WARTAKOTALIVE.COM, JOHAR BARU -- Rasa takut membuat Fifi Indarsih sempat ragu mengikuti Cek Kesehatan Gratis (CKG). Namun, pemeriksaan di Puskesmas Johar Baru justru menemukan kista kecil di payudaranya yang sebelumnya tidak pernah ia sadari.
Beberapa kali, perempuan asal Purworejo, Jawa Tengah, itu merasakan payudaranya sakit, terutama menjelang menstruasi.
Selama ini, rasa nyeri tersebut dianggap sebagai hal biasa. Namun, diam-diam muncul pertanyaan apakah ada sesuatu di balik keluhan yang kerap dirasakannya.
Meski begitu, langkahnya menuju puskesmas diiringi rasa gugup.
Sebagai ibu dari seorang anak, Fifi hanya ingin tetap sehat agar bisa menemani anaknya hingga sukses sekaligus mendampingi suaminya, Muklis (44), sampai usia tua.
Baca juga: Jelang Hari Lanjut Usia Nasional 2026, Kemensos Gelar Cek Kesehatan Gratis dan Layanan KTP
"Saya sebenarnya takut dan deg-degan. Kita kan enggak tahu di dalam tubuh kita ada apa," kata Fifi saat ditemui Wartakotalive.com di Puskesmas Johar Baru, Jakarta Pusat, Kamis.
Fifi yang tinggal di Jalan Baladewa Kiri, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, kemudian datang ke Puskesmas Johar Baru.
Ia hanya membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan langsung menanyakan lokasi pemeriksaan CKG.
Petugas mengarahkannya menuju lantai lima. Dengan bantuan petugas, Fifi perlahan menaiki lift menuju ruang pemeriksaan.
Pagi itu, Puskesmas Johar Baru tampak ramai. Puluhan warga datang untuk memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis tersebut.
Petugas terlihat sigap melayani warga.
Sejumlah petugas bahkan membantu pasien yang kesulitan berjalan, termasuk mengantarkan kursi roda hingga ke depan lobi.
Baca juga: Lansia di Tangsel Kini Bisa Cek Kesehatan dan Mental di Pos Terpadu, Lawan Post Power Syndrome
Sesampainya di lantai lima, Fifi disambut ramah oleh petugas. Ia kemudian menunggu giliran sebelum menjalani pemeriksaan kesehatan satu per satu.
"Saya sebenarnya takut dan deg-degan. Kita kan enggak tahu di dalam tubuh kita ada apa," kata Fifi saat ditemui Wartakotalive.com di Puskesmas Johar Baru, Jakarta Pusat, Kamis.
Fifi merupakan ibu rumah tangga dengan kondisi ekonomi terbatas.
Ia tinggal di kontrakan bersama saudaranya, sementara kebutuhan keluarga sehari-hari banyak bergantung pada penghasilan Muklis yang bekerja sebagai pengemudi ojek online.
Penghasilan sang suami tidak selalu mencapai Rp100.000 dalam sehari.
Kondisi tersebut membuat keluarga Fifi harus berhati-hati mengatur kebutuhan, termasuk ketika harus memikirkan biaya pemeriksaan kesehatan.
Sehingga, program CKG menjadi kesempatan penting baginya.
Fifi sebenarnya sudah mengetahui program tersebut melalui media sosial. Namun, ia sempat belum menemukan kesempatan untuk datang ke puskesmas.
Kesempatan itu akhirnya datang ketika Fifi mengalami rasa tidak nyaman di bagian payudaranya. Ia kemudian mendatangi Puskesmas Johar Baru untuk mengikuti pemeriksaan CKG.
Satu per satu pemeriksaan dijalaninya. Pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, dan profil lipid/kolesterol menunjukkan hasil yang baik. Setelah itu, ia diarahkan ke bagian kebidanan.
Di bagian tersebut, Fifi sebenarnya sudah mengetahui bahwa pemeriksaan CKG juga mencakup pemeriksaan IVA atau kondisi rahim.
Pengetahuan itu justru membuat rasa gugupnya semakin kuat.
Ia mulai kembali membayangkan kemungkinan adanya masalah pada tubuhnya, Fifi semakin
deg-degan.
