TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Fakfak (Polinef) melaksanakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Aula Kampus Polinef, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, Rabu (26/8/2026).
Ketua BEM Polinef Said Umar Almahdaly menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, melainkan momentum untuk mengenal, mengingat, dan meneladani kehidupan serta akhlak Rasulullah SAW.
“Di tengah kehidupan mahasiswa yang penuh tantangan, kita membutuhkan nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah SAW, seperti kejujuran, kesabaran, kepedulian, sikap saling menghargai, serta keberanian untuk melakukan kebaikan,” ujarnya.
Baca juga: Seminar BEM Polinef: Kolaborasi Lintas Sektor Wujudkan Kedaulatan Pangan Papua
Ia menekankan, mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik dan intelektual, tetapi juga karakter dan akhlak yang baik.
“Ilmu tanpa akhlak dapat kehilangan makna,” tandasnya.
Selain itu, Said memberikan apresiasi kepada panitia yang menyiapkan kegiatan hanya dalam waktu tiga hari.
Meski singkat, panitia tetap menjalankan tanggung jawab dengan baik, mulai dari pembagian tugas, koordinasi, persiapan perlengkapan, hingga pelaksanaan bazar untuk mendukung acara.
“Tiga hari mungkin terlihat singkat, tetapi di dalamnya ada tenaga, waktu, pikiran, dan tantangan yang dihadapi bersama. Semua itu bagian dari proses belajar berorganisasi,” katanya.
Baca juga: Semangat Cinta Rasul dalam Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Kampung Sekban Fakfak
Ia menambahkan, keberhasilan sebuah kegiatan bukan hanya dilihat dari kesempurnaan acara, tetapi juga dari proses, kerja sama, dan tanggung jawab yang ditunjukkan.
Atas nama BEM Polinef, ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia, pihak yang membantu, serta mahasiswa yang mendukung kegiatan tersebut.
“Semoga setiap tenaga, waktu, pikiran, dan kebaikan yang diberikan menjadi amal ibadah dan mendapat balasan terbaik dari Allah SWT,” ucapnya.
Said berharap nilai-nilai keteladanan Rasulullah dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai mahasiswa, anggota organisasi, maupun bagian dari masyarakat.
Ia juga mengajak mahasiswa menjaga kebersamaan di tengah perbedaan latar belakang, program studi, dan pemikiran.
“Perbedaan harus menjadi kekuatan untuk membangun Polinef menjadi lebih baik,” tuturnya.