Wanita Belanda menjadi pendeta Taois di Singapura: 'Inilah yang selama ini saya cari'.
Tim TribunStyle August 26, 2026 01:55 PM

TRIBUNSTYLE.COM - Sejak usia dini, Sann Carrière telah memiliki ketertarikan terhadap spiritualitas dan berbagai pengalaman yang ia alami melalui mimpi. Kini, pada usia 42 tahun, warga negara Belanda tersebut telah menjalani penahbisan penuh sebagai pendeta Taois di Singapura. Dikutip Tribunstyle dari stomp.sg Rabu (26/08/26)

Sejak kecil, Sann Carrière terpesona oleh spiritualitas dan hal-hal yang dilihatnya dalam mimpinya. (Instagram/SONOWSANN)

Jauh sebelum mengenal Taoisme, Carrière mengaku telah mengalami mimpi lucid serta melihat berbagai hal yang sulit dijelaskannya, termasuk sosok orang-orang yang telah meninggal dunia.

Saat ditemui Stomp di Kuil Buddhaguna, Kembangan, Carrière menceritakan bagaimana ketertarikannya terhadap spiritualitas berkembang hingga membawanya menjalani perjalanan selama 14 tahun untuk menemukan keyakinan yang sesuai dengan dirinya.

Melihat orang yang telah meninggal dalam mimpi

Carrière mengatakan bahwa ketertarikannya terhadap spiritualitas, terutama kesadaran, mimpi, dan alam, telah muncul sejak kecil. Pada masa itu, ia juga kerap mengalami apa yang kemudian ia kenal sebagai mimpi lucid, meskipun saat itu belum mengetahui istilah tersebut.

Mimpi lucid merupakan kondisi ketika seseorang menyadari bahwa dirinya sedang bermimpi saat mimpi tersebut berlangsung. Dalam beberapa keadaan, seseorang bahkan dapat memengaruhi jalannya mimpi sehingga pengalaman tersebut terasa sangat nyata.

“Saya mengalami hal-hal ini sejak usia sangat muda, sehingga untuk waktu yang lama saya tidak menyadari bahwa pengalaman tersebut sebenarnya tidak biasa,” ujar Carrière.

Ia menceritakan bahwa dalam beberapa kesempatan dirinya dapat menggambarkan sosok yang muncul dalam mimpi secara terperinci. Salah satunya adalah nenek dari seorang teman dekatnya. Carrière mampu menggambarkan penampilan hingga pakaian wanita tersebut, sebelum akhirnya mengetahui bahwa wanita itu ternyata telah meninggal.

Karena mimpi telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak kecil, Carrière baru menyadari ketika dewasa bahwa tidak semua orang mengalami mimpi dengan cara yang sama.

Menurutnya, pengalaman tersebut membuatnya sejak dini tertarik untuk memahami kesadaran. Menurut Carrière, kemampuan untuk berada dalam mimpi sekaligus menyadari bahwa dirinya sedang bermimpi secara alami menimbulkan pertanyaan mengenai persepsi, kesadaran, serta pemahaman manusia terhadap realitas.

Ia juga mengingat beberapa pengalaman ketika menceritakan sesuatu yang dilihatnya dalam mimpi kepada orang lain, kemudian mendapati bahwa hal tersebut benar-benar terjadi sekitar satu minggu setelahnya. Pengalaman itu membuatnya menyadari bahwa sebagian mimpinya tidak sekadar mimpi, tetapi ia anggap sebagai gambaran mengenai kejadian yang akan datang.

Carrière juga mengatakan bahwa dirinya kerap mengalami mimpi mengenai berbagai kemungkinan bencana di masa depan, seperti perubahan iklim, berkurangnya sumber daya, hingga eksploitasi sumber daya alam.

Ketertarikannya terhadap keberlanjutan yang semakin kuat kemudian mendorongnya mendirikan Orobo, sebuah perusahaan teknologi berkelanjutan yang berbasis di Singapura. Perusahaan tersebut didirikan pada 2020 dan berperan sebagai jembatan digital dalam perdagangan global, sekaligus membantu bisnis menunjukkan berbagai upaya mereka dalam menerapkan praktik ramah lingkungan.