"Karena sudah tahu ada pemeriksaan IVA atau bagian rahim juga, saya gugup dan takut," ujar Fifi.
Setelah menjalani pemeriksaan tersebut, Fifi kemudian mendapat pemeriksaan payudara.
Di sinilah kecemasan yang selama ini hanya ada dalam pikirannya seolah menemukan jawaban.
Petugas menemukan benjolan kecil di payudaranya.
Fifi mengaku tidak pernah menyadari keberadaan benjolan tersebut.
"Cek (payudara) biasa sendiri, memang belakangan ini sudah merasa tidak nyaman," ujarnya.
Temuan tersebut membuat Fifi harus menjalani pemeriksaan lanjutan. Ia mendapatkan rujukan ke Rumah Sakit Carolus, Jakarta Pusat.
Fifi tidak menunda. Keesokan harinya, ia langsung mendatangi rumah sakit dan menjalani pemeriksaan di bagian onkologi. Pemeriksaan kemudian dilakukan menggunakan ultrasonografi (USG).
Hasilnya menunjukkan adanya kista-kista kecil. Namun, kondisi tersebut dinilai masih aman dan belum membutuhkan tindakan khusus.
Fifi diminta melakukan pemantauan dan kembali menjalani kontrol sekitar enam bulan kemudian.
Ia juga dianjurkan menerapkan pola hidup sehat, mulai dari menjaga pola makan hingga rutin berolahraga.
Bagi Fifi, temuan tersebut menjadi jawaban sekaligus pelajaran.
Kecemasan yang selama ini hanya berupa kekhawatiran ternyata memang menemukan sesuatu pada tubuhnya.
Namun, ia bersyukur kondisi tersebut diketahui lebih awal sehingga masih bisa ditindaklanjuti dan dipantau.
Temuan tersebut membuat Fifi semakin menyadari bahwa kondisi kesehatan tidak selalu bisa diketahui hanya dari gejala yang dirasakan.
Seseorang bisa saja merasa sehat, beraktivitas seperti biasa, dan tidak mengalami keluhan berarti. Namun, pemeriksaan kesehatan dapat menemukan kondisi yang sebelumnya tidak pernah disadari.
Pengalaman itu pula yang membuat Fifi semakin ingin menjaga kesehatannya.
Baginya, kesehatan bukan hanya tentang dirinya sendiri. Ada anak semata wayang yang ingin terus ditemaninya. Ada pula suami yang ingin tetap didampinginya hingga usia tua.
Fifi ingin hidup lebih lama bersama keluarganya.
Keinginan sederhana itu membuatnya tidak ingin lagi menyepelekan pemeriksaan kesehatan.
"Yang penting harus tahu kondisi kita. Kita harus waspada dari awal. Jangan sampai nantinya pas mengetahui sudah sulit diobati," kata dia.
Kini, Fifi mulai mengajak orang-orang terdekatnya mengikuti CKG. Orang pertama yang dibujuknya adalah sang suami. Namun, ajakan tersebut belum berhasil.
Muklis masih enggan menjalani pemeriksaan karena khawatir prosesnya membutuhkan waktu lama dan mengganggu pekerjaannya sebagai pengemudi ojek online.
Fifi juga mencoba mengajak sejumlah tetangga di lingkungan tempat tinggalnya.
Namun, sebagian masih merasa tidak perlu memeriksakan kesehatan karena sedang tidak mengalami keluhan.
Fifi bisa memahami perasaan tersebut.
Sebab, sebelum menjalani CKG, ia pun memiliki ketakutan yang sama.
Temuan yang tidak pernah disadarinya malah datang dari pemeriksaan payudara.
Pengalaman tersebut akhirnya mengubah cara pandang Fifi terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan.
Baca juga: Dampingi Veronica Tan Tinjau CKG, Munjirin: Alhamdulillah Puskesmasnya Luar Biasa, Sudah Sangat Siap
Baginya, semangat program “Cek Kesehatan Gratis: Cegah Dini, Tuntas Obat” sejalan dengan apa yang dirasakannya.
Program tersebut bukan sekadar memberikan layanan kesehatan secara gratis, tetapi juga menjadi kesempatan bagi Fifi untuk mengetahui kondisi tubuhnya lebih dini dan berupaya menjaga kesehatan agar dapat menjalani hidup lebih lama.
