WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Perawatan estetika nonbedah kini jadi pilihan banyak orang untuk mengatasi kulit kendur, pigmentasi, hingga penurunan volume wajah.
Namun para dokter menekankan, pemilihan jenis treatment tidak bisa disamaratakan karena setiap teknologi memiliki cara kerja dan indikasi yang berbeda.
dr. Catherine Soebroto, Dipl. CIBTAC, CEO dan Head Doctor dr. Belle Aesthetic Clinic, mengatakan usia bukan satu-satunya patokan.
“Kebutuhan setiap pasien tidak dapat dipukul rata hanya berdasarkan usia. Dokter perlu memahami kondisi jaringan, struktur wajah, serta hasil yang ingin dicapai agar treatment yang dipilih sesuai dan dilakukan secara proporsional,” ujarnya seperti dikutip, Rabu (26/8/2026).
Salah satu teknologi yang banyak digunakan untuk pengencangan kulit adalah Ultherapy Prime. Teknologi ini menggunakan Micro-Focused Ultrasound with Visualization atau MFU-V.
Baca juga: Akting dengan Nadya Arina, Cut Keke Merasa Seperti Main Film di Sinetron Jodoh Wasiat Bapak Reborn
Energi ultrasound terfokus diarahkan ke lapisan kulit yang lebih dalam, termasuk lapisan SMAS, yang selama ini dikenal sebagai lapisan target pada prosedur face lift bedah. Melalui fitur visualisasi, dokter bisa melihat lapisan jaringan sebelum energi diberikan.
Energi tersebut kemudian membentuk titik koagulasi termal pada kedalaman 1,5 mm, 3,0 mm, dan 4,5 mm untuk merangsang pembentukan kolagen dan elastin baru.
Teknologi ini umumnya dipertimbangkan untuk pasien dengan kekenduran ringan hingga sedang pada wajah, leher, dan dagu, penurunan garis rahang, atau berkurangnya elastisitas kulit karena penuaan.
Hasilnya tidak langsung terlihat karena proses pembentukan kolagen berlangsung bertahap. Rata-rata efeknya bisa bertahan 12–18 bulan, tergantung kondisi kulit, respon tubuh, gaya hidup, dan perawatan setelah treatment.
Baca juga: Ada Fashion Show Kostum Daur Ulang, Warga Slipi Pamer Kreativitas di Momen Perayaan HUT RI
“Pasien perlu memiliki ekspektasi yang realistis karena hasil treatment nonbedah berkembang secara bertahap. Respons setiap orang juga dapat berbeda, sehingga pemeriksaan langsung tetap diperlukan sebelum menentukan area, intensitas, maupun kombinasi treatment,” jelas dr. Catherine.
Dokter juga mengingatkan bahwa Ultherapy Prime bukan satu-satunya pilihan. Ada teknologi lain dengan fungsi berbeda:
- PicoSure / PicoSure Pro: laser picosecond untuk pigmentasi, melasma, flek, bekas jerawat, tekstur kulit, hingga penghapusan tato.
- Fotona Laser: menggabungkan laser Nd:YAG dan Er:YAG untuk skin tightening, resurfacing, perawatan vaskular, hingga hair removal.
- Ellansé: collagen stimulator injeksi untuk mengembalikan volume dan merangsang kolagen jangka panjang.
Pada kasus kehilangan volume yang lebih signifikan, dokter kadang mempertimbangkan kombinasi Ultherapy Prime dengan filler atau collagen stimulator. Namun urutan dan jarak antar treatment harus ditentukan setelah evaluasi langsung.
Baca juga: Ina Ammania Soroti Data Desil DTSEN yang Tak Akurat: Warga Miskin Bisa Kehilangan Bansos
Selain jenis treatment, faktor keamanan juga disorot. Pengaturan energi dan kedalaman harus disesuaikan dengan kondisi jaringan tiap pasien.
“Teknologi merupakan alat untuk membantu dokter memberikan treatment yang lebih terarah. Namun, keamanan dan kesesuaian hasil tetap bergantung pada evaluasi pasien, perencanaan treatment, penggunaan perangkat yang tepat, serta kompetensi tenaga medis yang menjalankannya,” kata dr. Catherine.
Tren layanan estetika juga mulai bergeser ke arah yang lebih personal. Beberapa penyedia layanan kini menawarkan home visit dengan membawa perangkat ke rumah pasien. Meski memberi fleksibilitas dan privasi, dokter menekankan prosedur tetap harus dilakukan dengan pendampingan tenaga medis terlatih, konsultasi awal, dan memperhatikan standar keselamatan medis.