Di Tengah Trauma Gempa, Tawa Anak-anak Pengungsi Menggema di Lapangan Berdikari Mbay
Oby Lewanmeru August 26, 2026 10:19 AM

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Albert Aquinaldo

TRIBUNFLORES.COM, MBAY – Suasana berbeda terlihat di tengah puluhan anak-anak pengungsi yang memenuhi Lapangan Berdikari, Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo, Selasa (25/8/2026) malam.

Di tengah kondisi pascagempa yang masih menyisakan kecemasan, anak-anak itu tampak asyik menikmati hiburan film kartun yang diputar melalui sebuah televisi di dekat tenda pengungsian.

Salah satunya adalah Yohana Fransiska Wuda, siswi kelas V SD Inpres Marapokot. 

Selama lebih dari sepekan, Yohana mengungsi bersama kakek dan neneknya setelah gempa bumi mengguncang wilayah tersebut.

Baca juga: Dari Pemberdayaan UMKM ke Aksi Kemanusiaan, PLN dan Rumah BUMN Ende Bantu Korban Gempa Flores 

Gempa berkekuatan 7,7 skala Richter yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026) membuat Yohana bersama kakek, nenek, dan ratusan warga Marpokot lainnya berlari meninggalkan rumah untuk menyelamatkan diri.

Mereka kemudian mengungsi di Lapangan Berdikari, tepat di tengah Kota Mbay.

Kedua orang tua Yohana saat ini sedang berada di perantauan. 

Karena itu, selama berada di pengungsian, Yohana menjalani hari-harinya bersama sang opa dan oma.

Malam itu, Yohana terlihat menenteng sebuah buku pelajaran sambil menikmati tayangan film animasi. 

Bersama puluhan anak lainnya, ia tertawa dan terlihat begitu gembira.

Keceriaan tersebut seolah membuat mereka sejenak melupakan suasana pengungsian dan pengalaman menegangkan yang mereka alami saat gempa.

"Saya sudah satu Minggu lebih di sini dengan opa oma. Kami senang ada hiburan, ada permainan, ada televisi," ujar Yohana Fransiska Wuda.

 

Polres Nagekeo Hadirkan Hiburan untuk Anak Pengungsi

Keceriaan anak-anak tersebut merupakan bagian dari kegiatan yang digelar Polres Nagekeo untuk memberikan pendampingan psikologis sekaligus hiburan bagi masyarakat terdampak gempa.

Selasa (25/8/2026) sekitar pukul 19.00 WITA, anggota Polres Nagekeo yang dipimpin langsung Kasat Binmas Polres Nagekeo, IPTU Yohanes Dhai, bersama Kaurbinopsnal Satbinmas, personel Satbinmas dan tim pendamping sosial menggelar kegiatan nonton televisi bersama anak-anak pengungsi.

Kegiatan berlangsung di Posko Pengungsian Polri untuk Masyarakat, Lapangan Berdikari Danga, Kelurahan Danga, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

Sekitar 50 anak berusia 5 hingga 12 tahun mengikuti kegiatan tersebut.

Film dan animasi yang dipilih bernuansa positif, edukatif, sekaligus menghibur. 

Tayangan itu dihadirkan sebagai sarana rekreasi bagi anak-anak sekaligus membantu mereka mengurangi rasa takut dan kecemasan setelah mengalami bencana gempa bumi.

Kapolres Nagekeo AKBP Rachmat Muchamad Salihi, S.I.K., M.H., melalui Kasat Binmas IPTU Yohanes Dhai mengatakan, kehadiran Polri di tengah masyarakat terdampak bencana tidak hanya berkaitan dengan keamanan dan pemenuhan kebutuhan dasar.

Menurutnya, aspek psikologis masyarakat, terutama anak-anak, juga harus mendapat perhatian.

"Kami ingin anak-anak di pengungsian merasakan bahwa mereka tidak sendiri. Polri hadir untuk menemani, menghibur dan memberikan rasa aman. Melalui kegiatan sederhana seperti nonton bersama, kami berharap adik-adik bisa kembali tersenyum, mengurangi rasa takut dan perlahan bangkit dari trauma akibat gempa," ujar IPTU Yohanes Dhai menyampaikan pesan AKBP Rachmat Muchamad Salihi.

Ia menjelaskan, anak-anak merupakan salah satu kelompok yang membutuhkan perhatian khusus dalam situasi pascabencana.

Karena itu, kegiatan yang mampu menghadirkan suasana ceria dan nyaman menjadi bagian dari upaya pemulihan emosional mereka.

"Semoga adik-adik tetap semangat, ceria dan optimis. Kita bersama-sama melewati masa sulit ini. Polri akan terus hadir dan peduli kepada masyarakat," ungkapnya.

Suasana di lokasi pengungsian pun berubah menjadi lebih hangat. 

Anak-anak tampak antusias menyaksikan tayangan bersama.

Tawa dan keceriaan mereka terdengar di tengah tenda-tenda pengungsian. 

Untuk beberapa saat, anak-anak itu dapat menikmati masa kanak-kanak mereka tanpa harus terus memikirkan bencana yang baru saja terjadi.

Kegiatan tersebut juga menjadi ruang interaksi antara personel Polri dengan anak-anak dan keluarga pengungsi.

Kehadiran polisi di tengah mereka diharapkan mampu menumbuhkan rasa aman sekaligus mempererat hubungan emosional antara Polri dan masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit.

Polres Nagekeo berkomitmen untuk terus memberikan pendampingan kepada masyarakat terdampak bencana.

Pendampingan tersebut dilakukan melalui pelayanan keamanan, bantuan kemanusiaan, trauma healing maupun berbagai kegiatan sosial yang dapat membantu masyarakat melewati masa pemulihan.

Sebab, di tengah situasi bencana, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan untuk bertahan hidup.

Mereka juga membutuhkan perhatian, rasa aman, pendampingan dan alasan untuk kembali tersenyum serta berani menatap hari esok. (bet)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.