Program Kementerian Kesehatan yang diluncurkan pada 10 Februari 2025 itu menjadi kesempatan bagi masyarakat, terutama mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi, untuk mengetahui kondisi kesehatan tanpa harus terbebani biaya pemeriksaan dasar.
"Sampai sekarang, saya selalu menyakinkan orang-orang di sekitar saya. Terutama keluarga, karena saya yang awalnya juga takut, tetapi ternyata puas. Pelayanannya cepat," ucapnya.
Ia juga menilai pemeriksaan yang diberikan cukup lengkap. Menurut dia, warga tidak harus langsung datang ke rumah sakit hanya untuk mengetahui kondisi kesehatan dasarnya.
"Ya Alhamdulillah, senang sekali. Di puskesmas saja, enggak perlu ke rumah sakit sudah lengkap gitu kan," ujar Fifi.
Kini, Fifi hanya perlu menunggu jadwal kontrol berikutnya. Sambil menunggu, ia ingin pengalaman yang dialaminya menjadi pengingat bagi warga lain agar tidak menunggu sampai tubuh memberikan tanda-tanda sakit.
Terutama bagi mereka yang merasa sehat.
Sebab, bagi Fifi, rasa takut dan gugup yang dirasakannya saat datang ke puskesmas ternyata jauh lebih ringan dibandingkan penyesalan jika suatu hari terlambat mengetahui kondisi tubuh sendiri.
Ia berharap program CKG dapat terus berjalan dan dipertahankan. Sebab, kesempatan memeriksakan kesehatan tanpa dipungut biaya telah membuatnya berani mengetahui kondisi tubuhnya.
Senada dengan Fifi, program CKG juga menjadi momentum bagi Siti Aisyah untuk semakin rutin memantau kondisi kesehatannya, terutama kadar gula darah.
Perempuan 54 tahun itu sebenarnya sudah mengetahui dirinya memiliki penyakit gula sebelum mengikuti CKG.
Namun, pemeriksaan kesehatan yang dijalaninya membuatnya semakin sadar pentingnya mengontrol kondisi tersebut.
Iis sapaan karibnya ini mengaku sejak awal sudah memiliki kecurigaan terhadap penyakit gula yang dialaminya.
Terlebih, kedua orang tuanya juga memiliki riwayat penyakit serupa.
Selain faktor keturunan, Iis juga pernah mengalami sejumlah keluhan yang menurutnya muncul ketika kadar gula darahnya sedang tinggi.
Di antaranya sering buang air kecil pada malam hari, bibir terasa kering, badan mudah lemas hingga penglihatannya terkadang kabur.
"Biasanya kalau gula itu cepat lapar. Terus kencing, sering kencing tapi malam kencingnya. Terus bibir kering," ujar perempuan yang menjadi dasawisma itu.
Ia mengatakan pernah mengalami keluhan-keluhan tersebut ketika kadar gula darahnya meningkat.
Bahkan, tubuhnya bisa terasa sangat lelah meski tidak melakukan banyak aktivitas.
"Pernah seperti itu. Pas gulanya tinggi. Mata juga kunang-kunang, penglihatan kabur. Terus badan lemas," katanya.
Iis kemudian menceritakan bahwa dirinya pertama kali mengetahui memiliki penyakit gula saat menjalani pemeriksaan kesehatan di puskesmas.
Sejak saat itu, ia berusaha rutin melakukan pengecekan.
Saat mengikuti CKG, pemeriksaan yang dijalaninya cukup lengkap. Mulai dari pengukuran berat badan, lingkar pinggang, tinggi badan, tekanan darah, pemeriksaan mata dan telinga, hingga pemeriksaan gula darah, kolesterol, dan asam urat.
Hasil pemeriksaan gula darah Iis saat itu terbilang baik. Ia menyebut kadar gulanya berada di angka 141. Padahal, sebelumnya kadar gula darahnya sempat mencapai 200, bahkan pernah menyentuh 300 ketika sedang mengalami stres.
"Alhamdulillah enggak nyangka gulanya 141," tuturnya.
Iis menjelaskan kondisi tersebut membuatnya semakin terdorong untuk memperbaiki pola hidup.
