Upaya Swadaya Hidupkan Seni Tradisi: Wayang Ajen Kolaborasikan Nilai Budaya dan Teknologi
Muhamad Syarif Abdussalam August 26, 2026 08:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Wayang tidak harus menunggu anak muda datang ke panggung. Cara memperkenalkannya justru yang perlu diubah.

Bagi penggagas Wayang Ajen Diversity, Wawan Gunawan, mengenalkan wayang kepada generasi muda tidak cukup dengan mengatakan bahwa wayang adalah warisan budaya yang harus dilestarikan.

“Budaya jangan hanya diperkenalkan sebagai sesuatu yang kuno. Anak-anak harus diberi pengalaman langsung dan ruang untuk berkreasi,” kata Wawan, Rabu (26/8/2026).

Wawan mencontohkan, sebanyak 13 dalang cilik kerap unjuk gigi membawakan adegan dan karakter wayang dalam pergelaran Parade Dalang Cilik & Remaja Wayang Ajen Junior.

Bahkan, usia mereka baru 5–13 tahun. Mereka adalah Endaru (5 tahun), Aden Azlan (5 tahun), Rafan Gifari (6 tahun), Yudistira (10 tahun), Nino (7 tahun), Icen (11 tahun), Haedar (10 tahun), Zafier Gameel (9 tahun), Aden Azka (9 tahun), Satria (13 tahun), Mario Wicaksono (12 tahun), Angelica Sitinjak (10 tahun), dan Arachi Ammra (11 tahun).

Bagi Wawan, yang paling penting bukan semata pertunjukannya. Proses di belakang panggung justru menjadi bagian dari pendidikan.

“Anak-anak belajar tampil di depan orang banyak, berlatih disiplin, menghafal peran, bekerja sama, berkomunikasi, sekaligus memahami budaya yang mereka miliki,” ujarnya.

Dia tak menampik dalang cilik menjadi daya tarik tersendiri bagi pergelaran seni. Teranyar, mereka melakukan parade di Subang, Jawa Barat.

Menurut Wawan, tantangan terbesar kebudayaan hari ini bukan hanya bagaimana mempertahankan tradisi, tetapi bagaimana membuat tradisi tetap relevan bagi generasi baru.

“Wayang tidak harus diposisikan berseberangan dengan teknologi. Anak-anak bisa belajar wayang sekaligus mengenal teknologi, kreativitas digital, dan perkembangan zaman.”

Dengan pendekatan tersebut, wayang tidak berhenti sebagai tontonan masa lalu. Wayang bisa menjadi media pendidikan, ruang ekspresi, sekaligus bagian dari ekonomi kreatif dan pariwisata budaya.

“Anak-anak Indonesia tidak harus meninggalkan budaya lokal untuk menjadi modern. Mereka bisa modern dengan akar budaya yang kuat,” katanya.

Konsep itulah yang selama hampir tiga dekade coba dikembangkan Wayang Ajen dengan mempertemukan tradisi dan inovasi, seni pertunjukan dan kreativitas, serta kebudayaan dengan perkembangan teknologi.

Wawan mengatakan setiap kegiatan tersebut dibiayai keluarga Wayang Ajen, orang tua para dalang cilik, serta para simpatisan. Tidak ada pembiayaan dari APBN maupun APBD.

“Hal itu merupakan bukti bahwa masyarakat dapat mengambil inisiatif untuk menghidupkan kebudayaan dari lingkungannya sendiri,” tuturnya.

Meski demikian, Wawan berharap pemerintah tetap hadir untuk mendorong estafet warisan kebudayaan.

“Bukan semata sebagai penyandang dana, tetapi sebagai pihak yang dapat memperkuat ekosistem budaya melalui fasilitasi, jejaring, promosi, kebijakan, dan apresiasi,” ujarnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.