Dituduh Curi Gamelan, Gusti Moeng Heran Semua Gamelan Ada Saat Grebeg Maulud Keraton Solo
Putradi Pamungkas August 26, 2026 06:15 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Pengageng Sasana Wilapa PB XIV Hangabehi GKR Koes Moertiyah Wandansari atau akrab disapa Gusti Moeng heran dengan tuduhan mencuri gamelan yang mencuat dalam polemik Keraton Solo, Jawa Tengah. 

Ia menegaskan gamelan yang diperkarakan masih ada dan ikut ditabuh saat Grebeg Maulud, Rabu (26/8/2026).

“Lah itu gamelannya di sana yang dua di sana ditabuh itu ada di sana,” ungkapnya.

GREBEG MAULUD - Dua kubu Keraton Kasunanan Surakarta menggelar Grebeg Maulud secara beriringan, Rabu (26/8/2026). Prosesi adat untuk memperingati Nabi Muhammad saw. itu diwarnai dugaan sabotase hingga ketegangan antarkubu.
GREBEG MAULUD - Dua kubu Keraton Kasunanan Surakarta menggelar Grebeg Maulud secara beriringan, Rabu (26/8/2026). Prosesi adat untuk memperingati Nabi Muhammad saw. itu diwarnai dugaan sabotase hingga ketegangan antarkubu. (TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin)

Gamelan Tetap Ditabuh Saat Grebeg Maulud

Gamelan Kyai Guntur Madu dikembalikan ke Sasana Handrawina setelah selesai ditabuh di Masjid Agung Keraton Solo.

Sementara itu, Gamelan Kyai Guntur Sari dibawa untuk mengiringi Grebeg Maulud.

Gamelan Monggang Ageng juga ditabuh secara bergantian, termasuk oleh kubu Pakubuwono XIV Purbaya saat memberangkatkan gunungan dari kubunya.

GKR Wandansari mengaku tidak ambil pusing dengan laporan yang mempermasalahkan gamelan tersebut.

Ia menyatakan siap mengikuti proses hukum yang berjalan.

“Ya sudah dia merasa perlu lapor. Biar saja. Nanti bagaimana jalannya kita ikuti saja,” jelasnya.

Baca juga: Dua Kubu Keraton Solo Gelar Grebeg Maulud, Diwarnai Dugaan Sabotase hingga Adu Mulut

Gamelan Dipindahkan karena Kondisi Bangunan

Sebelumnya, kubu Purbaya mempermasalahkan gamelan yang dikeluarkan dari Pendhapa Parangkarsa tanpa seizin pihaknya.

GKR Wandansari menjelaskan pihaknya memindahkan gamelan karena kondisi bangunan yang sudah memprihatinkan.

“Ya seperti yang waktu itu rekan-rekan juga ada. Waktu saya mengeluarkan dari gedong itu. Mepet dari Parangkarso itu sudah jebol,” tuturnya.

Menurutnya, pemindahan gamelan tersebut menjadi bagian dari persiapan Revitalisasi Kawasan Keraton Solo.

Namun, proyek revitalisasi mengalami kemunduran karena masih menunggu proses tender.

“Ini revitalisasi kemarin kan revitalisasi mulai awal Agustus. Ditenderkan sehingga mundur. Waktu itu memindahkan karena mulainya awal Agustus,” jelasnya.

Persiapan Revitalisasi dalam Pengawasan

GKR Wandansari memastikan proses persiapan revitalisasi Keraton Solo sudah melalui pengawasan pihak berwenang.

“Ya Mas Surya itu kan memang petugas cagar budaya. Kerusakan mana saja itu kan bertanggung jawab,” tuturnya.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.