TRIBUN-MEDAN.com - Seorang wanita yang telah lima tahun menjalani perjuangan untuk memiliki anak menghadapi dilema besar setelah mengetahui dirinya hamil.
Kehamilan tersebut terjadi setelah ia melakukan kesalahan dengan seorang rekan kerja ketika sedang mengalami masalah dengan suaminya.
Dikutip dari Eva, Kamis (27/8/2026), wanita tersebut mengisahkan bahwa dirinya dan suami telah menikah selama beberapa tahun. Namun, hingga kini keduanya belum memiliki anak. Kondisi tersebut berkaitan dengan penyakit endometriosis yang dideritanya.
Sebelumnya, pasangan tersebut telah berusaha mendapatkan keturunan dengan menjalani program inseminasi intrauterin atau IUI. Namun, usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Karena keterbatasan biaya, keduanya juga belum dapat melanjutkan ke program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF).
Menurut perempuan tersebut, dokter pernah mengatakan bahwa dirinya masih memiliki kemungkinan untuk hamil. Meski demikian, peluang untuk mendapatkan kehamilan secara alami dinilai cukup rendah.
Selama lima tahun, ia dan suaminya berusaha menjalani pengobatan sembari mengumpulkan uang untuk menjalani IVF. Keduanya berharap suatu saat dapat memiliki anak sendiri.
Ia mengaku mengetahui bahwa suaminya juga sangat menginginkan kehadiran seorang anak. Selama menjalani perjuangan tersebut, mereka telah mengalami berbagai momen yang diwarnai harapan dan kekecewaan.
Perempuan itu juga mengaku terkadang merasa sedih ketika melihat teman-temannya satu per satu memiliki anak. Namun, ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa selama ia dan suaminya terus berusaha, suatu hari nanti mereka akan mendapatkan kesempatan untuk menjadi orang tua.
Namun, kondisi tersebut berubah ketika pasangan itu mengalami pertengkaran pada bulan sebelumnya.
Saat sedang marah kepada suaminya, perempuan tersebut memilih tidak langsung pulang ke rumah. Ia sengaja bertahan di kantor dan lembur hingga sekitar pukul 10 malam.
Keputusannya untuk tetap berada di kantor dilakukan agar suaminya menyadari arti keberadaannya di rumah. Selain itu, ia juga membutuhkan waktu untuk menenangkan diri sebelum kembali ke rumah.
Pada malam yang sama, seorang rekan kerja laki-laki yang selama ini cukup dekat dengannya juga masih berada di kantor. Rekan tersebut diketahui sedang mengalami kesedihan sehingga memilih tetap bekerja.
Setelah jam kerja selesai, rekan kerja itu kemudian mengajaknya makan. Keduanya bermaksud makan sambil berbicara dan saling mencurahkan isi hati.
Perempuan tersebut mengatakan bahwa sebelumnya ia tidak memiliki pikiran lain terhadap rekan kerjanya. Ia selama ini menganggap pria tersebut seperti seorang adik yang dekat dengannya.
Namun, pada malam itu, percakapan mereka berkembang hingga melewati batas. Rekan kerja tersebut mengaku memiliki perasaan kepadanya. Ia juga disebut tidak berani mendekati perempuan itu karena mengetahui bahwa perempuan tersebut telah berkeluarga.
Dalam kondisi emosional, perempuan tersebut kemudian melakukan sesuatu yang ia akui sebagai sebuah kesalahan.
Setelah kejadian itu, keduanya memilih saling menghindari. Di tempat kerja, mereka membatasi komunikasi dan berusaha bertindak seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu di antara mereka.
Perempuan tersebut juga tidak menceritakan kejadian itu kepada suaminya. Ia berharap dengan memilih diam, waktu akan membuat peristiwa tersebut terlupakan.
Sementara itu, kehidupan rumah tangganya tetap berjalan. Ia dan suaminya masih berusaha mengumpulkan uang untuk menjalani program IVF.
Namun, sekitar satu bulan setelah kejadian tersebut, perempuan itu melakukan tes kehamilan. Hasilnya menunjukkan dua garis.
Tidak percaya dengan hasil tersebut, ia kembali melakukan tes beberapa kali. Hasilnya tetap sama.
Ia kemudian menyadari bahwa dirinya benar-benar hamil.
Perempuan tersebut mengaku hampir yakin bahwa kehamilan itu berasal dari kejadian yang berlangsung pada malam ketika ia bersama rekan kerjanya.
Kehamilan itu justru membuatnya berada dalam kondisi penuh tekanan. Selama lima tahun mengalami kesulitan mendapatkan keturunan, ia berkali-kali berharap dapat melihat dua garis pada alat tes kehamilan.
Namun, ketika dua garis tersebut akhirnya muncul, ia tidak mampu merasakan kebahagiaan seperti yang selama ini dibayangkannya. Ia justru merasa panik dan bersalah kepada suaminya.
Pada saat yang sama, tabungan pasangan tersebut sudah hampir mencukupi untuk menjalani IVF. Mereka hanya membutuhkan sedikit tambahan biaya sebelum dapat memulai program tersebut.
Situasi itu membuat perempuan tersebut semakin bingung dalam menentukan keputusan.
Ia sempat mempertimbangkan untuk mengakhiri kehamilannya, kemudian melanjutkan rencana IVF bersama suaminya. Dengan cara tersebut, ia berharap suaminya tidak mengetahui kesalahan yang telah dilakukan dan keduanya tetap dapat berusaha memiliki anak bersama.
Namun, ia juga merasa takut mengambil keputusan tersebut.
Riwayat endometriosis, kegagalan IUI, serta keterangan dokter mengenai rendahnya peluang kehamilan alami membuatnya mempertanyakan apakah kehamilan yang sedang dialaminya merupakan kesempatan yang mungkin tidak akan datang kembali.
Ia juga dihantui kemungkinan bahwa setelah mengakhiri kehamilan tersebut, program IVF yang mereka jalani nantinya tidak berhasil.
Di sisi lain, jika ia memilih mengungkapkan kebenaran kepada suaminya, ia menyadari bahwa rumah tangganya berpotensi berakhir. Menurut pengakuannya, suaminya merupakan sosok yang sangat menjunjung tinggi kesetiaan dalam pernikahan.
Perempuan tersebut kini berada di antara dua pilihan yang sama-sama berat. Ia masih mencintai suaminya dan tetap memiliki keinginan untuk mempunyai anak bersama pria yang dinikahinya.
Namun, ia juga tidak dapat mengabaikan kenyataan bahwa untuk pertama kalinya setelah lima tahun menjalani perjuangan mendapatkan keturunan, dirinya kini benar-benar hamil.
Ia menyadari bahwa kesalahan yang dilakukan terhadap suaminya tidak dapat dibenarkan dengan alasan pertengkaran maupun kondisi sulit mendapatkan keturunan.
Kini, keputusan yang harus dihadapinya bukan hanya berkaitan dengan masa depan pernikahannya, tetapi juga kehamilan yang sedang dijalaninya.
(cr31/tribun-medan.com)