Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengandalkan sumur bor dalam menghadapi tantangan krisis pasokan air dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berskala luas yang saat ini melanda sejumlah wilayah rawan di Sumatera dan Kalimantan.

Kepala Bagian Pelayanan dan Penyajian Informasi Publik Kemenhut, Agus Yasin dalam diskusi yang diikuti secara daring di Jakarta, Rabu mengungkapkan bahwa kemarau panjang telah membuat operasi pemadaman udara melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan semakin sulit dan tidak efektif untuk dilakukan.

"Kalau kemarin-kemarin kita masih bisa menggunakan Teknologi Modifikasi Cuaca untuk hujan buatan, cuman semakin ke sini bibit-bibit awan semakin menipis. Mau nggak mau memang pasukan darat yang banyak diterjunkan dan semakin banyak personil yang diturunkan itu semakin efektif juga untuk melakukan penanganan-penanganan tersebut," katanya memaparkan.

Berdasarkan data terkini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Agus memaparkan bahwa kondisi kering ekstrem tanpa curah hujan ini telah berlangsung cukup lama dan diprediksi akan terus berlanjut hingga dua bulan penuh.

"Jadi musim kemarau ini, kemarin kami dikabari dari BMKG, sudah hampir 30 hari tanpa hujan. Ini kemungkinan bisa jadi sampai 60 hari tanpa hujan," ujarnya.

Guna menyiasati krisis air di permukaan yang terus menguap akibat evaporasi, tim satgas gabungan dari Kemenhut, TNI, Polri, dan instansi terkait kini mengubah taktik dengan membuat sumur bor langsung menembus ke bagian dalam lapisan lahan gambut.

Langkah ini diambil karena lahan gambut memiliki kesatuan hidrologis yang masih menyimpan cadangan air di kedalaman tertentu.

"Jadi kita tinggal tusuk buat sumur bor secara langsung itu bisa dapat airnya. Jadi itulah yang saat ini dimaksimalkan dalam pengendalian kebakaran khususnya di Sumatera dan Kalimantan," ucap Agus Yasin.

Terpisah, sebelumnya Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meminta penambahan sumur bor untuk mengatasi krisis air dalam upaya menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan, terutama menghadapi puncak musim kemarau September nanti.

Dia mengakui saat ini sudah ada beberapa sumur bor yang dimanfaatkan petugas untuk pemadaman seperti di kawasan sekitar Bandara Internasional Syamsudin Noor yang lahannya rawan terbakar.

"Sumur bor ini menjadi sumber air utama saat sulitnya mendapatkan air untuk pemadaman," kata Menhut Raja (23/8).