Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Robert Ropo
TRIBUNFLORES.COM, RUTENG - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Diktisaintek) Republik Indonesia Prof. Brian Yuliarto, Ph.D., mengunjungi para mahasiswa dan dosen yang terdampak gempa Flores di kampus Unika St. Paulus Ruteng, Kabupaten Manggarai, Rabu, 26 Agustus 2026.
Saat melakukan kunjungan kerja di Ruteng, Kabupaten Manggarai, selain menemui para mahasiswa dan dosen korban terdampak gempa bumi, Menteri Prof. Brian juga melaksanakan berbagai agenda berupa konsolidasi dan dialog pemetaan awal serta persiapan kegiatan mahasiswa berdampak dalam Program Aksara Mahasiswa.
Dalam kesempatan ini, Menteri Brian juga mendengarkan langsung laporan dari para mahasiswa yang juga merupakan relawan utusan dari berbagai kampus, baik lokal maupun kampus dari luar NTT, serta dosen yang sedang turun membantu para korban di lokasi bencana.
Selain itu, Menteri Brian juga menyerahkan bantuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi 5.000 mahasiswa terdampak gempa Flores untuk satu semester dan menyerahkan secara simbolis bantuan kemanusiaan kepada mahasiswa dan dosen sebagai korban.
Baca juga: Jelang Kunjungan Prabowo di Nagekeo, Pengungsi Gempa Keluhkan Obat Batuk Anak Masih Harus Bayar
Bantuan itu diserahkan secara simbolis kepada perwakilan dosen Unika St. Paulus Ruteng yang rumahnya rusak terdampak gempa Flores.
Usai menyerahkan bantuan, Menteri Brian kemudian menyempatkan diri untuk meninjau langsung sekaligus memberikan penguatan kepada salah satu dosen Unika St. Paulus Ruteng yang rumahnya rusak terdampak gempa Flores.
Turut hadir dan mendampingi Menteri Brian sejumlah pejabat tinggi Kemendiktisaintek RI, Bupati Manggarai Herybertus G.L. Nabit, Kepala LLDikti Wilayah XV Prof. Adrianus Amheka, Rektor Unika St. Paulus Ruteng RD. Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic., Teol., Rektor Undana Kupang Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, ST., M.Eng., serta sejumlah perwakilan universitas, baik di daratan Flores maupun dari luar Flores.
Menteri Brian dalam kesempatan itu mengatakan kehadiran pihaknya untuk melihat langsung para mahasiswa dan dosen yang terdampak bencana gempa Flores serta melakukan konsolidasi awal untuk persiapan Program Aksara Mahasiswa.
Ia juga memberikan motivasi dan semangat kepada para korban agar tetap semangat dan bangkit serta bisa memperbaiki diri untuk menjalankan hidup selanjutnya yang lebih baik lagi. Kehadiran pihaknya untuk memberikan dukungan dan membantu warga yang sedang terdampak.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada LLDikti Wilayah XV bersama seluruh kampus di wilayah NTT, termasuk Unika St. Paulus Ruteng dan Undana Kupang, yang bergerak cepat untuk membantu penanganan tanggap darurat bagi para korban gempa dengan memberikan bantuan logistik sembako, termasuk menurunkan relawan dari mahasiswa dan dosen dari masing-masing kampus.
Sebagai bentuk dukungan kepada para mahasiswa terdampak gempa Flores, terang Menteri Brian, Kemendiktisaintek juga memberikan bantuan UKT tahap awal untuk satu semester bagi 5.000 mahasiswa terdampak.
"Kita tentu akan melihat jika kebutuhan masih diperlukan, kita akan menambah bantuan 1 semester lagi," ujarnya.
Sedangkan khusus mahasiswa yang terdampak, namun kuliah di luar wilayah NTT, Menteri Brian meminta kepada Pemerintah Daerah dan seluruh kampus untuk mendata mahasiswa-mahasiswa yang terdampak tersebut agar diberikan bantuan dan tepat sasaran.
"Kami juga sudah bicarakan dengan para rektor dan mereka siap membantu dan kita siap memberikan dukungan dari Kementerian," ujarnya.
Ditanya terkait banyak gedung kampus dan fasilitas serta sarana prasarana milik sejumlah Perguruan Tinggi di Flores, termasuk gedung Kampus Unika St. Paulus Ruteng yang mengalami kerusakan berat akibat gempa Flores, kata Menteri Brian, Kemendiktisaintek bersama sejumlah Perguruan Tinggi sudah melakukan konsolidasi untuk membantu mengembalikan aktivitas akademik bagi Perguruan Tinggi yang terdampak agar segera pulih.
"Banyak hal yang kita sudah lakukan, selain bahan makanan, pembebasan UKT, menurunkan mahasiswa sebagai relawan untuk membantu para korban, tenaga dokter, kapal rumah sakit dari Universitas Airlangga, membangun rumah darurat untuk para korban, dan sejumlah bantuan yang kami sedang konsolidasikan untuk membantu memperbaiki kerusakan gedung Perguruan tinggi maupun peralatan," terangnya.
Bupati Manggarai Herybertus G.L. Nabit dalam kesempatan itu dengan terharu menyampaikan terima kasih atas kunjungan Mendiktisaintek yang telah melihat langsung para korban terdampak gempa Flores, khususnya para mahasiswa dan dosen.
Ia mengatakan, pascaterjadi gempa, korban terdampak gempa kembali mulai hidup dari nol, sebab seluruh bangunan dan harta benda semuanya rusak karena gempa dahsyat itu.
Karena itu, ia berharap perhatian dari berbagai pihak, termasuk Kemendiktisaintek, untuk memberikan perhatian kepada para korban, termasuk mahasiswa yang terdampak.
"Hari-hari terakhir ini hidup kami kembali ke titik nol. Kami biasa dalam rumah tangga menyekolahkan atau mengkuliahkan anak sebagai tanggung jawab kami setelah bangun rumah dulu. Namun hari ini kuliah anak belum selesai rumah sudah hancur, itulah kami katakan hidup kami kembali titik nol," ungkapnya haru.
Bupati Hery juga menyampaikan terima kasih kepada Menteri Brian dan semua pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah Provinsi, lembaga swasta, serta pihak lainnya yang telah memberikan bantuan untuk masyarakat terdampak, termasuk mahasiswa.
Bupati Hery juga dalam kesempatan itu melaporkan jumlah korban terdampak gempa Flores khusus di Kabupaten Manggarai hingga Rabu, 26 Agustus 2026, terdapat 45 orang meninggal dunia dengan rincian 22 meninggal saat hari kejadian dan 23 meninggal pascaterjadi gempa.
Menurutnya, alasan korban meninggal dunia paling banyak pascagempa karena shock dan juga peralatan kesehatan yang tidak sempurna karena fasilitas kesehatan hancur. Rumah sakit hancur, termasuk sebagian besar dari 25 puskesmas mengalami kerusakan.
Sehingga, perawatan harus dilakukan di posko-posko, baik di jalan, halaman, dan lain sebagainya.
Selain itu, perawatan pasien masih dilakukan di rumah masing-masing karena pasien maupun keluarganya takut dengan terjadinya gempa susulan.
Bupati Hery juga melaporkan saat ini 50 ribu lebih warga Manggarai masih mengungsi, baik pengungsian terpusat maupun mandiri, termasuk para mahasiswa.
"50 ribu lebih ini sedang kita urus bersama-sama. Di antara jumlah ini 7.500 orang merupakan kelompok rentan, baik ibu hamil, ibu menyusui, bayi, balita dan lain sebagainya, sehingga bantuan sangat dibutuhkan," ujarnya. (rob)