Sosok Negosiator Demo Mahasiswa Semarang Septialina Sari: Perempuan Punya Suara dan Keresahan Sama
rika irawati August 26, 2026 09:07 PM

 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG – Kehadiran Septialina Sari, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengambil peran penting saat aksi dorong terjadi antara massa demo mahasiswa dengan barikade polisi di Jalan Pemuda Semarang, Jawa Tengah, Rabu (26/8/2026).

Septialina menjadi satu di antara perwakilan mahasiswa yang bernegosiasi dengan aparat agar massa dapat menyampaikan aspirasi di kawasan Tugu Muda Semarang.

Memakai jaket almamater kampus warna kuning, Septialina berada di garis depan massa demo.

Dia mencoba membuka ruang komunikasi dengan polisi yang membentuk barisan mengadang pergerakan mereka menuju kawasan Tugu Muda Semarang.

Bagi Septialina, keberadaan perempuan dalam aksi demo bukan sekadar pelengkap.

Ia menilai, mahasiswa perempuan memiliki hak yang sama untuk menyampaikan keresahan dan kritik kepada pemerintah.

"Kalau mereka laki-laki boleh bersuara, kita juga boleh bersuara," kata Septialina seusai aksi.

Baca juga: Barikade Dibuka, Demo Mahasiswa Bacakan Panca Tuntutan Rakyat di Tugu Muda Semarang

Menurutnya, keresahan mahasiswa perempuan tidak berbeda dari mahasiswa laki-laki.

Situasi Indonesia yang dinilai tengah genting, mulai dari bencana hingga persoalan penanganannya oleh pemerintah, membuat mahasiswa perempuan ikut merasa khawatir.

"Kami pun, para mahasiswi, resah dengan apa yang memang ada di Indonesia ini."

"Mungkin, dengan keadaan genting ini, bencana di mana-mana, pemerintah yang memang tidak serius dalam menanganinya, itu pun kami ikut khawatir," ujarnya.

Septialina juga menyebut, keberanian sejumlah perempuan lain dalam menyuarakan kritik di tingkat nasional turut menjadi pemantik bagi mahasiswa perempuan di daerah.

Ia menyinggung sosok Fathimah Azzahra, wakil ketua BEM UI, yang menurutnya menjadi satu di antara contoh perempuan yang berani menyampaikan suara di tengah situasi politik yang memanas.

"Di pusat sana, ada teman-teman yang memang berani bersuara. Pun di daerah, di sini, juga ada teman-teman yang berani bersuara," katanya.

Menurut Septialina, aksi yang dilakukan mahasiswa perempuan di Semarang merupakan bentuk kesetaraan gender.

Ia menilai, ruang menyampaikan aspirasi tidak semestinya dibatasi berdasarkan jenis kelamin.

Tak Puas dengan Respon DPRD Jateng

Septialina mengatakan, aksi yang dilakukan mahasiswa sore ini bukan kali pertama.

Sebelumnya, mahasiswa telah menyampaikan tuntutan di DPRD Jateng.

Namun, ia menilai, respon yang diberikan para wakil rakyat di parlemen belum menjawab keresahan mahasiswa.

"Kita ini sudah dua kali menyampaikan tuntutan ini. Kemarin, pertama kali kami ada di DPRD, tidak didengar," ungkapnya.

Baca juga: Kawal Demo Mahasiswa di Semarang, Polisi Terjunkan 1.600 Personel Gabungan

Karena merasa tidak mendapatkan respons yang diharapkan, mahasiswa memilih mendekati masyarakat.

Menurut Septialina, tujuan mahasiswa menuju Tugu Muda Semarang bukan untuk mengganggu aktivitas warga melainkan ingin menyampaikan aspirasi sekaligus melebur bersama masyarakat.

Namun, rencana tersebut terhambat setelah massa mahasiswa berhadapan dengan barikade aparat.

"Kami mau ke Tugu Muda untuk pada akhirnya melebur dengan masyarakat. Tapi kami malah dijegal seperti ini," ujarnya.

Septialina menilai, situasi tersebut justru memperlihatkan adanya jarak antara mahasiswa dan masyarakat.

"Padahal kami hanya ingin mempersamai masyarakat," katanya.

Ia berharap, aksi yang dilakukan mahasiswa tidak berhenti sebagai demonstrasi sehari.

Septialina ingin tuntutan mahasiswa benar-benar didengar dan mendapat tindak lanjut, bukan sekadar respons formalitas.

"Harapannya memang didengar," tegasnya.

Dalam aksi demo tersebut, mahasiswa membacakan Panca Tuntutan Rakyat meliputi turunkan harga pokok dan BBM, kembalikan TNI dan Polri ke fungsi utama, evaluasi total MBG dan hentikan program KDKMP, serta kembalikan kepemilikan tanah ke rakyat dan revitalisasi segera wilayah terdampak bencana dan hentikan praktik KKN di lingkungan pemerintah. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.