Ia mulai mengurangi makanan dan minuman manis, memperbanyak sayur dan buah, serta memilih makanan yang lebih sehat seperti beras merah dan makanan yang direbus.
"Kurangin (makanan dan minuman) manis, olahraga, makan juga jangan terlalu banyak. Saya sekarang sedang fokus makan beras merah. Perbanyak sayur, buah," ujarnya.
Bagi Iis, pemeriksaan kesehatan bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Justru, menurut dia, mengetahui kondisi kesehatan lebih awal membuat seseorang bisa melakukan langkah pengendalian sebelum penyakit menjadi lebih serius.
Ia pun kerap mengajak orang-orang di sekitarnya untuk tidak takut memeriksakan kesehatan.
Menurutnya, mengetahui penyakit sejak dini jauh lebih baik daripada baru mengetahuinya ketika kondisinya sudah memburuk.
"Lebih baik ketahuan sekarang daripada nanti kalau sudah lewat, tahu-tahu bahaya, mengkhawatirkan," kata Iis.
Iis berharap semakin banyak warga yang memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis.
Baginya, CKG bukan hanya soal mengetahui apakah seseorang memiliki penyakit, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengevaluasi pola hidup dan lebih peduli terhadap kondisi tubuh.
Kini, Iis terus berusaha menjaga kadar gula darahnya dengan memperhatikan makanan dan rutin melakukan pemeriksaan.
Ia menyadari bahwa riwayat keluarga memang menjadi salah satu alasan dirinya lebih waspada, tetapi pola hidup juga berperan penting dalam menjaga kondisi kesehatannya.
Penanggung jawab program CKG Puskesmas Johar Baru, dr Muhammad Adi Apriliana mengatakan program itu telah diikuti puluhan ribu warga.
Berdasarkan data terbaru, sebanyak sekitar 40.615 warga telah menjalani pemeriksaan CKG.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 30 persen dari total sasaran warga di wilayah Kecamatan Johar Baru.
Untuk 2026, Puskesmas Johar Baru menargetkan 46 persen dari total populasi mengikuti CKG. Dengan jumlah penduduk 133.323 jiwa, target peserta tahun ini mencapai 61.328 orang.
"Target CKG tahun 2026 total populasi 133.323, target CKG tahun 2026 46 persen atau 61.328. Saat ini yang sudah CKG 40.663," kata Adi.
Meski sebagian hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi normal, CKG juga menemukan sejumlah masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian.
Pada pemeriksaan tekanan darah, sebanyak 58 persen peserta tercatat dalam kondisi normal.
Sementara itu, kadar gula darah sewaktu (GDS) normal ditemukan pada 93 persen peserta.
Adapun faktor risiko dan penyakit yang paling banyak ditemukan antara lain hipertensi, obesitas, serta kurangnya aktivitas fisik.
Secara khusus, data pemeriksaan menunjukkan 17 persen peserta mengalami hipertensi dan 19 persen masuk kategori prehipertensi.
Sementara itu, peserta dengan kadar gula darah sewaktu meningkat mencapai 3,7 persen.
Masalah obesitas juga cukup tinggi, yakni ditemukan pada 33 persen peserta. Sedangkan kadar kolesterol tinggi tercatat mencapai 77 persen.
Adi mengatakan setiap masalah kesehatan yang ditemukan melalui pemeriksaan CKG langsung ditindaklanjuti oleh petugas kesehatan.
"Setiap permasalahan yang ditemukan langsung dilakukan tindak lanjut, baik terapi atau rujukan," ujarnya.
Menurut dia, pelaksanaan CKG saat ini juga telah terintegrasi dengan layanan di puskesmas. Dengan demikian, warga yang datang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di puskesmas sekaligus dapat memperoleh layanan pemeriksaan CKG.
"Perkembangan CKG saat ini terintegrasi dengan layanan di puskesmas, jadi pasien yang datang ke puskesmas akan mendapat layanan CKG," kata Adi.
Di sisi lain, Puskesmas Johar Baru menaruh perhatian terhadap temuan risiko penyakit hipertensi dan kanker dari pemeriksaan warga.
"Yang cukup mengkhawatirkan, risiko hipertensi, risiko kanker," ujar Adi.
