BANGKAPOS.COM -- Menteri Agama Nasaruddin Umar diisukan mengundurkan diri dari jabatan.
Dalam narasi yang beredar, Nasaruddin disebut telah menyampaikan surat pengunduran diri kepada Presiden Prabowo Subianto.
Pengunduran diri Nasaruddin Umar dikaitkan dengan isu pencalonan dirinya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama dijadwalkan akan berlangsung pada 27 hingga 31 Agustus 2026.
Beberapa nama yang dikabarkan turut meramaikan bursa calon ketua umum PBNU antara lain petahana KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), KH M Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), KH Abdul Ghofur Maimun (Gus Ghofur), dan KH M. Zaim Chasbullah (Gus Zaim).
Selain itu, muncul pula nama ulama terkemuka lainnya seperti KH Zulfa Mustofa, KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), KH M. Nafi' Abdillah (Gus Rozin), KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), serta Meteri Agama Nasaruddin Umar.
Baca juga: Respons Budi Arie Dituding Adu Domba Jokowi dan Prabowo Terkait Pemilu 2029 Dipercepat: Mohon Maaf
Merespons isu mundurnya Nasaruddin Umar sebagai Menteri Agama, Koordinator Staf Khusus Menteri Agama, H. Farid F Saenong, dengan tegas membantahnya, membantah informasi tersebut saat dikonfirmasi pada Rabu (26/8/2026).
"Hoaks itu," kata Farid singkat saat dikonfirmasi pada Rabu (26/8/2026).
Bantahan juga disampaikan oleh Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama, Thobib Al Asyhar.
Thobib menyatakan bahwa Nasaruddin Umar tidak pernah menyatakan mundur dari jabatan Menteri Agama.
Menurutnya, informasi tersebut dikutip dari sumber yang tidak jelas.
"Setahu saya, pak Menag tidak pernah menyampaikan hal tersebut, dan sumber informasi yang dikutip tidak jelas," kata Thobib kepada Tribunnews.com, Rabu (26/8/2026).
Hari ini Nasaruddin Umar masih menghadiri kick off (peluncuran) Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan dan Ngaji Sirah Nabawi bertepatan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Tingkat Nasional 1448 Hijriah.
Mengusung tema "Meneladani Akhlak Rasulullah: Merajut Persaudaraan, Memuliakan Kemanusiaan", acara ini menjadi momentum penting tidak hanya untuk penguatan spiritual umat, tetapi juga penegasan sikap pelestarian lingkungan hidup.
Pemilik nama lengkap AG Prof Dr KH Nasaruddin Umar M.A lahir pada 23 Juni 1959. Ia adalah Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta.
Nasaruddin Umar pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Agama Republik Indonesia dari tahun 2011 sampai 2014.
Ia juga merupakan pendiri organisasi lintas agama untuk Masyarakat Dialog antar Umat Beragama dan pernah menjabat sebagai Dirjen pada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam di Departemen Agama/Kementerian Agama Republik Indonesia.
Nasaruddin juga adalah anggota dari Tim Penasehat Inggris-Indonesia yang didirikan oleh mantan perdana menteri Inggris, Tony Blair.
Mengutip Wikipedia, Nasaruddin juga menjabat sebagai salah satu Rais Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmat 2022-2027.
Pada tanggal 3 November 2019, dalam Musyawarah Nasional (Munas) BP4 XVI di Jakarta, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. terpilih sebagai Ketua Umum BP4 periode 2019-2024.
Baca juga: Sosok Irjen Herry Heryawan, Kapolda Riau Bakal Naik Pangkat jika Bisa Atasi Karhutla, Janji Prabowo
Dan terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Pondok Pesantren As'adiyah pada Muktamar As'adiyah ke XV di Sengkang tahun 2022.
Terkini saat kedatangan Paus Fransiskus September 2024 lalu, Nasaruddin Umar menandatangani dokumen Deklarasi Bersama Istiqlal 2024 bersama pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia, Paus Fransiskus yang sedang mengadakan kunjungan historisnya ke Indonesia.
Pendidikan
Nasaruddin Umar melakukan studi pascasarjana di IAIN/ UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan mendapatkan gelar Magister (1992) serta doktoral (PhD) (1998).
Selama studi kedoktorannya, dia sempat menjadi salah satu mahasiswa yang menjalani Program PhD di Universitas McGill, Montreal, Kanada (1993-1994).
Dia juga sebagai salah satu mahasiswa yang menjalani Program Ph.D di Universitas Leiden, Belanda (1994-1995).
Setelah mendapatkan gelar doktoral, ia pernah menjadi sarjana tamu di Sophia University, Tokyo (2001), sarjana tamu di SOAS University of London (2001-2002), dan sarjana tamu di Georgetown University, Washington DC (2003-2004).
Dia adalah penulis dari 12 buku yang di antaranya Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Quran (Paramadina, 1999).
Isinya yang menjabarkan hasil penelitian mengenai bias gender dalam Quran.
Riwayat Pendidikan
Jabatan Struktural/Non Struktural
Karya Tulis
Nasaruddin Umar juga aktif membuat karya tulis, di antaranya:
"Pengertian Deasa Menurut hukum Positif dan hukum Islam" (Risalah Sarjana Muda), 1980.
"Islam dan Nasionalisme Indonesia, Analaisa tentang Integrasi Syari'ah Islam dalam Pembinaan Hukum Nasional", (Skripsi), 1984.
"Perspektif Jender Dalam Islam", (Disertasi), 1998.
"Fiqh Ibadah", (Diktat), Fakultas Syari'ah IAIN Alauddin U&jung Pandang, Sulawasi Selatan, 1987.
"Tema-Tema pokok Al-Qur'an" (diktat) Yayasan Wakaf Paramadina Jakarta, 1994.
"Antropolgi Jilbab dalam perspektif feminis dan penafsiran Islam" (diktat), Yayasan Wakaf Paramadina Jakarta, 1995.
(Bangkapos.com/Tribunnews.com/Surya.co.id)