Tangis Suster Dinda Pecah Saat Relawan UMI Bawa Bantuan di Pengungsian NTT 22 Jiwa Berbagi 1 Tenda
Ilham Mulyawan August 26, 2026 02:47 PM

TRIBUN-SULBAR.COM - Sebanyak 2.000 warga Desa Ranaka, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih mengungsi pascagempa magnitude 7,6 yang mengguncang NTT pada 15 Agsutus 2026 lalu. 

Relawan Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makasar telah hadir memberi pelayanan kesehatan kepada 97 pasien.

Baca juga: Pastikan Pengungsi Gempa NTT Sehat PNM Salurkan Air Bersih untuk Pengungsi Posko Robo Ruteng

Baca juga: PNM Peduli Salurkan Bantuan Warga Terdampak Gempa di NTT Sentuh 1.347 Penerima Manfaat

Mereka juga membawa tenda, selimut, popok bayi, dan kebutuhan dasar untuk warga serta menguatkan tenaga kesehatan yang juga menjadi penyintas.

Tangis haru tak dapat disembunyikan Fransiska Dinda Nova Parera, seorang tenaga kesehatan ketika melihat sebuah tenda darurat yang dibawa Tim Relawan Medis Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar ke lokasi pengungsian Desa Ranaka, Kecamatan Waeri’i, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Rabu, 26 Agustus 2026.

Fransiska, yang akrab disapa Suster Dinda, bukan sekadar warga yang sedang menghadapi situasi pascabencana.

Ia adalah tenaga kesehatan Puskesmas Timung.

Sudah lebih dari sepekan, bersama tenaga kesehatan lainnya, ia tetap melayani masyarakat terdampak gempa.

Namun di balik seragam dan pekerjaannya sebagai tenaga kesehatan, Suster Dinda juga menghadapi kondisi yang tidak mudah.

Di lokasi pengungsian, satu tenda yang ditempatinya bersama warga harus dihuni enam keluarga dengan total 22 jiwa, termasuk seorang bayi berusia tiga bulan.

“Kami dalam satu tenda ada enam keluarga dan ada bayi. Dua puluh dua jiwa, dan ada satu bayi tiga bulan,” ungkap Suster Dinda.

Karena itu, ketika Wakil Rektor II UMI Prof. Dr. Ir. H. Zakir Sabara HW., S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., APEC Eng. menunjukkan tenda tambahan yang dibawa tim relawan, Suster Dinda tak mampu menyembunyikan rasa harunya.

“Terima kasih, Pak,” ucapnya sambil memeluk Prof. Zakir.

Bukan karena bantuan tersebut mewah.

Tetapi karena pada kondisi ketika puluhan orang harus berbagi ruang pengungsian yang terbatas, satu tenda tambahan berarti ada keluarga yang dapat beristirahat sedikit lebih layak.

Kepala Puskesmas Timung Manggarai, Maria Roslita Gaudensia, menjelaskan bahwa jumlah warga yang mengungsi di wilayah tersebut sangat besar.

Menurutnya, sekitar 500 kepala keluarga atau kurang lebih 2.000 jiwa terdampak dan berada di lokasi-lokasi pengungsian.

“Banyak sekali, Pak. Satu desa di sini semua. Ada sekitar lima ratus KK,” ujarnya ketika berdialog dengan Prof. Zakir.

Warga meninggalkan rumah setelah gempa besar mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

BMKG mencatat gempa tersebut memiliki parameter pemutakhiran magnitudo 7,7 dengan kedalaman 15 kilometer, dan Manggarai termasuk wilayah yang terdampak guncangan serta peringatan dini tsunami saat kejadian. 

“Di antara tenaga kesehatan ini ada juga yang menjadi korban. Bahkan ada yang kondisinya lebih berat. Tetapi sudah lebih dari sepekan mereka tetap bersama masyarakat dan terus melayani,” ujar Zakir Sabara.

Karena itu, menurut Prof. Zakir, misi kemanusiaan UMI tidak hanya ditujukan kepada masyarakat yang mengungsi.

Tim juga ingin memberikan dukungan kepada tenaga kesehatan lokal yang tetap berdiri di garis pelayanan meski kehidupan mereka sendiri ikut terdampak.

“Kita datang memberikan support dan semangat. Yang juga harus kita kuatkan adalah tenaga-tenaga kesehatan yang luar biasa ini. Mereka sendiri terdampak, tetapi tetap memilih melayani masyarakat,” katanya.

Mereka juga penyintas. Tetapi ketika warga membutuhkan pertolongan, mereka tetap bekerja.

Selain menyerahkan bantuan, Tim Relawan Medis UMI bersama Association of Medical Doctors of Asia (AMDA), Tim Bantuan Medis Fakultas Kedokteran UMI, AR7 Team, dan KAHMI Manggarai langsung membuka pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Tim medis dipimpin dr. Berry Erida Hasbi, Sp.B. bersama dr. Kirsan dan anggota relawan lainnya.

Dalam waktu kurang lebih tiga jam, sebanyak 97 pasien mendapatkan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan.

Warga datang membawa berbagai keluhan kesehatan yang muncul atau memburuk selama tinggal di pengungsian.

Tim melakukan pemeriksaan, konsultasi, serta memberikan obat sesuai kondisi masing-masing pasien.

Bagi masyarakat yang telah berhari-hari hidup dalam kondisi darurat, pelayanan sederhana seperti pemeriksaan tekanan darah, konsultasi dokter, dan ketersediaan obat menjadi kebutuhan yang sangat berarti. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.