Kebakaran Lahan di Mamuju Capai 24 Kejadian Sejak Januari, Ratusan Hektare Hangus
Nurhadi Hasbi August 26, 2026 11:47 AM

 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, meningkat sepanjang 2026.

Kabid Pemadam Kebakaran (Damkar) Mamuju, Randy Noertadi, menyebut terdapat 24 kejadian kebakaran hutan dan lahan yang tercatat sejak Januari hingga Agustus 2026.

Menurut Randy, kejadian kebakaran paling banyak terjadi pada Agustus 2026.

Dalam sehari, bahkan pernah tercatat tiga titik kebakaran lahan.

Baca juga: Kebakaran Lahan Gambut di Topoyo Mateng, 2 Hektare Hangus Terbakar

Baca juga: Tiga Kebakaran Lahan Terjadi di Pasangkayu Sepanjang 2026, Mayoritas Dipicu Pembakaran Sampah

Sejumlah kebakaran dilaporkan terjadi di wilayah Sumare dan Rangas. Selain itu, kebakaran juga terjadi di sejumlah wilayah lain seperti Kabuloang dan Tapalang.

"Dari Januari sampai Agustus ini untuk kebakaran hutan dan lahan sudah mencapai 24 kejadian," kata Randy saat diwawancarai Tribun-Sulbar.com di Kantor Damkar Mamuju, Jalan Ahmad Yani, Rabu (26/8/2026).

Ia menyebut, dari seluruh kejadian tersebut, luas lahan yang terbakar diperkirakan telah mencapai ratusan hektare.

Namun, Randy belum dapat memastikan luas lahan yang terbakar secara rinci karena proses pendataan masih berlangsung.

Kemarau Jadi Pemicu Kebakaran

Randy menjelaskan, kondisi kemarau panjang menjadi salah satu faktor yang membuat lahan lebih mudah terbakar.

Selain faktor cuaca, ia menduga kebakaran juga dapat terjadi akibat kelalaian manusia.

Salah satunya membuang puntung rokok sembarangan di lokasi yang kondisi lahannya kering.

Terkait dugaan adanya kebakaran yang sengaja dilakukan, Randy mengatakan pihak Damkar tidak melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab kebakaran.

Menurutnya, penyelidikan terkait dugaan kesengajaan merupakan kewenangan kepolisian.

"Kalau untuk penyelidikan penyebab kebakaran, itu kepolisian yang menangani. Kami lebih fokus pada penanganan dan pemadaman kebakaran di lapangan," ujarnya.

Randy mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan, terlebih di tengah kondisi kemarau.

Menurutnya, api yang awalnya membakar lahan dapat dengan cepat meluas dan berpotensi merembet hingga ke permukiman warga.

"Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan. Kondisi sekarang kering, sehingga api bisa cepat meluas," pungkasnya.(*)

Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.