TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas III Siboru-Fakfak memprediksi periode musim kemarau di Fakfak, Papua Barat berakhir pada November 2026.
Hal itu disampaikan Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Siboru-Fakfak, Laura Silpa Mercharet Runggeari, Rabu (26/8/2026).
“Sebagaimana analisis cuaca dan iklim BMKG, puncak musim kemarau saat ini terjadi di bulan Agustus 2026 dan sedang berlangsung,” ujarnya.
Laura menjelaskan, musim kemarau tidak berarti hujan sama sekali tidak turun. Faktor lokal di Fakfak cukup kuat sehingga hujan ringan atau gerimis masih mungkin terjadi.
Selain itu, keberadaan siklon tropis di utara Papua juga memungkinkan hujan turun meski intensitasnya rendah.
Baca juga: BMKG Stasiun Siboru Fakfak Imbau Lima Sektor Hadapi El Nino
“Musim kemarau bukan berarti kering total, tetapi curah hujan mengalami penurunan,” tambahnya.
Sebagai tindak lanjut, BMKG Siboru telah berkoordinasi dengan instansi teknis terkait untuk mengantisipasi potensi bencana.
Informasi resmi juga telah disampaikan melalui surat kepada dinas-dinas terkait.
Setelah periode kemarau berkepanjangan, masyarakat diperkirakan akan memasuki musim pancaroba yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologis seperti banjir dan tanah longsor.
BMKG Fakfak menyoroti kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Distrik Bomberai dan Tomage yang diperparah oleh musim kemarau panjang serta fenomena El Nino.
“BMKG akan rutin memperbarui titik hotspot Karhutla di Fakfak melalui kanal resmi kami,” jelas Laura.
Baca juga: BMKG Prediksi Musim Kering di Fakfak Berlanjut hingga September 2026
Imbauan BMKG
BMKG Siboru-Fakfak mengeluarkan sejumlah imbauan penting bagi masyarakat, khususnya di wilayah rawan kebakaran: