Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Agustinus Tanggur
POS-KUPANG.COM, ATAMBUA - Permintaan air bersih melalui mobil tangki di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), meningkat selama musim kemarau.
Kondisi ini dipicu menurunnya debit air di sejumlah sumber, sementara kebutuhan masyarakat terhadap air bersih terus bertambah.
Salah seorang sopir mobil tangki air, Lius, mengatakan peningkatan permintaan mulai dirasakan sejak musim kemarau berlangsung. Dalam sehari, pesanan air yang diterima dapat mencapai belasan rit.
“Saat musim kemarau begini, biasanya pemesanan air bersih sangat meningkat. Dalam sehari bisa sampai belasan rit,” ujar Lius saat ditemui, Selasa (25/8/2026).
Baca juga: Tambak Ikan Kolam Susuk di Belu Potensi Sumbang PAD, Kendala Pendangkalan dan Air Tawar
Ia mengatakan tingginya permintaan belum seluruhnya dapat dilayani dalam satu hari. Pengantaran air yang berlangsung sejak pagi hingga malam membuat sebagian pesanan harus ditunda.
“Kalau sudah terlalu malam, tidak semua pesanan bisa diantar,” katanya.
Selain tingginya permintaan, Lius menyebut pengadaan BBM juga menjadi kendala dalam operasional mobil tangki. Antrean panjang di SPBU membuat proses pengisian bahan bakar membutuhkan waktu lebih lama.
“BBM juga susah didapat karena antreannya panjang. Kadang waktu banyak terbuang untuk menunggu isi BBM,” ungkapnya.
Baca juga: Bupati Belu Ingatkan Warga yang Ingin Kerja ke Luar Negeri Hindari Jalur Nonprosedural
Kondisi sumber air juga mulai terdampak musim kemarau. Debit air di sejumlah titik mengalami penurunan sehingga pasokan air yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat semakin terbatas.
“Sekarang di beberapa titik debit air sudah mulai turun. Jadi kami juga harus menyesuaikan dengan kondisi sumber air yang ada,” jelas Lius.
Untuk biaya pengantaran, harga air bersih menggunakan mobil tangki disesuaikan dengan jarak dari sumber air menuju lokasi pelanggan.
Sedangkan wilayah yang relatif dekat, tarif sekitar Rp100 ribu per tangki, sedangkan pengiriman ke lokasi yang lebih jauh dapat mencapai Rp150 ribu per tangki.
“Kalau dekat dengan sumber air sekitar Rp100 ribu. Kalau jaraknya lebih jauh, bisa sampai Rp150 ribu per tangki,” katanya.
Menurut Lius, kebutuhan air tangki masih cukup tinggi, terutama di wilayah yang belum terhubung dengan jaringan perpipaan Perumda Air Minum. (gus)