Ambisi Terpendam Bintang Persebaya Surabaya di Luar Sepak Bola, Dari Jadi Astronot hingga Detektif
Adrianus Adhi August 26, 2026 12:32 PM

SURYA.co.id - Dua pemain asing Persebaya, Diogo Campos dan Miguel Pereira, menunjukkan kedekatan yang luar biasa di luar lapangan hijau.

Dalam sebuah sesi tanya jawab santai yang digelar di area stadion, keduanya saling melempar tawa dan mengungkap berbagai fakta unik yang selama ini jarang diketahui oleh publik maupun para Bonek dan Bonita.

Keduanya mengawali obrolan dengan membahas preferensi pribadi yang sangat kontras namun saling melengkapi.

Miguel Pereira secara terbuka mengakui bahwa Diogo adalah sosok yang menghidupkan suasana tim dengan selera humornya yang spontan.

"Sangat sulit bagi saya untuk menghabiskan waktu bahkan hanya 30 detik tanpa tertawa saat bersamanya," ungkap Miguel dalam video yang diunggah di akun Persebaya.

Di sisi lain, Diogo Campos merasa sangat dihargai karena perhatian tulus yang sering diberikan oleh Miguel. Menurut Diogo, Miguel bukan sekadar rekan setim, melainkan sosok yang selalu peduli dengan kondisi rekan-rekannya di setiap kesempatan.

Kedekatan ini membangun chemistry yang kuat, yang diharapkan mampu membawa dampak positif bagi performa Persebaya di kompetisi.

Baca juga: Kisah Akhir Maling Gawang Mini Soccer Wisma Persebaya Dipenjara Hampir 2 Tahun

Mimpi di Luar Lapangan dan Rahasia Masa Kecil

Topik kedua beralih ke sisi personal dan masa lalu mereka yang penuh kejutan. Miguel Pereira mengungkapkan bahwa jika ia tidak menjadi pemain sepak bola profesional, ia ingin menjadi seorang astronot.

Ketertarikannya pada galaksi dan benda-benda luar angkasa menjadi alasan utama di balik impian masa kecilnya yang unik tersebut.

Berbeda dengan Miguel, Diogo Campos memiliki impian untuk menjadi seorang detektif. Ia mengaku sangat tertarik dengan dunia kriminalitas dan ingin mempelajari cara memecahkan kasus-kasus sulit.

"Saya ingin belajar sesuatu yang berhubungan dengan kriminalitas, mungkin menjadi detektif adalah pilihan saya," kata pemain bernomor punggung 27 itu.

Miguel juga membagikan rahasia sekolahnya, di mana ia ternyata merupakan siswa yang cerdas karena pernah melompat kelas saat berusia 15 atau 16 tahun.

Fakta ini menunjukkan sisi intelektual Miguel yang mungkin tidak disadari oleh banyak orang saat melihatnya bertarung di lapangan tengah.

Baca juga: Persebaya Surabaya Dikaitkan dengan Sosok Penyerang Rp 9,56 Miliar, Akankah Jadi Pemain Asing ke 11?

Namun, yang paling mengundang gelak tawa adalah cerita Diogo tentang traumanya terhadap ayam. Diogo menceritakan pengalaman masa kecil di rumah neneknya yang melihat ayam berlari tanpa kepala setelah dipotong. Kejadian itu membuatnya sangat ketakutan hingga saat ini.

"Nenek saya menutup pintu dan saya melihat ayam tanpa kepala berlari dengan darah di mana-mana, itu sangat menakutkan bagi saya," kenang Diogo.

Bahkan, saking traumanya, Miguel sampai meminta para suporter untuk mengenakan kostum ayam saat ke stadion agar Diogo bisa belajar menghadapi ketakutannya tersebut. Miguel berseloroh bahwa ketakutan terbesar Diogo bukanlah lawan di lapangan, melainkan seekor ayam kecil di jalanan.

Kisah Transfer dan Nilai Pasar yang Fantastis

Membahas karier, perjalanan keduanya menuju Persebaya bukanlah jalan yang instan. Diogo Campos didatangkan dari Kalteng Putra setelah menunjukkan performa impresif di Liga 1. Pemain kelahiran Brasil ini ditebus dengan proses negosiasi yang cukup alot namun berakhir manis demi memperkuat daya gedor tim.

Berdasarkan data pasar transfer, nilai pasar Diogo Campos saat bergabung diperkirakan mencapai angka Rp 3,48 miliar. Nilai ini dianggap sebanding dengan kontribusinya sebagai kreator serangan yang memiliki visi bermain di atas rata-rata pemain lokal.

Sementara itu, Miguel Pereira memiliki kisah transfer yang berbeda. Ia didatangkan langsung dari kompetisi Eropa, tepatnya dari klub kasta kedua Portugal, CD Mafra. Rekam jejaknya di sepak bola Portugal membuat manajemen Persebaya yakin untuk merogoh kocek lebih dalam.

Nilai pasar Miguel Pereira berada di angka yang lebih tinggi, yakni sekitar Rp 6,95 miliar. Angka ini menjadikannya salah satu pemain bertahan termahal di skuad. Namun, bagi manajemen, investasi ini sangat diperlukan untuk menjaga kedalaman skuad dalam menghadapi ketatnya persaingan liga.

Proses kepindahan Miguel ke Surabaya diwarnai dengan semangat "sat-set" khas manajemen Persebaya. Hanya butuh waktu singkat bagi Miguel untuk menyetujui kontrak setelah melihat antusiasme Bonek yang luar biasa di media sosial. Ia mengaku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan atmosfer sepak bola Indonesia.

Hopes, Dreams, dan Janji untuk Surabaya

Topik terakhir membahas tentang harapan dan rasa hormat mereka terhadap kehidupan profesional di Surabaya. Saat ditanya mengenai momen yang ingin diulang, keduanya sepakat ingin kembali ke masa kanak-kanak. Mereka merindukan masa-masa tanpa tanggung jawab besar di mana mereka hanya perlu bermain sepanjang hari tanpa tekanan profesional.

Untuk destinasi impian, Diogo memilih Jamaika karena kecintaannya pada musik Bob Marley, bahkan kedua anjingnya diberi nama Bob dan Marley.

Sementara itu, Miguel lebih memilih Amerika Serikat untuk melakukan perjalanan darat melintasi Route 66 karena ia adalah seorang penggemar berat otomotif dan mobil-mobil klasik.

Kedua pemain ini juga dikenal sebagai sosok yang sangat mencintai pasangan mereka. Bagi Miguel, orang yang paling ia kagumi adalah istrinya, sedangkan bagi Diogo adalah kekasihnya.

Mereka mengaku bahwa dukungan dari keluarga dan pasangan adalah energi utama yang membuat mereka tetap kuat meski harus berkarir jauh dari negara asal.

Miguel kemudian memberikan deskripsi tiga kata untuk Diogo: lucu, ramah, dan unik. Sedangkan Diogo menggambarkan Miguel sebagai sosok yang dermawan, pemberani, dan baik hati. Deskripsi ini semakin mempertegas hubungan emosional yang telah mereka bangun selama berada di tim kebanggaan warga Surabaya ini.

Sebagai penutup, Miguel Pereira memberikan pesan motivasi sekaligus janji manis kepada Diogo dan seluruh tim. Ia berjanji akan mentraktir Diogo pizza seumur hidup di Surabaya jika Persebaya berhasil meraih gelar juara musim ini.

"Jika kita memenangkan kejuaraan ini, kamu akan saya traktir pizza selamanya di Surabaya," janji Miguel yang diamini dengan penuh semangat oleh Diogo.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.