut mencuat, ibu mertuanya yang berusia 70 tahun mengalami kecelakaan hingga menyebabkan kakinya patah. Karena sang istri dan suaminya sama-sama memiliki kesibukan, mereka membutuhkan bantuan untuk merawat perempuan lanjut usia tersebut selama masa pemulihan.
Sang istri kemudian memutuskan mempekerjakan seorang ART perempuan berusia sekitar 40 tahun. Perempuan tersebut disebut cukup cantik, tetapi belum menikah dan belum memiliki anak.
Sejak awal bekerja, ART itu dinilai memiliki sikap lembut, menyenangkan, dan mampu merawat orang lain dengan baik. Ibu mertua sang istri juga disebut menyukai keberadaan ART tersebut di rumah.
Sang istri bahkan merasa iba terhadap ART itu karena menganggap perempuan tersebut memiliki kehidupan yang kurang beruntung. Perasaan tersebut membuatnya memperlakukan ART itu dengan baik selama bekerja di rumah.
Namun, sekitar satu setengah bulan setelah ART tersebut mulai bekerja, sang istri mulai melihat sejumlah perilaku yang menurutnya cukup berbeda.
Pada awalnya, ia tidak terlalu memikirkan perubahan tersebut. Akan tetapi, setelah memperhatikannya lebih jauh, ia mulai merasa tidak tenang.
Karena khawatir ART tersebut mengalami masalah kesehatan, sang istri kemudian membawanya untuk menjalani pemeriksaan. Hasil pemeriksaan itu justru membuatnya terkejut.
ART tersebut diketahui sedang hamil.
Kabar itu membuat sang istri hampir tidak percaya. Pasalnya, perempuan tersebut belum menikah dan baru bekerja di rumahnya selama kurang dari dua bulan untuk merawat ibu mertuanya.
Persoalan kemudian menjadi semakin rumit setelah sang istri mengetahui bahwa kehamilan tersebut berkaitan dengan suaminya.
Berdasarkan cerita yang disampaikan, kejadian itu bermula ketika sang istri harus pergi melakukan perjalanan dinas dan tidak dapat pulang ke rumah. Pada malam yang sama, suaminya diketahui menghadiri jamuan bersama rekan bisnis. Dalam acara tersebut, sang suami mengonsumsi alkohol hingga mabuk.
Dalam kondisi tidak sadar sepenuhnya, sang suami disebut keliru mengira ART tersebut sebagai istrinya. Kejadian pada malam itu kemudian disebut menjadi penyebab kehamilan ART tersebut.
Bagi sang istri, satu malam tersebut membuat kehidupan rumah tangganya yang telah dibangun selama 10 tahun berubah secara drastis.
Setelah mengetahui kehamilan tersebut, ibu mertua justru disebut sangat gembira. Setelah selama satu dekade menantikan kehadiran cucu, kabar mengenai kehamilan itu membuatnya merasa bahagia.
Di sisi lain, suami sang perempuan berulang kali meminta maaf. Ia mengaku tidak sengaja melakukan perbuatan tersebut dan mengatakan bahwa kejadian itu terjadi karena dirinya terlalu banyak mengonsumsi alkohol.
Namun, permintaan maaf tersebut tidak serta-merta membuat persoalan selesai. Sang suami justru tidak menginginkan ART tersebut menggugurkan kandungannya.
Sang istri mengaku memahami bahwa bayi yang berada dalam kandungan tersebut tidak memiliki kesalahan apa pun. Meski demikian, ia juga merasa tidak mampu menganggap kejadian tersebut sebagai sesuatu yang tidak pernah terjadi.
Selama 10 tahun pernikahan, pasangan tersebut telah melewati berbagai upaya pengobatan terkait persoalan kesuburan. Mereka juga menjalani masa penuh harapan dan kekecewaan karena belum memiliki anak.
Situasi itu membuat sang istri semakin sulit menerima kenyataan ketika perempuan lain justru hamil setelah satu malam bersama suaminya.
Sekitar dua bulan setelah mempekerjakan ART tersebut, sang istri akhirnya mengajukan perceraian. Namun, suaminya menolak keputusan tersebut.
Sang suami mengatakan bahwa dirinya masih mencintai istrinya dan tidak memiliki perasaan terhadap ART tersebut. Ia juga mengakui bahwa dirinya telah melakukan kesalahan dan ingin mempertahankan pernikahan yang telah mereka jalani selama satu dekade.
Di tengah persoalan tersebut, muncul keraguan lain. Sang suami ternyata tidak sepenuhnya yakin bahwa bayi yang dikandung ART tersebut merupakan anak biologisnya.
Ia mengaku bingung karena kehamilan tersebut terjadi setelah satu kali kejadian. Keraguan itu semakin besar karena sebelumnya dirinya pernah menjalani pengobatan akibat masalah kesuburan.
Sang istri kini berada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, ia masih mencintai suaminya dan setelah menjalani kehidupan bersama selama bertahun-tahun, masih mempertimbangkan untuk memberikan kesempatan.
Di sisi lain, ia merasa membutuhkan kepastian sebelum mengambil keputusan mengenai masa depan rumah tangganya.
Ia ingin mengetahui apakah bayi yang dikandung ART tersebut benar-benar merupakan anak dari suaminya. Menurutnya, kepastian mengenai hal tersebut akan menjadi dasar penting dalam menentukan langkah berikutnya.
Jika bayi tersebut terbukti merupakan anak suaminya, sang istri menyadari bahwa dirinya harus menghadapi kenyataan yang sangat menyakitkan dan menentukan pilihan mengenai masa depannya.
Sementara itu, apabila bayi tersebut ternyata bukan anak suaminya, ia menilai kemungkinan masa depan persoalan tersebut dapat berbeda.
Karena itu, sebelum menentukan keputusan akhir mengenai pernikahannya, sang istri mencari cara untuk memperoleh kepastian mengenai hubungan biologis antara suaminya dan bayi yang masih berada dalam kandungan tersebut.
Ia berharap jawaban yang jelas dapat diperoleh sedini mungkin dan melalui cara yang aman, sehingga keputusan mengenai masa depan pernikahan mereka dapat diambil berdasarkan fakta.
(cr31/tribun-medan.com)