SRIPOKU.COM, PALEMBANG– Bagi Ipda Jon Hery, memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), bukan sekadar menjalankan tugas.
Selama 11 hari berada di lokasi, ia bersama personel lainnya harus berhadapan dengan medan gambut, rawa, lumpur hingga api yang sewaktu-waktu kembali membesar.
Jon Hery merupakan anggota BKO Ditsamapta Polda Sumsel yang bersama 11 personel lainnya diperbantukan di Polsek Cengal dalam rangka BKO Aman Nusa II Ditsamapta Subsatgas Polsek Cengal.
Sejak 15 Agustus 2026, mereka ditugaskan melakukan patroli, memberikan imbauan, pemantauan serta membantu pemadaman karhutla di Posko PT Limau Kasturi, Desa Sungai Jernih, dan Posko PT Samora, Desa Pelimbangan.
Sebanyak 12 personel Ditsamapta dibagi menjadi dua tim. Delapan personel ditempatkan di satu titik, sementara empat personel lainnya bertugas di lokasi berbeda untuk membantu Satgas Karhutla Polsek Cengal.
"Anggota kami dibagi dua, ada yang delapan personel dan empat personel. Dari Ditsamapta ada 12 orang yang ditugaskan membantu satgas Polsek Cengal," ujar Jon Hery kepada Tribunsumsel.com dan Sripoku.com, Rabu (26/8/2026).
Bagi Jon Hery, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana memadamkan api, tetapi bagaimana menjangkau sumber api di tengah kondisi geografis Cengal yang sebagian besar berupa rawa dan lahan gambut.
Kendaraan pemadam tidak selalu bisa masuk hingga ke lokasi. Petugas pun harus menggunakan mesin pompa dan selang panjang untuk mengalirkan air menuju titik api.
"Lokasi yang sulit dijangkau kendaraan pemadam membuat petugas harus menggunakan mesin pompa dan selang panjang untuk mengalirkan air ke titik-titik api. Karena di sini rawa dan gambut semua," katanya.
Tak jarang Jon Hery bersama personel lainnya harus turun langsung ke rawa dan lumpur untuk mendekati titik kebakaran.
Beruntung, masih terdapat sumber air yang bisa dimanfaatkan untuk proses pemadaman. Meski api berhasil dijinakkan, petugas tidak langsung meninggalkan lokasi.
Mereka harus memastikan tidak ada bara yang tersisa di dalam gambut. Sebab, bara yang tersembunyi dapat kembali memicu kebakaran.
"Setelah api padam terkadang ada bara api yang masih ada tersisa, kami lakukan pendinginan. Biasanya proses pemadaman sampai pendinginan memakan waktu lima jam," ujarnya.
Petugas biasanya menyelesaikan proses pemadaman dan pendinginan paling lambat sekitar pukul 19.00 WIB. Pada malam hari, mereka tidak melakukan aktivitas pemadaman di lokasi.
Selama berada di Cengal, Jon Hery juga mengalami momen yang cukup menegangkan. Salah satunya ketika ia bersama personel Satgas Karhutla hendak menghidupkan mesin penyedot air.
Saat itu, air belum juga mengalir, sementara api justru bergerak mendekati posisi mereka.
"Pernah ada pengalaman waktu menghidupkan mesin air tapi airnya belum mengalir keluar, sedangkan api sudah mengarah ke kami. Untungnya bisa diatasi," tuturnya.
Ancaman juga datang dari arah angin. Api yang sebelumnya berhasil dipadamkan bisa kembali membesar ketika masih terdapat bara atau titik api kecil yang kemudian tertiup angin.
Bahkan, setelah dilakukan water bombing menggunakan helikopter, petugas masih menemukan api kecil yang kemudian kembali membesar.
"Karena pengaruh angin, tiba-tiba api bisa besar lagi. Sudah dilakukan water bombing oleh helikopter, ternyata ada api kecil yang tidak terjaga, kemudian membesar lagi. Tiga mesin kami turunkan untuk membantu pemadaman," katanya.
Di tengah perjuangan tersebut, petugas tidak bekerja sendirian. Dukungan perusahaan, masyarakat dan pihak terkait turut membantu proses pemadaman.
Masyarakat dan kepala desa setempat juga aktif memberikan informasi ketika menemukan titik api baru.
"Masyarakat dan kepala desa setempat juga kerap berkoordinasi dengan kami kalau terdapat informasi ada api yang muncul," katanya.
Kini, meski sejumlah titik api telah berhasil dipadamkan, personel masih terus melakukan pemantauan. Sebab, di lahan gambut, api yang terlihat padam belum tentu benar-benar mati.
"Alhamdulillah masih ada sumber air. Kondisi sekarang masih ada muncul (api), makanya kami standby dan monitor terus. Masyarakat juga sering memberikan informasi kalau ada titik api," ujar Jon Hery.