Banjir Bandang Dahsyat Terjang Perbatasan Nepal-China: 157 Orang Tewas, 403 Masih Hilang
Hironimus Rama August 27, 2026 01:30 PM

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, KATHMANDU – Bencana alam berskala besar memporak-porandakan kawasan pegunungan Himalaya di perbatasan Nepal dan China pada Rabu (26/8/2026).

Banjir bandang yang datang secara tiba-tiba akibat runtuhnya gletser telah menyapu permukiman, infrastruktur, hingga ratusan kendaraan di sepanjang jalur perbatasan.

Data terbaru mencatat sedikitnya 157 orang tewas akibat terjangan air bah yang membawa material lumpur, batu, dan es dalam jumlah masif.

Baca juga: Di Tengah Guncangan Gempa, Filipina Diterjang Banjir Bandang

Selain itu, sebanyak 403 orang dilaporkan masih berstatus hilang. Dari total korban hilang, 341 orang di antaranya merupakan warga negara asing (WNA) dan 62 lainnya warga lokal Nepal.

Juru bicara Dewan Pariwisata Nepal, Sunil Sharma, mengungkapkan bahwa sebagian besar WNA yang belum ditemukan merupakan wisatawan atau peziarah yang tengah melakukan perjalanan menuju kawasan Gosaikunda dan Kailash Mansarovar.

Berdasarkan data Nepal Tourism Board, warga India menjadi kelompok WNA terbanyak yang hilang yakni 133 orang, disusul oleh 47 warga Amerika Serikat, 34 warga Australia, 33 warga Inggris, 24 warga Kanada, serta warga dari berbagai negara lainnya termasuk Malaysia, Jepang, dan Singapura.

Runtuhnya Gletser dan Gelombang Air Raksasa

Berdasarkan laporan Reuters, banjir bandang ini tidak semata-mata disebabkan oleh curah hujan yang tinggi.

Bencana dipicu oleh runtuhnya bagian bawah gletser yang memicu longsoran es dan batu dalam jumlah besar.

Material tersebut sempat membendung aliran Sungai Lhende sebelum akhirnya menjebol bendungan alami dan menciptakan gelombang air raksasa yang meluncur deras ke Sungai Bhotekoshi.

Kedatangan banjir yang sangat cepat membuat warga tidak sempat menyelamatkan diri atau menerima peringatan dini.

Rajendra Dhungana, seorang pejabat bea cukai di Distrik Rasuwa, menggambarkan betapa air bah datang bagaikan dinding air yang bergerak dalam hitungan detik dan menyapu ratusan kendaraan di pos perbatasan.

"Within moments, the market was gone," kata Dhungana, menggambarkan betapa cepatnya kawasan pasar di Timure menghilang diterjang air bah.

Kepala Divisi Peramalan Banjir Nepal, Binod Parajuli, menjelaskan bahwa stasiun pemantau banjir otomatis di hulu Sungai Bhotekoshi ikut tersapu air bah sebelum sempat mengirimkan sinyal peringatan ke wilayah hilir.

"None of the stations was able to send us an alert," ujar Parajuli, menyoroti kerentanan sistem pemantauan di kawasan hulu.

Kerusakan Infrastruktur 

Dampak bencana ini melumpuhkan sejumlah wilayah di Distrik Rasuwa, Timure, dan Syaphrubesi. Setidaknya 19 jembatan kendaraan serta 40 kilometer ruas jalan rusak berat atau hanyut, memutus akses dan mengisolasi wilayah terdampak dari jangkauan tim penyelamat.

Tidak hanya di Nepal, wilayah Tibet di China yang berada di sisi seberang perbatasan turut terdampak parah.

Associated Press melaporkan sedikitnya tiga orang tewas di wilayah Tibet dan 265 orang masih hilang, menjadikan total korban jiwa di kedua sisi perbatasan mencapai setidaknya 160 orang.

Hingga saat ini, aparat keamanan, militer, dan tim SAR gabungan terus berjibaku melakukan operasi pencarian di tengah tantangan berat berupa medan ekstrem, cuaca buruk, dan terputusnya jaringan komunikasi.

Pemerintah Nepal mengerahkan seluruh sumber daya untuk mempercepat evakuasi sekaligus membuka akses bagi wilayah-wilayah yang terisolasi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.