TRIBUNBANYUMAS.COM, TORONTO — "Sikap di meja perundingan yang menganggap Kanada sebagai anak perusahaan AS bukanlah sesuatu yang akan kami terima," tegas Perdana Menteri Kanada Mark Carney, merespons tuntutan agresif Washington yang memicu kebuntuan negosiasi dagang AS Kanada gagal.
Pernyataan menohok tersebut menandai keputusan Pemerintah Kanada untuk menyiapkan paket tarif balasan Kanada terhadap Amerika Serikat (AS). Langkah ini diambil setelah perundingan bilateral menemui jalan buntu akibat ancaman Presiden AS Donald Trump yang hendak mengenakan tarif impor baru sebesar 50 persen pada produk kendaraan, suku cadang mobil, serta baja asal Kanada.
PM Carney mengungkapkan bahwa Washington berusaha memeras kedaulatan negaranya demi melumpuhkan sektor-sektor vital. "Selama negosiasi, kami mengetahui bahwa AS ingin menghancurkan industri-industri utama kami, termasuk otomotif, baja, dan aluminium. Itulah salah satu alasan utama kami menolak. Itu adalah kesepakatan yang buruk," ujar Carney.
Ancaman Putus Pasokan Energi dan Mineral Kritis
Gagalnya perundingan ini menyulut eskalasi perang dagang AS-Kanada ke tingkat yang lebih mengkhawatirkan. Perdana Menteri Provinsi Ontario, Doug Ford, menegaskan bahwa seluruh opsi pembalasan kini berada di atas meja, termasuk penghentian ekspor listrik Ontario dan pasokan mineral penting ke Negeri Paman Sam.
Baca juga: Tanggapi Ancaman Demo, Asisten Sekda Jateng: Masih By Process Semua
Gertakan Ford berpotensi memberikan dampak sistemik fatal. Pasalnya, Ontario merupakan penyuplai utama daya listrik bagi 1,5 juta rumah dan fasilitas bisnis di negara bagian perbatasan AS seperti Michigan, Minnesota, dan New York, sekaligus pemegang cadangan mineral kritis yang menopang industri pertahanan Pentagon.
"Dia (Trump) ingin menguras habis setiap sektor dan membawanya ke AS. Dia pikir dia siapa? Kita semua terlibat dan siap menghadapi perang ekonomi," tegas Ford seraya menyoroti soliditas politik domestik Kanada.
Industri Otomotif Terancam, Rekam Jejak 'Penderitaan Ekonomi' AS
Titik krusial yang merusak negosiasi tidak hanya terbatas pada sektor manufaktur, tetapi juga tuntutan Washington yang ingin membatasi kedaulatan ekonomi Kanada dalam menjalin kerja sama perdagangan dengan negara lain. Jika tarif 50 persen dijatuhkan, keberlangsungan industri otomotif Kanada—termasuk fasilitas perakitan raksasa milik Ford, General Motors, dan Stellantis di Ontario—berada dalam ancaman serius.
Kendati demikian, Kanada telah membuktikan kemampuannya dalam memberikan tekanan ekonomi nyata bagi AS. Akses penjualan produk alkohol AS yang diboikot di 11 dari 13 provinsi Kanada terbukti memukul telak para produsen AS. Data menunjukkan ekspor anggur AS ke Kanada anjlok hingga 78 persen dengan nilai kerugian mencapai 357 juta dollar AS.
Kini, dengan skema tarif balasan Kanada yang terarah dan potensi penutupan keran energi, Ottawa siap melayani gertakan Washington demi memproteksi ketahanan bisnis dan tenaga kerja di dalam negeri. (a naufal/kps)