TRIBUNJATIM.COM - Uang tabungan senilai Rp100 juta milik warga Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), ikut musnah dalam kebakaran yang menghanguskan puluhan rumah adat pada Sabtu (22/8/2026) malam.
Uang hasil jerih payah Amak Wanah (70) selama puluhan tahun itu hanya tersisa sekitar Rp3 juta.
Sebagian besar tabungan yang dikumpulkan sejak tahun 2000 tersebut berubah menjadi abu setelah rumahnya dilalap api.
Putranya, Marwan, mengatakan uang itu sengaja disimpan sang ayah sebagai bekal hari tua.
Tabungan tersebut juga dipersiapkan untuk biaya pengurusan kematian apabila Amak Wanah meninggal dunia, agar tidak membebani anak-anaknya.
Baca juga: Mengenal Desa Adat Sade yang Terbakar, Rumah Warisan Leluhur dan Tradisi yang Bertahan 15 Generasi
Sejak tahun 2000, Amak Wanah mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dari pekerjaannya sebagai penjahit dan penabuh gendang baleq, alat musik tradisional Suku Sasak.
Uang tersebut disimpan dalam sebuah celengan berbentuk kotak kayu yang diletakkan di dalam rumah, tidak jauh dari lemari.
Bertahun-tahun menabung, jumlahnya akhirnya mencapai Rp100 juta.
Namun, seluruh kerja keras itu nyaris lenyap dalam sekejap saat kebakaran melanda kawasan permukiman tradisional Suku Sasak di Desa Adat Sade.
"Rencananya untuk kematian orang tua, karena tidak ingin menyusahkan anak-anaknya," kata Marwan dikutip dari akun Facebook KompasTV, Rabu (26/8/2026).
Kisah Marwan kemudian menjadi perhatian setelah videonya beredar di media sosial.
Dalam video tersebut, ia menunjukkan uang yang tersisa setelah kebakaran.
“Uang Rp100 juta, cuma ini yang bisa diselamatkan,” ujar Marwan dalam video tersebut.
Uang sekitar Rp3 juta yang berhasil diselamatkan pun kondisinya sudah rusak.
Sejumlah lembar uang tampak terbakar di bagian tepi, sedangkan sebagian lainnya menghitam akibat terkena api.
Marwan berencana membawa sisa uang tersebut ke Bank Indonesia untuk ditukarkan.
Kebakaran juga menghanguskan berbagai dokumen dan barang berharga milik warga.
Hal itu dialami kakak beradik Neli (25) dan Mariana (14).
Setelah api padam, keduanya kembali ke rumah untuk mencari barang yang masih mungkin diselamatkan.
Namun, ijazah dan surat rumah yang mereka cari ternyata telah hangus.
“Saya mencari ijazah saya dan surat rumah, ternyata sudah hangus terbakar semua,” katanya, dikutip dari TribunLombok.com.
Bagi Neli, ijazah bukan sekadar selembar dokumen. Surat tersebut menjadi bukti bahwa dirinya telah menyelesaikan pendidikan dan menjadi salah satu barang paling berharga yang dimilikinya.
Ia juga khawatir kehilangan ijazah akan menyulitkan rencananya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Belum bisa kuliah, tapi setidaknya, ijazah sekolah dasar ini menandakan saya pernah bersekolah," tambahnya.
Baca juga: Kebakaran Hebat di Area Padat Penduduk Babadan Ponorogo, Bekas Gudang Rosok Dilalap Si Jago Merah
Tak hanya dokumen, Neli juga kehilangan kain tenun yang dikerjakannya selama berbulan-bulan.
Kain tersebut sedianya akan dijual kepada wisatawan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
"Kalau pekerjaan selama ini saya menenun dan buat gelang, dari situ pendapatan kami, tapi sekarang saya gak tau, gak bisa nenun lagi, alat tenun kita habis terbakar,” ungkapnya.
Kebakaran yang melanda Desa Adat Sade tidak hanya menghancurkan tempat tinggal dan harta benda warga, tetapi juga mengancam aktivitas ekonomi masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor pariwisata dan kerajinan.
Berdasarkan pendataan pemerintah daerah, total kerugian akibat kebakaran diperkirakan mencapai Rp34 miliar.
Nilai tersebut merupakan akumulasi kerusakan berbagai bangunan dan aset yang hangus terbakar.
"Total kerugian pernah kita hitung bersama Pak Bupati, Kepala Dusun, Kepala Desa, Kapolresta, dengan data yang ada total Rp 34 miliar," ungkap Lalu Sungkul, Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan Hukum dan Politik Kabupaten Lombok Tengah, Senin (24/8/2026).
Di sisi lain, pemerintah pun menyiapkan langkah rehabilitasi kawasan yang terdampak.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kebutuhan bantuan untuk pemulihan akan dibahas bersama kementerian terkait, termasuk kemungkinan dukungan bagi pelaku UMKM.
"Iya nanti tentu akan dibahas untuk rekonsultasi," ujar Airlangga di Kemenko Perekonomian, Senin (24/8/2026).
"Rehabilitasi nanti kita carikan yang berbeda," tegas dia.
"Iya nanti akan dibahas dengan Menteri Keuangan," ucap Airlangga.
Sementara itu, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan penanganan korban tidak cukup hanya dengan menyediakan tempat pengungsian.
Kebutuhan dasar warga, termasuk sandang, pangan, keamanan, serta keberlangsungan aktivitas sosial dan ekonomi, harus segera dipastikan.
“Yang pertama sekarang dan harus cepat adalah bagaimana kebutuhan dan rasa aman masyarakat yang rumahnya terbakar kita perhatikan. Kebutuhan sandang, pangan, dan aktivitas sosial ekonomi mereka harus kita pastikan,” katanya, dikutip dari ntbprov.go.id.
Baca juga: Kisah Warga di Kalteng yang Bertahan saat Rumahnya Dikepung Kabut Asap Akibat Kebakaran Hutan
Pemerintah juga diminta memastikan pendidikan anak-anak korban kebakaran tetap berjalan selama proses pemulihan.
“Anak-anak kita pastikan pendidikannya tidak terganggu,” tegasnya.
Gubernur Iqbal juga akan berkoordinasi dengan Bupati Lombok Tengah dan pihak terkait untuk menyusun langkah pemulihan serta rekonstruksi kawasan Desa Adat Sade.
“Saya akan segera berkomunikasi dengan Bupati Lombok Tengah untuk mengambil langkah cepat dan tepat. Nanti kita pikirkan bagaimana merekonstruksi kembali Desa Adat Sade,” tandasnya.