Riwayat Syekh Yusuf Al-Makassari, Ulama Besar dan Pemimpin Gerilya yang Dibuang Belanda hingga Afrika Selatan
Moh. Habib Asyhad August 26, 2026 01:34 AM

Inilah riwayat Syekh Yusuf Al-Makassari. Tak hanya di Nusantara, namanya juga harum di Sri Lanka dan Afrika Selatan. Dibuang Belanda karena memimpin gerilya.

Penulis: Seno Gumira Ajidarma | tayang di Majalah Intisari edisi Agustus 2010 dengan judul "Syekh Yusuf Al-Taj Al-Maqassari

---

Intisari hadir di whasapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Sufi yang tidak alergi dengan aktivisme, pemimpin gerilya yang dibuang sampai Afrika Selatan. Meski teladan bagi Nelson Mandela, di Indonesia karyanya hanya menarik perhatian sedikit ilmuwan.

Perhatian dunia kepada Afrika Selatan pada 2010 lalu, bagi Indonesia juga dapat berarti terarahkannya pandangan kepada Syekh Yusuf Al-Taj Al-Maqassari (Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari Al-Bantani/Syekh Yusuf Al-Makassari), putra kelahiran Gowa, Sulawesi selatan, yang pada abad ke-17 mengembara sejak usia 15 tahun ke Cikoang, Banten, Aceh, dan Arabia, untuk belajar ilmu keagamaan, dan kembali ke Banten pada usia 38 tahun.

Wawasan pengetahuannya yang luas dalam agama Islam, membuat Sultan Ageng Tirtayasa mengangkatnya sebagai mufti, jabatan tertinggi bidang keagamaan di Kesultanan Banten, selain juga menikahkan Syekh Yusuf dengan putrinya. Kemudian Syekh Yusuf pun terlibat dengan segenap urusan politik Banten.

Konflik Sultan Ageng Tirtayasa dengan anaknya sendiri, Sultan Haji, membuka peluang keberpihakan Kumpeni Belanda agar mendapat konsesi, dan karena berpihak kepada Sultan Ageng yang setelah berbagai pertempuran bisa dikalahkan, Syekh Yusuf dengan pengikut 4.000 orang Banten, Bugis, Makasar, dan Jawa, melanjutkan perjuangan dengan bergerilya di hutan-hutan Jawa Barat.

Kisah perburuan Syekh Yusuf itu merupakan cerita seru tersendiri.

Tertipu dan terbuang

Namun setelah dua tahun, berkat tipu daya Van Hapel yang menyamar sebagai Muslim dengan berbusana Arab, pada 14 Desember 1683 dia berhasil ditangkap ketika mengikutinya turun ke Mandala, Sukapura, dekat Cirebon. Suatu versi menyebutkan, putrinya pun dimanfaatkan dalam penjebakan tersebut.

Pasukannya dilucuti, yang berasal dari Sulawesi Selatan dipulangkan dengan kapal, dan Syekh Yusuf ditawan di Batavia. Berhubung wibawanya ternyata tak bisa dikerangkeng, bahkan sepah kunyahan sirihnya pun dipungut pengikutnya dan disimpan ibarat jimat, setelah setahun menjadi tawanan, dianggap bijak untuk membuangnya ke Sri Lanka.

Demikianlah pada 12 September 1684, Syekh Yusuf bersama dua istri, anak-anak dan selusin pengikut telah berada di atas kapal, menempuh kembali rute yang pernah dilaluinya sebelumnya, ketika dalam usia 23 tahun melayari lautan yang sama ke Sri Lanka, untuk kemudian berlanjut ke Yaman dalam pengembaraannya.

Selama sembilan tahun di Sri Lanka, alih-alih terasing, Syekh Yusuf menjadi guru agama yang sangat populer, karena bidang keilmuannya, yakni tasawuf, memang tidak untuk dikuasai dan diajarkan sembarang guru. Tak kurang dari para ulama Muslim di India memintanya menuliskan risalah yang dapat menjadi pegangan mereka.

Syekh Yusuf menuliskan risalah-risalah ajarannya. Semua dalam bahasa Arab sempurna, yang melalui jaringan ulama pada jalur naik haji, ternyata sampai juga ke Banten dan Sulawesi Selatan, karena kepulangan mereka ke wilayah Nusantara dengan kapal setelah beribadah haji memang melewati Sri Lanka.

Pada akhirnya Kumpeni Belanda mencurigai, bahwa ajaran-ajaran Syekh Yusuf, meski bersifat keagamaan, esoterik pula seperti tasawuf itu, bukan tak mungkin memperteguh semangat perlawanan itu sendiri. Jika bahkan seorang raja, penguasa Moghul, Aurangzeb, berkat jaringan ulama Muslim, meminta Belanda memperhatikan kesejahteraan Syekh Yusuf, sungguh terlalu besar pengaruh orang diasingkan yang seperti itu.

