Oleh: Dr Syahrituah Siregar SE MA
Ketua ISEI Cabang Banjarmasin dan Dosen FEB Universitas Lambung Mangkurat
BANJARMASINPOST.CO.ID - ADA dua cara yang sama-sama keliru dalam membaca ekonomi Indonesia hari ini. Pertama, menganggap semuanya baik-baik saja karena pertumbuhan masih di atas 5 persen dan inflasi terkendali. Kedua, menyimpulkan Indonesia sudah menuju krisis hanya karena rupiah melemah, harga minyak tinggi, atau transaksi berjalan mengalami defisit. Keduanya memang mudah menarik perhatian, tetapi tidak membantu masyarakat maupun dunia usaha mengambil keputusan secara tepat.
Gambaran yang lebih jujur adalah: ekonomi nasional masih memiliki penyangga kuat, tetapi lampu kuning mulai menyala. Pada triwulan II-2026, ekonomi tumbuh 5,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Inflasi Juli tercatat 2,88 persen dan masih berada dalam sasaran Bank Indonesia. Kredit perbankan juga tumbuh kuat, sedangkan modal perbankan tetap memadai. Data tersebut tidak menunjukkan ekonomi yang sedang berhenti berputar.
Namun, tekanan dari luar negeri semakin nyata. Defisit transaksi berjalan pada triwulan II-2026 melebar menjadi 12,5 miliar dolar AS atau 3,3 persen dari produk domestik bruto. Sederhananya, penerimaan devisa Indonesia dari perdagangan dan transaksi dengan luar negeri belum cukup menutup seluruh pembayarannya. Kekurangan itu harus dibiayai melalui investasi atau arus modal dari luar.
Defisit tidak selalu buruk. Impor mesin dan teknologi dapat meningkatkan kapasitas produksi. Masalah muncul ketika defisit terutama bersumber dari ketergantungan yang sulit dikurangi, sementara pembiayaannya mengandalkan dana jangka pendek yang mudah berpindah. Ketika imbal hasil di Amerika Serikat naik atau ketegangan global membesar, investor dapat menarik dananya dari negara berkembang. Rupiah, pasar obligasi, dan biaya pembiayaan kemudian ikut tertekan.
Harga minyak menjadi sumber kerentanan yang penting. Indonesia masih membutuhkan impor minyak dan bahan bakar. Ketika minyak dunia mahal dan Rupiah melemah, biaya energi meningkat melalui dua jalur sekaligus. Jika harga bahan bakar ditahan, beban subsidi dan kompensasi dalam APBN membesar. Jika disesuaikan, ongkos angkutan dan produksi naik. Pada akhirnya, tekanan dapat sampai ke harga barang, cicilan, kesempatan kerja, dan dapur rumah tangga.
Bagi Kalimantan Selatan, kenaikan harga energi dunia tidak otomatis berarti keuntungan merata. Perusahaan komoditas tertentu mungkin memperoleh pendapatan lebih tinggi, tetapi sektor perdagangan, pangan, konstruksi, transportasi, dan UMKM menghadapi ongkos logistik serta input yang lebih mahal. Manfaat ekspor juga tidak selalu tersebar kepada seluruh masyarakat. Karena itu, kenaikan nilai ekspor tidak boleh langsung disamakan dengan kenaikan kesejahteraan.
Ketergantungan pada komoditas membuat perekonomian Banua mudah mengikuti siklus global. Ketika harga batu bara dan kelapa sawit tinggi, kegiatan usaha dan penerimaan daerah mendapat dorongan. Ketika siklus berbalik, pendapatan perusahaan, jasa pendukung, dan ruang APBD dapat tertekan. Disiplin fiskal daerah justru harus dibangun ketika harga komoditas masih baik, bukan setelah pendapatan menurun.