Dengan capaian sekitar 40.615 peserta dari target 61.328 orang pada 2026, cakupan CKG di Johar Baru masih terus dikejar.
Program tersebut diharapkan dapat membantu menemukan penyakit maupun faktor risiko lebih dini sehingga warga bisa segera mendapatkan penanganan dan pemantauan.
Dinkes DKI Catat 3,2 Juta Warga Ikuti CKG
Program CKG di Jakarta telah diikuti 3.218.320 warga hingga pertengahan triwulan III 2026.
Angka tersebut setara 29,11 persen dari total sasaran CKG Jakarta sebanyak 11.056.378 warga.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengatakan, target CKG pada 2026 ditetapkan sebanyak 5.085.934 warga atau sekitar 46 persen dari total sasaran.
Berdasarkan data dalam Aplikasi Sehat IndonesiaKu (ASIK) CKG 2026, sebanyak 1.887.226 peserta atau 62,4 persen ditemukan memiliki faktor risiko penyakit dan memerlukan tindak lanjut.
Faktor risiko yang ditemukan antara lain masalah status gizi, aktivitas fisik, hingga penyakit kardiovaskular.
Temuan terbesar adalah dislipidemia sebesar 67,51 persen. Selanjutnya obesitas 31,41 persen, obesitas sentral 30,06 persen, kurang aktivitas fisik 29,67 persen, tekanan darah meningkat 12,5 persen, masalah gigi atau karies 9,11 persen, serta diabetes 1,71 persen.
Untuk temuan yang memerlukan penanganan lebih lanjut, sebanyak 86.303 warga terduga hipertensi dan perlu dirujuk.
Sementara itu, ditemukan 48.621 kasus dislipidemia dan 704.911 warga mengalami obesitas.
“Peserta yang mendapatkan tatalaksana adalah peserta yang ditemukan faktor risiko dan terindikasi penyakit. Tatalaksana yang diberikan bisa berupa konseling, pemberian obat dan rujukan,” kata Ani.
Ani menyebut partisipasi warga dari Januari hingga Juli 2026 mengalami fluktuasi setiap bulan. Namun, secara kumulatif jumlah peserta terus bertambah.
Dinkes memperluas akses CKG melalui puskesmas, puskesmas pembantu, posyandu, sekolah, hingga kegiatan berbasis komunitas.
Berdasarkan data per 22 Agustus 2026, cakupan CKG tertinggi berada di Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, yakni 35,58 persen atau 4.736 dari 18.306 penduduk.
Sementara cakupan terendah berada di Kecamatan Jagakarsa sebesar 23,86 persen atau 92.220 dari 386.490 penduduk.
Dari sisi ketidakhadiran, terdapat 100.557 warga yang telah terdaftar tetapi belum datang mengikuti pemeriksaan. Jumlah itu sekitar 0,91 persen dari seluruh peserta terdaftar.
Penyebab utamanya berkaitan dengan waktu dan kesibukan, serta informasi jadwal pemeriksaan yang belum diterima atau dipahami secara optimal.
Menurut Ani, tingginya temuan faktor risiko penyakit tidak menular menjadi perhatian Dinkes.
Kondisi tersebut sejalan dengan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang menunjukkan DKI Jakarta termasuk provinsi dengan prevalensi obesitas tinggi di Indonesia.
“Kombinasi antara obesitas, obesitas sentral, kurang aktivitas fisik, dan gangguan profil lipid perlu diwaspadai karena berkaitan dengan peningkatan risiko hipertensi, diabetes, penyakit jantung dan pembuluh darah,” ujarnya.
Ke depan, keberhasilan CKG tidak hanya diukur dari jumlah warga yang mengikuti pemeriksaan.
Dinkes juga akan melihat jumlah faktor risiko dan penyakit yang ditemukan sejak dini, tindak lanjut yang diberikan sesuai hasil pemeriksaan, serta kontribusi program terhadap pengendalian faktor risiko dan peningkatan status kesehatan masyarakat.
Hingga akhir 2026, Dinkes menargetkan 5.085.934 warga mengikuti CKG. Dengan capaian sementara 3.218.320 peserta, sekitar 63,3 persen dari target tahunan tersebut telah tercapai. (m27)