BANGKAPOS.COM - Anomali suhu permukaan laut dan fenomena IOD positif yang persisten memicu penguranan suplai uap air secara signifikan di wilayah Indonesia.
Dampaknya, BMKG mencatat peningkatan drastis titik panas yang berisiko tinggi memicu bencana karhutla serta kabut asap lintas daerah.
Provinsi Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat tercatat sebagai salah satu wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi saat ini.
Baca juga: Prakiraan Cuaca BMKG Sampai 31 Agustus 2026: Hujan Lebat & Angin Kencang Mengintai Daerah Ini
Berikut ulasan detail sebaran 868 titik panas di Indonesia serta imbauan resmi dari BMKG.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 868 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di sejumlah wilayah Indonesia sejak 23 Agustus 2026 lalu.
Ratusan titik panas tersebut terpantau di Sumatera, Kalimantan, Papua, dan Maluku.
Kondisi atmosfer yang cenderung kering membuat potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih perlu diwaspadai pada periode 24-30 Agustus 2026.
Berdasarkan data pemantauan yang dirilis BMKG, sebanyak 383 titik panas terdeteksi di Kalimantan, 299 titik di Sumatera, serta 186 titik di Papua dan Maluku.
Di Sumatera, titik panas terbanyak terdeteksi di Sumatera Selatan dengan 166 titik, disusul Riau 47 titik dan Jambi 34 titik.
Sementara di Kalimantan, Kalimantan Barat mencatat 50 titik panas, Kalimantan Timur 33 titik, dan Kalimantan Tengah 29 titik.
Di wilayah Papua dan Maluku, titik panas terdeteksi antara lain di Papua Barat sebanyak 51 titik, Maluku 38 titik, Papua Selatan 38 titik, serta Papua Tengah 33 titik.
BMKG menyebut kondisi atmosfer di Indonesia secara umum kurang mendukung pembentukan awan hujan.
Hasil monitoring pada Dasarian II Agustus 2026 menunjukkan indeks IOD sebesar +0,394, meningkat dibandingkan Juli yang berada di angka +0,242.
Kondisi tersebut menunjukkan IOD positif yang persisten.
BMKG menjelaskan kondisi ini ditandai suhu muka laut yang lebih hangat dari normal di Samudra Hindia bagian barat dan lebih dingin dari normal di sekitar perairan Sumatera dan Jawa bagian barat.
Kondisi tersebut secara umum dapat mengurangi suplai uap air menuju wilayah Indonesia dan mendukung kondisi yang lebih kering.
Selain itu, nilai Sea Surface Temperature Anomaly (SSTA) atau Anomali Suhu Permukaan Laut di wilayah Nino3.4 tercatat +2,99, meningkat dari +2,20 pada Juli.
BMKG menyebut kondisi tersebut menunjukkan El Nino dengan intensitas sangat kuat.
Meski demikian, masih terdapat dinamika atmosfer yang dapat mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah.
(Kompas/Tribunnews)