Maka dengan rombongan sebanyak 49 orang, Syekh Yusuf kembali diangkut dengan kapal "Voetboeg" menuju Kaap yang kini disebut Cape Town di Tanjung Harapan, Afrika Selatan.

Masih dengan dua istri, anak-anak, 12 santri yang lama, para pembantu dan pengikut, termasuk 14 sahabat, semuanya ikut dan mendarat di ujung selatan benua Afrika pada 2 April 1694. Saat itu usianya sudah 68 tahun.

Lima tahun kemudian, pada 22 Mei 1699, dia berpulang dalam usia 73 tahun. Meskipun hanya lima tahun, selama waktu itu disebutkan pemukiman Syekh Yusuf di Zandvliet, dekat muara Eerste River, telah menjadi pusat penyebaran Islam secara jauh lebih bermakna daripada sebelumnya.

Karena meskipun memang dia bukan Muslim pertama yang tiba di sana, tetapi niscaya yang terpenting pada masa itu karena tingkat ilmu tasawufnya tersebut. Orang-orang Melayu yang didatangkan Kumpeni sebagai pekerja perkebunan menyebutnya Tuan Guru.

Betapapun, memang sebagai seorang pejuanglah dia dikenal. Pemukim pertama Afrika Selatan, orang-orang Khoikhoi membentuk pemukiman di sekitarnya untuk menghindari kekejaman Belanda, dan Syekh Yusuf tentu memberikan perlindungannya.

Mereka merasa senasib dan seperjuangan dengannya. Meski berstatus tawanan, penguasa kolonial Belanda di Kaap disebut memperhatikannya selama pembuangan dengan hormat.

Bagi Nelson Mandela, Syekh Yusuf dinyatakannya sebagai, "Putra Afrika, pejuang teladan kami."

Merantau demi ilmu

Tempatnya dimakamkan kemudian disebut Karamat, sebagai bagian wilayah yang kini disebut Macassar, sesuai daerah asalnya. Sultan Gowa yang telah berkali-kali meminta kepada Kumpeni agar Syekh Yusuf dipulangkan saja, kemudian dapat mendatangkan jenazahnya yang tiba pada 5 April 1705 di Lakiung, Gowa, dan dikuburkan esoknya.

Baik di Karamat, di Zandvliet maupun di Lakiung, tak putusnya orang berziarah, yang tentunya dapat menimbulkan pertanyaan, seberapa jauhkah kiranya ajaran kesufian Tuan Guru ini dikenal?

Itulah sebabnya menjadi penting untuk melacak kembali kedudukan Syekh Yusuf sebagai pembelajar agama. Keberadaan Syekh Yusuf ternyata berhubungan dengan koneksi keilmuan dalam jaringan ulama yang menghubungkan Kepulauan Nusantara dan Timur Tengah pada abad ke-17 dan ke-18, seperti antara lain diteliti oleh Azyumardi Azra.

Dalam disertasi yang sudah dibukukan sebagai Jaringan Ulama (1994), tercatat bahwa Syekh Yusuf yang di daerah asalnya disebut Tuanta Salamaka ri Gowa atau Guru Kami yang Agung dari Gowa, mula-mula belajar membaca Al-Quran dari guru setempat bernama Daeng ri Tasammang. Kemudian, bahasa Arab, fiqih, tauhid, dan tasawuf dipelajarinya dari seorang da'i Arab yang tinggal di Bontoala, yakni Sayyid Ba 'Alwi b. 'Abd Allah Al-'Allamah Al-Thahir.

Lantas, seperti pernah disebut, pada usia 15 tahun ia menuju Cikoang, untuk menetap dan belajar dari seorang guru keliling yang datang ke Cikoang dari Aceh melalui Kutai di Kalimantan Timur sekarang. Pada awal abad ke-17 memang disebutkan para guru keliling yang menyebarkan agama di Sulawesi Selatan datang dari Aceh, Minangkabau, Kalimantan Selatan, Jawa, Semenanjung Melayu, dan Timur Tengah.

Apabila kemudian para penguasa setempat memeluk agama Islam juga, maka disebutkan penyebarannya menjadi semakin pesat. Artinya sejak kecil Yusuf dianggap sudah dilahirkan dalam keluarga Muslim.

Bahkan masyarakatnya juga telah mengembangkan doktrin keagamaan secara terbatas dalam tata pemerintahan, dengan jabatan seperti imam, khatib, dan qadhi yang kemudian dianggap keluarga bangsawan.