Meski pengalaman melalui mimpi tidak secara langsung membawanya kepada Taoisme, Carrière mengatakan bahwa pengalaman tersebut telah “membuka pintu” sejak usia muda dan menumbuhkan ketertarikannya terhadap kesadaran serta berbagai tradisi yang mengeksplorasi pikiran melalui pengalaman langsung, bukan hanya melalui pemahaman intelektual.

Ketika akhirnya mengenal praktik Taoisme, ia merasa pendekatan yang bersifat pengalaman tersebut sangat sesuai dengan dirinya, terutama karena terdapat berbagai ritual fisik dalam praktik kepercayaan tersebut.

Perjalanan 14 tahun sebagai seorang Taois

Sebelum pindah dari Belanda ke Singapura delapan tahun lalu, Carrière telah mengenal Taoisme dan mulai mempraktikkannya sejak 2012.

Ia mengatakan bahwa ketertarikannya terhadap Taoisme bermula ketika dirinya berdoa agar dapat menemukan cara untuk mengintegrasikan kehidupan duniawi dan spiritualnya. Pada saat itu, ia merasa terdapat pertentangan antara kepribadian sosialnya dengan sisi spiritual yang lebih mendalam, sehingga dirinya merasa sulit dipahami oleh orang-orang di sekitarnya.

Setelah berdoa di sebuah pantai di Belanda, Carrière menemukan sebuah kursus Nei Dan yang diselenggarakan di tiga lokasi berbeda di negara tersebut. Nei Dan merupakan sistem kuno dalam Taoisme yang mencakup berbagai praktik spiritual, mental, dan fisik.

Salah satu tempat pelaksanaan kursus ternyata berada di sebuah studio yang terletak di jalan yang sama dengan tempat tinggalnya. Bagi Carrière, kebetulan tersebut menjadi sesuatu yang tidak dapat ia abaikan.

Setelah mengikuti sesi bimbingan pertamanya, ia merasa telah menemukan sesuatu yang selama ini dicari.

Hal yang paling menarik perhatiannya dari Taoisme adalah kesempatan untuk mengeksplorasi dan memahami berbagai hal melalui pengalaman pribadi.

Meskipun telah berpindah dari satu negara ke negara lain, Taoisme dan praktik spiritual tetap menjadi bagian yang konsisten dalam kehidupannya.

Menurut Carrière, Taoisme tidak lagi berkaitan dengan tempat tertentu, melainkan lebih kepada bagaimana ia menjalani kehidupannya sehari-hari.

Menghadap para dewa untuk menjadi pendeta

Setelah menetap di Singapura, Carrière bergabung dengan Quan Zhen Cultural Society, sebuah organisasi Taois, sekitar tiga tahun lalu.

Komunitas yang beranggotakan sekitar 70 orang tersebut berkumpul di Balestier Point untuk mempelajari sekaligus menjalankan berbagai tradisi Taoisme.

Salah satu momen penting dalam perjalanan spiritual Carrière terjadi tidak lama setelah ia bergabung dengan komunitas tersebut, yaitu ketika dirinya menjalani penahbisan penuh sebagai pendeta Taois.

Menjelang proses penahbisan, ia mengikuti sebuah ritual khusus yang menurutnya merupakan pengalaman yang sangat istimewa.

Dalam ritual tersebut, Carrière “mempersembahkan dirinya” kepada para dewa. Melalui proses ramalan, para dewa diyakini akan menentukan apakah menjadi seorang pendeta merupakan bagian dari jalan spiritualnya.

Ia menjelaskan bahwa sebuah altar disiapkan dengan dihadiri sejumlah anggota komunitas yang telah menjalani penahbisan. Alat ramalan kemudian digunakan untuk menanyakan apakah menjadi pendeta merupakan jalan yang tepat bagi dirinya. Jawaban tersebut dikonfirmasi sebanyak tiga kali untuk memastikan hasilnya konsisten, biasanya dengan melihat cara alat-alat tersebut jatuh.

Carrière mengaku merasa senang sekaligus tegang selama proses tersebut karena ia tidak mengetahui hasil yang akan diperoleh.

Pada satu titik, ia menyadari bahwa para dewa dianggap dapat mengetahui isi hatinya sehingga tidak ada gunanya berusaha memengaruhi hasil ritual.

Ketika hasil ritual menunjukkan jawaban yang sangat positif, Carrière mengaku terkejut sekaligus bahagia.

Ia mengatakan bahwa orang-orang di sekitarnya kemudian memberikan ucapan selamat, sementara dirinya merasakan kebahagiaan yang mendalam. Baginya, momen tersebut menjadi salah satu pengalaman yang sangat berkesan.

