BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin terus menggenjot proyek pengerukan dan normalisasi di sejumlah alur sungai guna mengembalikan fungsi drainase dan meningkatkan daya tampung air.
Upaya ini menyasar berbagai kawasan sungai yang mengalami pendangkalan akibat endapan lumpur dan sampah.
Tak hanya itu, Pemko melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarmasin juga berencana membuka kembali akses sungai-sungai mati untuk mengembalikan fungsi alami alur air untuk pengendalian banjir jangka panjang di Kota Seribu Sungai.
Kepala Bidang Sungai Dinas PUPR Banjarmasin, Khairina Rahmi menjelaskan, pihaknya kerap menemui kendala dalam upaya pengerukan di lapangan.
Hambatan itu datang dari pemukiman padat dan bangunan warga yang berdiri tepat di atas maupun tepi sungai. Kondisi tersebut membatasi hingga menutup akses masuk alat berat ke lokasi pengerukan.
Baca juga: Penampakan Pesawat Hercules Angkut Bantuan Presiden Tangani Karhutla di Kalsel, Bawa Pompa Air
"Kendalanya alat kami tidak bisa masuk karena terhalang rumah warga yang membangun sampai ke atas sungai. Akibatnya terjadi pendangkalan, saat air pasang, daya tampungnya sedikit sehingga air meluap ke pemukiman," ungkap Emmy, sapaan akrabnya.
Meski warga terbukti melanggar, menurutnya penertiban dan pendekatannya harus dilakukan secara bertahap, karena warga sudah puluhan tahun bermukim di dekat sungai.
Sebelumnya, Kepala Dinas PUPR Banjarmasin, Chandra Iriandhy Wijaya mengatakan, pihaknya melakukan pembukaan sungai-sungai, di antaranya dengan menjebol berbagai hambatan untuk mengembalikan alur sungai yang mati, atau sungai-sungai kecil yang hilang karena pembangunan rumah-rumah warga.
Ditambahkannya, kondisi tersebut diperlukan untuk pengendalian banjir, mengingat Banjarmasin secara geografis berada 18 cm di bawah permukaan laut.
Menurut Chandra, penanganan banjir di Banjarmasin harus disesuaikan dengan sumber penyebabnya.
Selain dipengaruhi kondisi geografis yang berada di bawah permukaan laut, Banjarmasin juga kerap menghadapi banjir rob dari daerah aliran sungai (DAS) Barito serta kiriman air dari Sungai Martapura yang masuk ke jaringan sungai-sungai kecil.
Sementara itu, banjir akibat curah hujan tinggi terjadi ketika volume air melebihi kapasitas tampung sungai dan drainase.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemko Banjarmasin memprioritaskan normalisasi sungai dan drainase, sekaligus menghidupkan kembali sungai-sungai yang selama ini mati atau terputus.
Program tersebut, lanjut Chandra, merupakan arahan langsung Wali Kota Banjarmasin Muhammad Yamin HR sebagai bagian dari strategi jangka panjang pengendalian banjir.
Salah satu langkah yang kini diprioritaskan adalah mengembalikan fungsi anak-anak sungai yang dahulu masih aktif mengalir, namun kini mati akibat tertutup pembangunan, terutama kawasan permukiman.
"Data kami saat ini ada 512 sungai. Dari jumlah itu masih ada sekitar 30 anak sungai yang dulunya berfungsi, tetapi sekarang mati. Itu yang ingin kami hidupkan kembali," ungkapnya.
Dengan terbukanya kembali alur sungai tersebut, kapasitas tampungan air diharapkan meningkat sehingga air rob maupun limpasan hujan dapat terdistribusi ke jaringan sungai secara lebih merata dan tidak meluap ke jalan maupun kawasan permukiman.
Secara keseluruhan, Pemko sendiri menargetkan tambahan kapasitas tampung sungai mencapai
sekitar 990 ribu meter kubik melalui normalisasi sekitar 55 kilometer alur sungai yang dinilai masih memungkinkan untuk dipulihkan.
Normalisasi tersebut mencakup pengerukan dengan target kedalaman rata-rata tiga meter dan lebar sekitar enam meter pada alur sungai yang mengelilingi kawasan pinggiran Kota Banjarmasin.
(Banjarmasinpost.co.id/Mariana)