Oleh: Azhar Abdullah Panton*)
Mengulas peternakan Aceh tidak bisa terlepas dari sosok Mohd Roesli Joesoef.
Ia adalah Kepala Dinas Peternakan (Kadisnak) Provinsi Aceh yang bertugas di dua zaman (orde lama dan orde baru).
Roesli dipercaya sebagai Kadisnak Aceh oleh enam gubernur, sejak Teuku Panglima Nyak Adam Kamil hingga Teuku Mohammad Hadi Thayeb.
Ia adalah dokter hewan (drh) sekaligus perwira militer yang visioner.
Walau tidak sepopuler pahlawan perang, dedikasinya dalam membangun peternakan Aceh adalah warisan tak ternilai.
Selama 14 tahun (1964-1978) mengepalai Disnak Aceh, berbagai terobosan telah dilakukan Putra Bireuen ini.
Ia menjadi arsitek dibalik kemajuan peternakan dan kesehatan hewan di Aceh.
Kecerdasan dan tangan dinginnya mampu meracik berbagai program hingga peternakan Aceh mencapai masa keemasan.
Salah satu langkah visioner Roesli adalah menjadikan Aceh sebagai pengekspor ternak.
Baca juga: Akselerasi Ekonomi Melalui Pengolahan Biodiesel di Aceh
Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, menjadi saksi bisu kalau Aceh pernah mengirimkansapi dan kerbau ke negeri jiran Malaysia hingga koloni Inggris di Hong Kong pada awal hingga pertengahan 1970-an.
Kala itu Aceh juga salah satu pemasok utama sapi dan kerbau untuk kebutuhan Provinsi Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Tidak kurang 20 truk per pekan dengan kapasitas 13-18 ekor per truk dikirim ke daerah tersebut.
Roesli layak disebut sebagai pionir dalam pembangunan peternakan Aceh. Ia meletakkan fondasi yang kuat dalam menopang peternakan “Tanah Rencong”.
Tidak hanya fokus meningkatkan populasi ternak dan pengembangan kawasan, ia juga mendorong lahirnya sumber daya manusia (SDM) peternakan yang profesional dan kompeten.
Ia mendirikan Sekolah Mantri Kehewanan pada tahun 1968.
Sekolah yang dikemudian hari bertransformasi menjadi Sekolah Pengamat Kehewanan (SPK).
Mulanya sekolah ini berada di Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar sebelum direlokasi ke Saree.
SPK mendidik siswa/siswi terpilih dari seluruh kabupaten/kota di Aceh.
Selama setahun mereka dilatih dan dibekali keterampilan untuk menjadi kader peternakan dan kesehatan hewan.
Saat ini SPK telah berubah menjadi UPTD Inseminasi Buatan dan Inkubator, Disnak Aceh.
Baca juga: RUU Migas Baru: Ketika Jakarta Lupa Ada Aceh!
Pada tahun yang sama, melalui usaha dan inisiasinya serta dukungan dari beberapa tokoh Aceh, Departemen Pertanian (sekarang Kementerian Pertanian) mewujudkan pendirian Sekolah Peternakan Menengah Atas (SNAKMA) Saree, Kabupaten Aceh Besar.
SNAKMA Saree adalah SNAKMA ketiga dari delapan SNAKMA yang ada di Indonesia.
SNAKMA pertama didirikan di Cinagara, Bogor, Jawa Barat dan kedua di Malang, Jawa Timur.
Sejak awal pendirian hingga 1975, ia juga yang diamanahkan untuk memimpin sekolah yang lulusannya telah menyebar di seluruh pelosok nusantara ini.
Sayang, SNAKMA Saree harus bubar di era 2000-an karena salah urus dari pengelola terakhir yang tidak mengikuti regulasi yang ditetapkan.
Pada tahun 1978, saat merangkap jabatan sebagai Kepala Kantor Wilayah Departemen Pertanian Propinsi Daerah Istimewa (DI) Aceh, Roesli menginisiasi pendirian Balai Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak (BPT-HMT) Indrapuri, Aceh Besar.
Instansi vertikal dibawah Kementerian Pertanian yang memiliki lahan seluas 430 Ha dan resmi berdiri sejak 25 Mei 1978, kini bernama Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT).
Tempat yang saat ini menjadi pusat pemurnian dan pengembangan Sapi Aceh.
Roesli juga yang diamanahkan sebagai kepala balai di awal pendiriannya.
Sementara, dalam meningkatkan populasi ternak, Roesli mengembangkan beberapa kawasan peternakan.