Pemerintah daerah perlu menguji ketahanan APBD terhadap penurunan harga komoditas, kenaikan biaya energi, dan perlambatan transfer. Belanja layanan dasar serta investasi produktif harus dilindungi, sedangkan kegiatan yang rendah manfaatnya dapat ditunda. Ketahanan pangan juga perlu diperkuat melalui data pasokan yang akurat, penyimpanan, distribusi, kerja sama antardaerah, dan pembiayaan produsen. Operasi pasar saja tidak cukup karena dampaknya hanya sementara.
Banjarmasin dapat mengambil peran sebagai mesin konversi nilai tambah Kalimantan Selatan. Kota ini tidak harus menjadi pusat penggalian sumber daya. Kekuatan Banjarmasin terletak pada perdagangan, logistik, keuangan, pendidikan, kesehatan, teknologi, dan jasa profesional. Tantangannya adalah membuat arus komoditas melahirkan lebih banyak usaha lokal, pekerjaan berkualitas, pengetahuan, serta pendapatan yang bertahan di daerah.
Dunia usaha juga perlu bersiap tanpa panik. Perusahaan harus memetakan kewajiban valuta asing, sensitivitas terhadap suku bunga, kebutuhan bahan impor, serta jatuh tempo utang. Efisiensi energi, diversifikasi pemasok, pengelolaan persediaan, dan lindung nilai atas kewajiban nyata dapat mengurangi risiko. Perbankan perlu memantau debitur yang rentan, tetapi jangan menghentikan pembiayaan produktif hanya karena sentimen memburuk.
Rumah tangga pun tidak perlu bereaksi dengan memborong dolar atau mengambil keputusan investasi karena rasa takut. Langkah yang lebih masuk akal adalah memperkuat dana darurat, membatasi utang konsumtif berbunga tinggi, dan meninjau kembali cicilan dengan bunga mengambang. Pada saat yang sama, pemerintah harus menyampaikan informasi secara terbuka dan konsisten. Masyarakat dapat menerima kabar yang kurang baik apabila risikonya dijelaskan dengan jujur dan respons kebijakannya terlihat jelas. Komunikasi yang kredibel bukan sekadar urusan citra. Ia menjaga kepercayaan serta mencegah ketidakpastian berubah menjadi kepanikan yang justru memperbesar tekanan ekonomi. Pada tingkat daerah, kecepatan membaca perubahan harga, kredit, penjualan, dan pekerjaan akan menentukan apakah bantuan serta penyesuaian kebijakan benar-benar tiba sebelum masalah membesar dan menekan kehidupan masyarakat sehari-hari setempat.
Indonesia belum berada dalam krisis makroekonomi ataupun krisis sistem keuangan. Namun, defisit transaksi berjalan yang melebar, harga minyak yang tinggi, mahalnya biaya modal global, dan tekanan rupiah tidak boleh diremehkan. Krisis biasanya muncul bukan karena satu angka, melainkan ketika beberapa tekanan saling memperkuat. Setiap mata rantai masih dapat diputus apabila data dibaca lebih awal dan kebijakan dijalankan secara konsisten.
Bagi Kalimantan Selatan, masa ketika ekonomi masih tumbuh harus digunakan untuk memperbaiki struktur. Pendapatan komoditas perlu diubah menjadi manusia terampil, usaha lokal yang naik kelas, infrastruktur yang terpelihara, fiskal yang tahan guncangan, dan lingkungan yang pulih. Jangan panik, tetapi jangan lengah. Dalam situasi penuh ketidakpastian, kewaspadaan yang tenang merupakan bentuk optimisme yang paling bertanggung jawab. (*)
Bagi Kalimantan Selatan, masa ketika ekonomi masih tumbuh harus digunakan untuk memperbaiki struktur. Pendapatan komoditas perlu diubah menjadi manusia terampil, usaha lokal yang naik kelas, infrastruktur yang terpelihara, fiskal yang tahan guncangan, dan lingkungan yang pulih. Jangan panik, tetapi jangan lengah. Dalam situasi penuh ketidakpastian, kewaspadaan yang tenang merupakan bentuk optimisme yang paling bertanggung jawab.