Kemendikdasmen Salurkan Santunan Rp 305 Juta untuk Guru dan Siswa Korban Gempa NTT, Ini Rinciannya
Theresia Felisiani August 26, 2026 09:38 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyalurkan santunan senilai total Rp 305 juta kepada guru dan murid yang menjadi korban gempa bumi di Kabupaten Ngada dan Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Santunan tersebut diberikan kepada korban meninggal dunia maupun mereka yang mengalami luka-luka akibat bencana.

Dari total bantuan itu, santunan duka diberikan sebesar Rp25 juta. 

Rinciannya, Rp10 juta untuk satu guru yang meninggal dunia dan masing-masing Rp5 juta bagi tiga murid yang meninggal dunia.

Sementara itu, santunan bagi korban luka-luka mencapai Rp280 juta. 

Bantuan tersebut terdiri atas Rp270 juta untuk guru yang mengalami luka-luka dan Rp10 juta bagi murid yang mengalami luka-luka.

Baca juga: Status Kunjungan Prabowo dan Jokowi ke NTT Belum Terjawab, Jusuf Kalla Jumat 28 Agustus 2026

Dukungan tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti saat mengunjungi SD Inpres Ngelapadhi, Ngada.

Dalam kunjungan tersebut, Abdul Mu’ti tidak hanya menyerahkan bantuan, tetapi juga berinteraksi langsung dengan guru dan murid yang terdampak gempa.

Di tengah situasi pascagempa, Abdul Mu’ti menilai semangat anak-anak untuk tetap belajar dan memiliki cita-cita menjadi hal penting dalam proses pemulihan.

"Bapak ibu sudah menjadi guru yang hebat, membangkitkan semangat dan mencerdaskan anak-anak kita," kata Abdul Mu’ti dalam keterangannya, Rabu (26/8/2026).

Baca juga: Sepekan Gempa NTT: 21.116 Guru dan Tenaga Pendidik Terdampak, 5.521 Ruang Kelas Rusak

Seorang guru korban gempa dari TKN Libunio, Maria Epivania Getrudis, juga menceritakan pengalamannya saat gempa terjadi. 

Maria bersama suaminya sedang tertidur ketika terbangun akibat teriakan anggota keluarga yang memperingatkan adanya gempa.

“Kami langsung lari keluar. Kami tidak melihat lagi apa yang kami injak. Sempat jatuh karena ada tangga, tetapi tetap lari sekitar 100 meter sampai ke tempat kosong,” tutur Maria.

Maria mengaku hingga kini masih mengalami trauma. Getaran kecil terkadang membuatnya spontan berpikir bahwa gempa kembali terjadi.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.