39 Tahun Cerdaskan Anak Bangsa, Mendikdasmen Sebut YP SIM Contoh Nyata Keterlibatan Masyarakat
Eti Wahyuni August 26, 2026 10:09 PM

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan apresiasi terhadap kiprah Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YP SIM) dalam membantu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Hal itu disampaikan Abdul Mu’ti saat menghadiri perayaan ulang tahun ke-39 Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda di Medan, Rabu (26/8/2026).

“Secara pribadi dan atas nama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, saya menyampaikan selamat ulang tahun yang ke-39 untuk Yayasan Sultan Iskandar Muda yang didirikan oleh Sofyan Tan beserta keluarga. Kami juga menyampaikan terima kasih atas sumbangan Yayasan Sultan Iskandar Muda dalam mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujar Abdul Mu’ti.

Menurutnya, kiprah YP SIM merupakan contoh nyata keterlibatan masyarakat dalam mendukung pemerintah menjalankan amanat konstitusi, khususnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Ia bahkan berkelakar, apabila seluruh lembaga pendidikan di Indonesia mampu menjalankan peran seperti YP SIM, maka tugas pemerintah di bidang pendidikan akan jauh lebih ringan.

Baca juga: MTU Jalin Kemitraan Strategis dengan Politeknik PPD Malaysia, Perkuat Pendidikan Berkualitas

“Saya berpikir, Pak Sofyan, kalau semua lembaga pendidikan di Indonesia seperti ini maka Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah tidak diperlukan lagi. Semua sudah selesai diurus oleh masyarakat,” katanya.

Namun demikian, Abdul Mu’ti menegaskan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional.

Ia mengatakan, pemerintah berkomitmen mendukung program Presiden dalam membangun sumber daya manusia unggul melalui pendidikan bermutu yang dapat diakses seluruh masyarakat.

“Masih banyak yang memang harus kita perbaiki, masih banyak yang harus kita lakukan dalam rangka melaksanakan amanat konstitusi mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujarnya.

Abdul Mu’ti menyebut, pemerintah membawa visi pendidikan bermutu untuk semua dengan partisipasi semesta.

Menurutnya, pendidikan tidak dapat hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

“Apa yang dilakukan oleh Pak Sofyan Tan adalah bukti nyata bagaimana masyarakat berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan dalam memperkuat keindonesiaan kita,” ucapnya.

Ia juga menilai tema perayaan ulang tahun ke-39 YP SIM memiliki relevansi dengan kondisi Indonesia saat ini mau pun masa depan.

Menurut Abdul Mu’ti, Indonesia merupakan negara yang dianugerahi kekayaan alam luar biasa oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kekayaan tersebut menjadi salah satu modal besar Indonesia untuk membangun masa depan bangsa.

Turun Langsung Cari Keluarga Kurang Mampu 

Ketua Dewan Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YP SIM) sekaligus Anggota DPR RI Komisi X, Sofyan Tan, mengungkapkan perjalanan yayasan selama 39 tahun tidak lepas dari berbagai tantangan dan perjuangan.

Menurutnya, YP SIM lahir dalam kondisi yang serba terbatas. Bahkan, pembangunan sekolah pada awal berdirinya banyak menggunakan dana pinjaman dari bank.

“Perjalanan 39 tahun bukan masa yang singkat. Perjalanan ini penuh dengan kesulitan, penuh dengan perjuangan, penuh dengan air mata. Yayasan ini lahir bukan dalam kondisi yang lengkap, anak ini lahir dalam keadaan prematur,” ujar Sofyan Tan.

Ia menceritakan, pada awal berdiri, yayasan hanya memiliki sekitar 1.500 meter persegi tanah, tujuh ruang kelas dan tiga ruangan administrasi.

Saat itu terdapat 171 siswa, yang sebagian besar berasal dari keluarga kurang mampu dan tidak membayar uang sekolah.

Sofyan Tan bahkan mengaku harus turun langsung mencari anak-anak dari keluarga kurang mampu agar mereka mendapatkan kesempatan bersekolah.

“Kerjaan saya sebagai dokter saya sibukkan, tapi kerjaan saya adalah keliling Sunggal, berada di pinggir-pinggir Sungai Sunggal, mencari rumah-rumah yang jelek dan menawarkan anaknya untuk sekolah,” katanya.

Menurut Sofyan, langkah tersebut sempat menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat. Sebab, saat itu masih ada anggapan bahwa tidak mungkin seseorang memberikan pendidikan gratis tanpa kepentingan tertentu.

“Tantangan cukup besar, tetapi saya jalan terus,” ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.