Disebut secara terbatas, karena hanya menyangkut masalah-masalah keluarga, itu pun disatukan dengan adat istiadat yang disebut panngaderreng atau pangadakkang.

Rupanya, meski masih muda, pribadinya sangat menonjol, sehingga Sultan Gowa 'Ala' Al-Din atau Mangarangi Daeng Maurabiya menikahkan Yusuf yang remaja ini dengan putrinya. Namun peristiwa ini tidak membuatnya lantas melekat dengan tanah kelahiran, sebaliknya tampak bahwa perkenalannya dengan ilmu-ilmu keagamaan, ternyata justru membuatnya haus belajar ke mana pun ilmu yang diburunya berada.

Dengan segera dia pun sudah berada di Banten, yang telah merupakan salah satu pusat pembelajaran Islam di Jawa. Tak hanya belajar, Yusuf berhubungan erat dengan kalangan istana Kesultanan Banten, dan bersahabat dengan Pangeran Surya, putra mahkota yang kelak disebut Sultan Ageng Tirtayasa.

Dari Banten, Yusuf menuju Aceh, tampaknya dengan minat belajar kepada ulama terkenal Al-Raniri, yang sebelumnya memang telah menjadi tempat bertanya Kesultanan Banten mengenai masalah-masalah agama melalui surat-menyurat. Mengingat Al-Raniri telah meninggalkan Aceh pada 1644, untuk kembali ke Ranir, diduga Yusuf tidak bertemu dengannya.

Namun dalam Safinat Al-Najah dia menulis bahwa gurunya dalam konteks tarekat Qadiriyah adalah Syeikh Nuruddin bin Masanji bin Muhammad Hamid Al-Quraisy Al-Raniri. Maka justru ada juga kemungkinan Yusuf mengikutinya ke India, dan belajar pula kepada guru Raniri, yakni 'Umar b. 'Abdullah Basyaiban.

Artinya dari Aceh, sebelum ke Timur Tengah, Yusuf menetap di Gujarat. Adapun di Yaman, dia menuju Zabid dan belajar dari Muhammad b. 'Abd Al-Baqi Al-Naqsyabandi, Sayyid 'Ali Al-Zabidi, dan Muhammad b. Al-Wajih Al-Sa'di Al-Yamani.

Pembelajaran nan lengkap

Setelah Zabid, Yusuf belajar dari sejumlah guru di Haramayn, juga pusat jaringan ulama, terutama kepada Ahmad Al-Qusyasyi, Ibrahim Al-Kurani, dan Hasan Al-'Ajami. Adalah Al-Kurani yang mempercayai Yusuf untuk menyalin karya-karya penting dalam kesufian, yang intinya berusaha mendamaikan pertentangan masalah mistiko-filosofis menyangkut Tuhan, antara para filsuf dan teolog Muslim.

Berdasarkan catatan Yusuf tentang guru-gurunya dalam kaitan silsilah keilmuan dan ajaran-ajarannya, menurut Azyumardi Azra, dapat dipercaya bahwa Yusuf selain tasawuf juga mempelajari hadis, tafsir, fiqih, dan cabang-cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya.

Melalui berbagai analisis, Azra juga menyimpulkan guru-guru Yusuf lainnya di Haramayn adalah 'Abd Al-Karim Al-Hindi Al-Lahuri, kepada siapa Yusuf mempelajari tradisi Islam di India, dan Muhammad Mirza b. Muhammad Al-Dimasyqi, guru tarekat Naqsyabandiyyah, yang merupakan nama-nama tersohor masa itu.

Azra juga mengandaikan, Mirza itulah yang menyarankan Yusuf melanjutkan pelajaran ke Damaskus, yang merupakan pusat pengetahuan penting lain di Timur Tengah, meski mempertimbangkan juga Al-Qusyasyi sebagai pendorong utama untuk belajar kepada Ayyub b. Ahmad b. Ayyub Al-Dimasyqi Al-Khalwati, seorang guru besar atawa al-ustadz al-akbar yang terkemuka.

Yusuf tentunya cukup lama belajar kepada guru tarekat Khalwatiyyah ini, dan agaknya lebih dari mampu menyerap ilmu-ilmu eksoterik dan esoterik, sehingga mencapai tingkat wushul, yakni tingkat tertinggi, sehingga diberi gelar Al-Taj Al-Khalwati atau Mahkota Khalwati.

Dengan segenap ilmu keagamaan yang dikuasainya, setidaknya dari tarekat, Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Baalawiyah, Syattariyah, dan Khalwatiyyah, diketahui bahwa Yusuf telah mengajar di Mekah, dan membangun jaringan Jawah dari komunitas Melayu-Nusantara sendiri.

