TRIBUN-BALI.COM, BADUNG - Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa resmi melantik Ida Ayu Yutri Indahgustari menjadi Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diskerpus) Badung beberapa hari lalu.
Kini Diskerpus diminta aktif bergerak di tengah gempuran digital.
Hal itu dilakukan agar Diskerpus tidak mati suri.
Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa pun meminta Diskerpus mempercepat digitalisasi kearsipan sekaligus menggenjot budaya literasi masyarakat.
Baca juga: Pembudidaya Lokal Badung Kebagian Pasar, Hasil Ikan Diserap untuk 6.200 Paket Gemarikan
Bahkan, digitalisasi arsip yang terus digembar - gemborkan tidak boleh hanya sebatas wacana.
"Tantangan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan cukup berat di tengah perkembangan teknologi. Karena itu, akselerasi digitalisasi kearsipan harus segera dilakukan dengan melibatkan lintas perangkat daerah, termasuk Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo)," ujar Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa Selasa 25 Agustus 2026.
Menurutnya proses digitalisasi sampai hanya sebatas wacana.
"Mau tidak mau memang harus agak sedikit dipaksa. Kalau tidak seperti itu, kita tidak akan pernah keluar dari zona nyaman," tegas orang nomor satu di Badung itu.
Baca juga: Tak Beri Ruang Aksi Begal dan Geng Motor, Tim Jatanras Polda Bali Sisir Jalur Rawan Denpasar-Badung
Selain digitalisasi arsip, mantan Sekda Badung itu meminta kepala dinas yang baru membangun budaya literasi masyarakat.
Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) tidak hanya dilakukan melalui pembangunan infrastruktur, tetapi juga dengan membangun masyarakat yang gemar membaca dan memiliki daya saing.
"Kita harus membangun budaya literasi. Ini yang paling penting," ujarnya
Pembangunan SDM unggul menjadi bagian penting dari berbagai program Pemkab Badung.
SDM yang berkualitas, akan berpengaruh terhadap kemampuan masyarakat meningkatkan kesejahteraan, mengurangi kemiskinan hingga memperkuat kualitas demokrasi.
"Jadi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan perlu juga berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) serta perangkat daerah lainnya, yang berkaitan dengan program maupun literasi itu," jelasnya.
Nantinya setiap pembangunan taman kreatif maupun taman kota diharapkan tidak hanya menyediakan fasilitas olahraga, tetapi juga dilengkapi ruang literasi.
Bahkan, dia mendorong agar fasilitas tersebut dilengkapi tempat penitipan anak atau daycare.
"Fasilitas ini nantinya akan dapat membantu masyarakat, khususnya para orangtua yang bekerja, termasuk mereka yang bekerja di sektor pariwisata," bebernya.
Adi Arnawa juga menginginkan konsep taman literasi dikembangkan sebagai ruang belajar terbuka (outdoor).
"Anak-anak akan mendapatkan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan apabila tersedia ruang terbuka hijau yang dipadukan dengan fasilitas edukasi," kata Bupati asal Desa Pecatu, Kuta Selatan ini.
Karena itu, dia meminta Disekerpus bersama DLHK menyusun program lintas sektor (cross-cutting program) sehingga pembangunan taman kota memiliki unsur edukasi dan literasi.
"DLHK nanti harus punya standar dalam membangun taman kota. Tidak hanya ujug-ujug ada tempat jogging track, tetapi ada aspek edukasi yang bisa kita berikan di tempat itu," imbuhnya. (*)