Asa untuk Negeri: Revolusi!
Abdul Azis Alimuddin August 27, 2026 12:08 AM

TRIBUN-TIMUR.COM - Belasan anggota Forum Dosen menyimak. Diskusi bertema Refleksi Kebangsaan: Asa untuk Negeri di Tengah Krisis Kepemimpinan Multilevel itu berlangsung sekitar tiga jam.

Koordinator Forum Dosen Dr Adi Suryadi Culla memandu percakapan, dengan Dr Subhan Djaya Mappaturung sebagai pemantik. Rabu, 26 Agustus 2026.

Yang menarik bukan sekadar kata revolusi yang terlontar dari seorang akademisi berusia 79 tahun, Prof Qasim Mathar.

Yang lebih penting adalah keresahan yang mendahuluinya: krisis kepemimpinan yang dinilai tidak lagi berada hanya di puncak kekuasaan.

Prof Qasim bahkan memperluasnya kepada tiga cabang kekuasaan: eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Sebelumnya, Dr Subhan membawa peserta kepada persoalan yang lebih awal lagi: bagaimana calon pemimpin dibentuk.

Ia mengisahkan seorang anak yang setiap hari diantar empat pembantu ke sekolah.

Ketika ada kerja bakti, orang tuanya meminta pembantunya menggantikan sang anak. Anak itu kelak disiapkan menjadi pemimpin.

Di situlah persoalannya. Bukan hanya apa yang diajarkan di sekolah, tetapi apa yang setiap hari dilihat seorang anak di rumah.

Jika ia tumbuh menyaksikan perilaku koruptif, maka yang diwariskan bukan sekadar kekayaan, tetapi juga imajinasi tentang bagaimana kekuasaan digunakan.

“Penting memutus imajinasi korupsi,” tegas Subhan.

Maka krisis kepemimpinan ternyata tidak muncul tiba-tiba di ruang kekuasaan.

Ia bisa dimulai jauh sebelumnya. Di rumah. Di sekolah. Di lingkungan sosial. Dan kemudian tumbuh menjadi kebiasaan.

Prof Qasim membawa keresahan itu ke wilayah yang lebih besar. Ia mempertanyakan penundaan pembahasan Undang-Undang Perampasan Aset.

Ia juga mengkritik berbagai persoalan politik yang menurutnya telah terlalu lama menjadi permainan isu.

Dari sana ia sampai pada kesimpulan yang keras: Indonesia membutuhkan revolusi.

Tetapi revolusi yang dimaksud tidak harus dibaca sebagai kekacauan.

Dr Imran Hanafi segera memberi lapisan lain. Mungkin yang dimaksud adalah revolusi yang teratur, bukan revolusi yang menghasilkan chaos.

Di sinilah diskusi menjadi lebih penting daripada sekadar judulnya.

Sebab kata revolusi bisa menakutkan. Tetapi keresahan yang melahirkannya justru perlu dibicarakan.

Apa yang sesungguhnya sedang rusak?

Apakah hanya orang-orang yang memegang kekuasaan? Ataukah ada sesuatu yang lebih dalam pada cara masyarakat membentuk, memilih, membenarkan, dan mempertahankan pemimpin?

Forum Dosen tidak memberikan jawaban tunggal. Dan mungkin memang tidak perlu.

Sebab diskusi kebangsaan semacam ini justru penting untuk menjaga ruang berpikir tetap hidup ketika ruang politik terlalu sibuk dengan perebutan posisi.

Makassar kembali memperlihatkan dirinya sebagai kota tempat gagasan lama dan keresahan baru bertemu.

Seorang profesor senior menyebut revolusi.

Seorang dosen muda mengingatkan tentang pendidikan.

Yang satu berbicara tentang kekuasaan.

Yang lain mengajak melihat bagaimana manusia yang kelak memegang kekuasaan itu dibentuk.

Barangkali di situlah asa untuk negeri sebenarnya bermula.

Bukan dari siapa yang paling kuat memegang kekuasaan.

Tetapi dari bagaimana bangsa ini membentuk manusia yang kelak dipercaya memegangnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.