Setelah penahbisan, Carrière memperoleh izin untuk menjalankan sejumlah ritual dan memberikan pemberkatan tertentu sesuai dengan tingkat inisiasi dan penahbisannya. Hal tersebut berkaitan dengan adanya hierarki dalam tradisi Taoisme.

Ketika ditanya apakah pernah ada pengunjung kuil yang meragukan kemampuannya sebagai pendeta Taois karena latar belakang rasnya, Carrière memilih untuk tidak memberikan komentar.

Menurutnya, menjadi seorang pendeta Taois tidak hanya berkaitan dengan mempelajari filsafat Taoisme, melantunkan mantra, atau melakukan meditasi. Seorang pendeta juga perlu memahami bagaimana menjalankan perilaku sesuai dengan tradisi serta menyadari bahwa dirinya telah menjadi bagian dari garis keturunan dan komunitas Taois.

Carrière menegaskan bahwa penahbisan bukan berarti proses belajar telah selesai. Ia masih terus menjalankan praktik spiritual dan mempelajari berbagai hal dalam tradisi Taoisme. 

Mempelajari bahasa Mandarin menjadi tantangan terbesar

Bagi Carrière, salah satu tantangan paling besar selama menjalani perjalanan spiritual dalam Taoisme adalah keterbatasan dalam berbahasa Mandarin.

Ia menyadari bahwa sebagai perempuan asal Belanda yang menjalankan tradisi yang memiliki akar kuat dalam budaya dan praktik keagamaan Tiongkok, masih banyak hal yang perlu ia pelajari.

Menurutnya, perbedaan latar belakang tersebut tidak seharusnya diabaikan. Carrière tidak menganggap Taoisme sebagai sesuatu yang menjadi “haknya”, melainkan sebuah tradisi yang perlu dipelajari sekaligus dihormati.

Ia mengaku bahwa persoalan bahasa menjadi salah satu bagian yang membuatnya merasa paling rentan. Meskipun mampu mempelajari sebuah nyanyian atau lantunan dan memahami maknanya, ia menyadari bahwa pengalaman tersebut tetap berbeda dengan pemahaman alami seseorang yang sejak kecil tumbuh menggunakan bahasa Mandarin.

Perubahan penting terjadi pada tahun sebelumnya ketika Carrière menyadari bahwa dirinya tidak dapat mengikuti ujian pada tahap berikutnya tanpa meningkatkan kemampuan bahasa Mandarinnya secara lebih serius. Hal tersebut menjadi semakin penting karena kitab-kitab yang harus dipelajari dan dianalisis dalam proses tersebut juga menggunakan bahasa Mandarin.

Karena itu, Carrière memilih untuk terus berusaha mempelajari bahasa tersebut. Ia berlatih melantunkan mantra, mendalami berbagai teks, serta aktif mengajukan pertanyaan untuk meningkatkan pemahamannya.

“Sebuah proses seumur hidup”

Carrière mengatakan bahwa salah satu anggapan yang pernah ia temui adalah pandangan bahwa dirinya tidak akan pernah benar-benar memahami Taoisme karena tidak lahir di Singapura.

Ia mempertanyakan anggapan tersebut dan mengatakan bahwa meskipun dirinya lahir sebagai perempuan kulit putih di Belanda, tidak ada yang dapat menentukan alasan mengapa praktik Taoisme dapat memiliki hubungan yang begitu kuat dengan dirinya.

Di sisi lain, Carrière mengaku sangat menghargai penerimaan yang diberikan oleh komunitas Taois kepadanya.

Menurutnya, kesempatan untuk menjadi bagian dari garis keturunan Taois merupakan sebuah kepercayaan yang ia pandang dengan penuh keseriusan dan tanggung jawab.

Saat ini, Carrière mengunjungi kuil setidaknya satu kali dalam seminggu. Di luar waktu tersebut, ia menjalankan praktik meditasi secara mandiri di rumah.

Setelah 14 tahun menjalani perjalanan spiritualnya, bahkan setelah resmi menjadi pendeta Taois, Carrière tetap memandang dirinya sebagai seorang pembelajar. Ia menerima bahwa perjalanan dalam memahami dan menjalankan Taoisme merupakan sebuah proses seumur hidup. Tribunstyle 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.