Misal di Ie Seum (Aceh Besar), Lageun dan Padang Meranti di wilayah Barat-Selatan, Krueng Simpo (Bireuen), Blangkejeren (Gayo Lues), Serbajadi dan lainnya.
Di tengah kompleksitas keamanan Aceh yang belum kondusif, Roesli berhasil membawa peternakan menuju masa keemasan.
Aceh dikenal sebagai salah satu daerah lumbung ternak di Indonesia.
Karenanya, Roesli layak disebut sebagai pelopor dan arsitek dibalik kejayaan peternakan Aceh.
Roesli adalah abiturien dinas militer sebagai perwira pertama dengan pangkat kapten.
Gelar dokter hewan (drh) diraihnya dari salah satu institusi pendidikan dokter hewan tertua di Indonesia, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Baca juga: Membaca Kedaulatan Aceh dari Buku Atjèh Bak Mata Dônja Karya Tgk Hasan Tiro
Ia memulai karier sebagai perwira Komando Daerah Militer (Kodam) Iskandar Muda yang ditugaskan pada bagian kesehatan.
Tahun 1964, saat menjabat sebagai kepala Rumah Sakit (RS) Kesdam (sekarang RS Tingkat II Iskandar Muda) ia dipercaya oleh Gubernur Aceh untuk mengisi jabatan di lingkungan Pemerintah Aceh.
Sejak saat itu Roesli dikaryakan sebagai Kepala Dinas Peternakan Aceh.
Ia menjadi Kadisnak kedua setelah Aceh berstatus DI. Menggantikan drh Raden Mas (RM) Soedjono Ronowinoto. Jabatan ini diembannya hingga 1978.
Di masa akhir mengemban jabatan Kadisnak, Roesli juga ditunjuk sebagai Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Deptan Propinsi DI Aceh (1975-1978). Instansi vertikal yang saat ini telah bertransformasi menjadi Dinas Pangan Provinsi Aceh.
Berkat dedikasi dan prestasinya, Gubernur Aceh Prof Drs Tgk H Abdul Madjid Ibrahim (1978-1981) mengangkat Roesli sebagai Asisten II Sekretariat Daerah Propinsi DI Aceh.
Jabatan asisten ini dijabatnya hingga 1983, saat Aceh dipimpin oleh Teuku Mohammad Hadi Thayeb.
Ada juga narasumber yang menyebut Roesli pernah memangku jabatan sebagai Pembantu Gubernur Wilayah I.
Tidak hanya berkecimpung dalam dunia birokrasi, Roesli juga membimbing tunas bangsa dan merawat ilmu kedokteran hewan dengan menjadi dosen FKH Universitas Syiah Kualapada masa awal kehadirannya.
Ia juga pernah menduduki kursi rektor Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe (1990-1994).
Pria yang memasuki masa purnawirawan dengan pangkat Letnan Kolonel ini adalah cerminan pemimpin yang utuh. Tegas dalam prinsip, disiplin dalam tindakan, dan berintegritas.
Dalam membina rumah tangga, Roesli adalah sosok kepala keluarga yang ideal.
Ia menjadi panutan bagi istri dan anak-anaknya.
Roesli menikah dengan Rohaya, gadis asal Gampong Mon Geudong, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.
Anak kedua dari 12 bersaudara dari pasangan Tgk Abdul Aziz dan Syamsiah.
Roesli sendiri adalah anak semata wayang dari pasangan Mohd Joesoef, pria asal Padang Tiji, Kabupaten Pidie dan Halimah, asal Peudada, Kabupaten Bireuen.
Dari pernikahannya, Roesli dikaruniai empat orang anak.
Anak sulungnya perempuan bernama Keumala dan tiga anak laki-laki: M Arief, M Mirza, dan M Kahar.
Tepat setahun setelah Tsunami menerjang Aceh, 26 Desember 2005 menjadi penutup perjalanan hidup perwira berhati veteriner ini.
Ia mengembuskan napas terakhir di Banda Aceh dalam usia 74 tahun dan dikebumikan di kampung halamannya Peudada, Bireuen.
Demikian kisah Letnan Kolonel drh Mohd Roesli Joesoef, perwira TNI AD yang layak ditabalkan sebagai “Bapak Peternakan Aceh”.
Melalui semangat Hari Peternakan dan Kesehatan Hewan Nasional yang diperingati setiap 26 Agustus, kita jadikan keteladanan Roesli sebagai inspirasi dalam membangun peternakan Aceh yang tangguh.
*) PENULIS adalah peminat literasi sejarah Aceh.