Kaya Sumber Daya, Bagaimana Nasib Tenaga Kerja? Menakar Pengangguran Sumsel vs Sultra
Yandi Triansyah August 26, 2026 08:48 AM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Sumatera Selatan (Sumsel) dan Sulawesi Tenggara (Sultra) dikenal sebagai dua raksasa ekonomi berbasis sumber daya alam di Tanah Air.

Sumsel mengukuhkan diri sebagai lumbung energi dan komoditas perkebunan utama, sementara Sultra menjadi salah satu pemain kunci dunia di sektor tambang nikel, aspal, emas, hingga mangan.

Namun, besarnya potensi tambang dan komoditas tak serta-merta menjamin pasar kerja terbebas dari gejolak.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Rabu (26/8/2026), kedua daerah yang berlimpah kekayaan alam ini sama-sama mencatatkan kenaikan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Mei 2026 jika dibandingkan dengan periode Februari 2026.

Baca juga: Sama Karakter, Beda Nasib: Tebo Melaju Kencang, Realisasi PAD OKU Masih Tertatih

Dinamika Pasar Kerja: Sultra vs Sumsel

Meskipun TPT Sultra sedikit lebih rendah (3,47 persen) dibandingkan Sumsel (3,60 persen), kenaikan TPT di Sultra tercatat lebih tajam (+0,22 % poin) daripada Sumsel (+0,01 % poin).

Penurunan jumlah penduduk bekerja pun terjadi di kedua kawasan Sultra berkurang 8,38 ribu orang, sementara Sumsel kehilangan sekitar 169 ribu orang bekerja dalam kurun waktu tiga bulan tersebut.

Dari sisi struktur ketenagakerjaan, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi tulang punggung utama penyerapan tenaga kerja di kedua daerah.

Di Sumsel, hampir separuh penduduk bekerja (46,81 % atau 2,07 juta orang) menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perkebunan.

Begitu pula di Sultra, sektor pertanian memimpin dengan 34,32 persen, disusul perdagangan (16,15 persen) dan administrasi pemerintahan (8,68 persen).

Perbedaan mencolok terlihat pada kualitas dan formalitas pekerjaan. Sultra masih didominasi oleh pekerja di kegiatan informal (59,52 persen atau 834,16 ribu orang).

Sementara itu di Sumsel, proporsi sektor formal mencapai 38,32 persen (naik 1,19 persen poin dari Februari 2026), kendati Sumsel masih dihadapkan pada tantangan setengah pengangguran (8,67 persen) dan pekerja paruh waktu yang cukup tinggi (27,12 persen).

Kondisi ini menegaskan tantangan besar bagi kedua Pemda, bagaimana hilirisasi pertambangan di Sultra maupun pengelolaan energi dan perkebunan di Sumsel mampu membuka lapangan kerja formal berskala luas yang dapat secara masif menyerap tenaga kerja lokal.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.