Diriwayatkan bahwa Yusuf, yang tentunya disebut Al-Maqassari, sesuai tempat asalnya, menikah dengan putri Imam Mazhab Syafi'i, yang meninggal ketika melahirkan, dan kemudian seorang perempuan dari Sulawesi Selatan di Jeddah.

Murid-muridnya menjadi guru terkenal dalam pembelajaran tarekat di Tanah Air, seperti 'Ab Al-Basyir Al-Dharir Al-Rapani, Nur Al-Din b. 'Abd Al-Fatah, dan 'Abd Al-Qadir Karaeng Jeno. Disebutkan bahwa Yusuf pulang, jika tidak tahun 1664, mungkin 1672, para ilmuwan belum bersepakat soal itu, seperti juga apakah dia pulang langsung ke Banten, atau sempat singgah di Gowa dulu.

Namun dipastikan ia mengirim atau meninggalkan banyak murid, yang kemudian menjadi guru di tanah kelahirannya. Dari merekalah tentunya dikenal tarekat Khalwatiyyah Yusufiyah di Sulawesi Selatan yang hidup sampai sekarang.

Moderat dalam pertentangan

Karier cemerlang Syekh Yusuf, yang juga berperan menjadikan Banten sebagai pusat pengetahuan keagamaan masa itu, telah cukup dikenal, tetapi sedikit banyak mungkin ingin diketahui juga buah pemikirannya sebagai guru agama itu.

Di Indonesia, terlalu sedikit pembahasan mengenai risalahnya yang mencapai 23 judul, dan di antara yang sedikit itu hanya satu yang melakukan pendalaman filologis, kata per kata, sehingga dapat diselami pada masa kini sebagai terjemahan dalam bahasa Indonesia. Itulah disertasi Nabilah Lubis tentang karya berjudul Zubdat al-Asrar (Menyingkap Intisari Segala Rahasia), yang pada abad ke-18 bahkan sempat diterjemahkan ke bahasa Jawa.

Azyumardi Azra menjelaskan bahwa Syekh Yusuf merupakan mujaddid terpenting dalam sejarah Islam di Nusantara. Tidak seperti banyak sufi dalam sejarah awalnya, yang menghindari kehidupan duniawi, ajaran dan amalan Syekh Yusuf menunjukkan aktivisme berjangkauan luas.

Disebutnya, konsep utama Syekh Yusuf adalah pemurnian kepercayaan pada Keesaan Tuhan. Ini merupakan usahanya menjelaskan transendensi Tuhan atas ciptaan-Nya, tetapi sekaligus pula ia percaya Tuhan mencakup segalanya dan ada di mana-mana atas ciptaan-Nya.

Menurut Syekh Yusuf, proses spiritual seperti manusia naik (taraqqi) dan Tuhan turun (tanazul) memang mendekatkan, tetapi tidak menyatukan. Tuhan tetap Tuhan, dan manusia tetap manusia.

Dalam penggolongan Azra, pendekatan Syekh Yusuf termasuk sebagai neo-sufisme, yakni tidak mempertentangkan melainkan menyatukan syariat dengan tasawuf. Dengan kritis, Azra juga mencatat bahwa Syekh Yusuf terlalu bersemangat dalam usahanya mendamaikan aspek-aspek eksoteris dan esoteris, antara lain dengan mengutip hadis, bahwa Nabi diutus Tuhan membawa syariat dan hakikat sekaligus.

Kiranya masih banyak lagi catatan Azyumardi Azra, dan juga para "spesialis" riwayat dan ajaran Syekh Yusuf, seperti Tudjimah, Abu Hamid, dan Nabilah Lubis. Namun sampai di sini cukuplah dinyatakan, bahwa "kebenaran" ternyata memang menjadi ajang perjuangan politik keagamaan.

Pertentangan antara Hamzah Al Fansuri dan Syams Al-Din di satu pihak, melawan Nur Al-Din Al-Raniri yang didukung penguasa di pihak lain, berakibat fatal seperti berlangsungnya pembakaran kitab dan perburuan para pengikut Wujudiyah di Kesultanan Aceh.

Namun jelas Syekh Yusuf selain telah bersikap moderat, juga berusaha mengatasi ajaran-ajaran yang saling bertentangan tersebut, yang mewarnai perkembangan Islam abad ke-17, ketika dalam sejumlah pemikiran sufistik terseraplah unsur-unsur monisme.

Demikianlah sedikit gambaran, sosok Syekh Yusuf Al-Taj Al-Maqassari sebagai sufi dan penulis yang tidak menghindari tugas duniawi, menjadi mufti maupun memimpin perang gerilya, yang atas pilihan politiknya itu telah dibuang sampai Afrika Selatan dan meninggalkan dunia di sana, 12.000 km dari kampung halamannya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.