LEMAN Dogol tertunduk sembari memijat-mijat pangkal hidungnya hingga memerah. Berkali-kali ia menggeleng-gelengkan kepala, lalu menepuk keningnya. Di hadapannya, telepon selularnya, yang diberdirikan dengan penyangga, mengalirkan satu adegan rapat. Bukan rapat biasa. Hadir dalam rapat itu para petinggi polisi dan tentara, dan presiden. Mereka membahas penanganan kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan dan Sumatra.
“Kek gini rupanya cara Bapak itu ngambil keputusan-keputusannya. Gak heran, lah, kalok jadi beselemak peak kita,” ujarnya.
“Bapak mana, Man?” sahut Jek Buntal.
“Bapak mana lagi. Blio itu, lah, Mak!”
Leman memutar ulang video itu di ponselnya dan menunjukkannya pada Jek Buntal. Juga pada Idam Marley dan Riki Rikardo yang agaknya ikut merasa penasaran. Tadinya mereka duduk di meja di sudut kedai; menonton, sekaligus jadi pembisik, bagi Tok Awang dan Marulam Disko yang tengah memainkan partai-partai catur yang sengit.
“Kelen tengok, lah, ini. Kaco kali, kan. Macam maen-maen aja dibikinnya. Rapat karang taruna untuk bersih-bersih paret pun gak kayak gini.”
Idam mengempas napas, lalu ikut menggeleng-gelengkan kepala. “Kalok kek gininya blio ngatur negara, seperti pernah dibilangnya dulu, taon 2030 memang udah bubar kita.”
“Bisa jadi gak sampek 2030, Dam,” timpal Riki Rikardo. “Makin lama makin banyak yang gak sor. Komen-komen di medsos udah hampir gak ada lagi yang genah. Gak ada yang beres lagi. Gak ada segan-segan lagi orang ngejek, gak segan lagi maki-maki. Presiden-presiden sebelumnya diejek jugak, dimaki jugak, tapi keknya gak ada yang sampek separah ini.”
Giliran Jek Buntal pula yang mengempas napas. “Tapi herannya kita, kok, gak ada orang-orang di situ yang berani ngomong, ya. Kan, daripada capek-capek bikin tepung ubi sampek ton-tonan, dan belum tentu bisa padam apinya. kenapa gak belik pesawat aja.”
“Pesawat pemadam api, Abangda?”
“Bukan! Pesawat ulang-alik, Ki. Ya, iya, lah. Pesawat pemadam. Belik dua-tiga bijik udah selesai api itu.”
“Duitnya dari mana?”
“Alah, cumak berapa, lah, itu? Kemaren ada dibahas orang di TikTok. Katanya sebijik enam ratusan miliar. Pre dulu EmBeGe dua hari, udah tebelik pesawat tu tiga bijik.”
“Ato kalok memang kemahalan, kan, bisa sewa, ya,” sergah Idam Marley. “Malaysia punya banyak. Singapura, yang gak ada utannya, keknya punya jugak. Pasti mau, lah, orang tu kalok disewa. Udah tecekik jugak orang tu kenak asap.”
“Udah kebiasaan AbeEs semuanya,” sambung Leman. “Lapor-lapor yang baik-baik aja, asal Bapak Itu senang. Udah nonton jugak aku videonya. Saking senangnya dia, mo dinaikkan blio pangkat dan jabatan orang-orang yang ngurus kebakaran utan itu.”
Marulam Disko yang baru menuntaskan duel caturnya dengan Tok Awang sekonyong-konyong menyeletuk.
“Kalok menurut kelen, soal tepung-tepung itu, cemana?”
“Cemana apanya, Ketua?” tanya Jek Buntal dan Riki Rikardo nyaris bersamaan.
“Itu solusi cerdas ato cemana?”
“Ah, cemananya Ketua ni. Kalok cerdas Si Leman gak akan sampek nepuk-nepuk keningnya sendiri, Ketua,” Jek Buntal tertawa. Pun Riki Rikardo dan Idam Marley. Walau bernada sumbang, Leman Dogol juga ikut tertawa.
“Terus terang, Ketua, tadinya awak pun tak tahu-tahu kali soal tepung ini bisa padamkan api,” ujar Leman. “Cumak memang, seumur-umur awak tak pernah dengar. Makanya awak coba cari tahu. Awak gugling-gugling, lah.”
“Hasilnya?”
“Bisa.”
“Bisa untuk padamkan api, maksudmu?”
“Iya.”
“Lah, kalok gitu pas, lah, yang diperentahkan blio,” sergah Jek Buntal.
“Oh, nggak, Mak. Dari yang kubaca, memang bisa, tapi cumak untuk matikan api-api kecik. Api dalam ruangan. Bukan api besar kayak sekarang. Kalok api besar, di tempat terbuka, apalagi kebakaran utan, sia-sia aja. Bukannya padam, malah makin marak dia karena tepungnya akan meledak.”
“Wadoh! Kaco kita!”
“Itu pun, yang bisa untuk padamkan api kecik tadi, tepungnya bukan tepung biasa jugak. Maksudnya, bukan tepung ubi yang bisa kita belik di pajak. Bukan tepung untuk bikin kue. Tapi patinya, yang dicampur sama zat-zat kimia tertentu.”
“Makanya dari awal tadi aku bilang, kalok kek gini cara blio ambil keputusan, ya, gak heran semuanya lawak-lawak kali. Begitu dengar tepung bisa matikan api, langsung diperintahkan dia untuk produksi besar-besaran. Berapa pulak itu dananya. Belum lagi sebelumnya dia mo bangun sumur bor. Bukan sikit, ratusan jugak.”
“Padahal harusnya blio bisa lebih hati-hati,” ucap Riki Rikardo menimpali. “Ini bukan perkara geleng biasa-biasa. Bukan masalah taik burung. Kalok kita bicara ilmiah, semua harus ada risetnya. Berapa formulasinya, berapa dosisnya, tros kek mana dampak lingkungannya. Kalok dibandingkan sama water bombing efektif mana. Efisien mana. Ini maen oke gas oke gas aja. Udah gitu, dibikinnya pulak istilah ‘ubi bombing’. Koplak bin kocak kalok kata anak-anak sekarang.”
Marulam Disko tertawa. “Aku heran, kok, kelen masih heran,” bilangnya.
“Maksud, Ketua?”
“Asal letup kek gini, kan, memang udah jadi style blio, Ki. Makanya EmBege beserak, Kopdes teberak kacang. Menteri banyak, lebih seratus, tapi gak ada yang beres. Untuk becakap aja pun gak beres. Bolak-balik blunder. Sampek-sampek doa pun bisa blunder.”
“Tros cemana kita, Ketua?”
“Cemana apanya? Ya, gak cemana-mana.”
“Gak ikot demo kita?”
Belum sempat Marulam menjawab, Ocik Nensi yang baru kembali dari berbelanja di pasar, meletakkan satu kotak di atas meja.
“Wah, apa ini, Cik?” tanya Leman.
“Kue. Talam Ubi.”
“Bayar, Cik?”
“Kali ini pre. Gas, lah. Biar jangan merepet aja muncung-muncung kelen itu.”
(t agus khaidir)