Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita
TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI - Para perempuan asal Distrik Unurum Guay memperkenalkan beragam alat dapur dan perlengkapan berkebun tradisional dalam ajang Festival Danau Sentani (FDS) XV di Dermaga Kalkhote, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Rabu (26/8/2026).
Peralatan tersebut seperti wadah penampung sagu, tempat kayu bakar, hingga tempat membawa hasil kebun.
Wadah tradisional yang terbuat dari pelepah pohon Nibong (sejenis palem) ini merupakan warisan turun-temurun masyarakat Kampung Buasum dan Distrik Unurum Guay secara umum.
Dalam bahasa daerah setempat, wadah-wadah ini dikenal sebagai Bai (wadah kayu bakar, sagu, dan hasil kebun), Blome (gayung), serta Kolho (wadah pembuatan papeda).
Baca juga: Tarian Khui Bea Awali Festival Danau Sentani, Pemkab Jayapura Dorong Kalkhote Jadi Pusat UMKM
Naomi Jak dari Kelompok Usaha Garusa menjelaskan bahwa wadah ini memiliki fungsi yang sangat multifungsi bagi kehidupan sehari-hari perempuan Unurum Guay.
"Wadah ini dipakai untuk memuat kayu bakar, menampung hasil olahan sagu, mengambil air minum, hingga menjadi tempat makanan menggantikan piring. Bahkan, wadah ini juga bisa digunakan untuk menggendong anak saat pergi ke dusun (kebun)," kata Naomi sembari menunjukkan Kolho.
Naomi menambahkan, orang tua zaman dulu mengolah papeda langsung di dalam wadah Kolho menggunakan teknik bakar batu.
Sagu cair diputar di dalam wadah, lalu disiram dengan panasnya batu yang telah dibakar hingga mengental menjadi papeda.
Selina Sasbe, anggota Kelompok Garusa yang baru pertama kali mengikuti FDS, mengungkapkan bahwa pembuatan satu wadah memerlukan waktu sekitar satu hari.
Seluruh bahannya diambil langsung dari hutan, seperti pelepah pohon Nibong, tali akar melinjo, dan alat pelubang dari tulang kasuari.
"Tali dari akar melinjo ini sangat kuat, bahkan aman untuk menggendong anak. Untuk menyematkan tali, pelepah harus dilubangi menggunakan tulang kasuari. Kita tidak bisa menggunakan pisau karena pelepah bisa rusak atau robek," jelas Selina.
Selina juga menekankan pembagian peran gender dalam penggunaan alat-alat tersebut.
Alat-alat wadah ini khusus digunakan oleh perempuan untuk menunjang aktivitas berkebun dan mengumpul bahan makanan, sementara kaum laki-laki lebih banyak mengoperasikan alat berburu seperti panah dan jubi.
Baca juga: Festival Danau Sentani Hadirkan Wisata Tracking Sagu Hingga Tradisi Menyelam Sambil Merokok
Melestarikan Warisan Budaya
Melalui FDS XV yang mengusung tema "Budayaku adalah Hidupku", Naomi Jak berharap generasi muda dapat terus menjaga warisan budaya yang mulai tergerus modernisasi.
Menurutnya, menjaga tradisi lokal bagian dari melestarikan alam.
"Jangan menunggu orang lain bertanya tentang budaya kita, tetapi kitalah yang harus mengenalkannya. Jangan mengagungkan budaya luar, sementara budaya sendiri yang hampir hilang justru dilupakan. Datang ke FDS ini juga harus pakai baju batik untuk menunjukkan budaya kita," ujarnya.
Peralatan tradisional Unurum Guay yang secara lokal disebut Yu ini dijual dengan kisaran harga Rp35.000 hingga Rp100.000.
Selain peralatan pelepah Nibong, Kelompok Usaha Garusa juga memamerkan dan menjual aneka kerajinan tangan seperti aksesori, ikat kepala, tusuk rambut, topi, rok rumbai, kalung tradisional, hingga kerupuk sagu. (*)