Relawan UMI Bantu Warga Nggori Manggarai NTT Pasca Gempa, Bertahan di Tengah Suhu 13 Derajat
Ilham Mulyawan August 27, 2026 01:47 PM

TRIBUN-SULBAR.COM, MANGGARAI — Warga Kampung Nggori masih bertahan di tenda pengungsian dengan suhu malam yang dingin pasca gempa 15 Agustus 2026 lalu. 

Tim Relawan Medis UMI bersama AMDA, AR7 Team, TBM Fakultas Kedokteran UMI, dan KAHMI Manggarai hadir memberikan layanan kesehatan, obat-obatan, tenda, perlengkapan bayi, dan kebutuhan dasar.

Baca juga: Gubernur SDK Ogah Langgar Aturan Pilih Tunggu 2 Nama Cawagub Resmi dari Koalisi Sulbar Maju

Baca juga: Bocah SD Diterkam Buaya di Sungai Budong-Budong Mateng Pemdes Tabolang Akan Pasang Plang Peringatan

Tokoh adat Kampung Nggori, Lambertus (53), menyampaikan rasa terima kasihnya atas kehadiran Tim Relawan Medis Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar di posko pengungsian penyintas gempa Nusa Tenggara Timur.

Ia berharap misi kemanusiaan tersebut juga dapat menjangkau wilayah lain yang mengalami kondisi serupa.

“Doa kami menyertai bapak dan ibu dalam mengunjungi tempat-tempat lain yang situasinya seperti kami alami di Kampung Nggori ini,” kata Lambertus.

Kampung Nggori atau Gendang Gori berada di Desa Bangka John, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, NTT. 

Wilayah ini berada di dataran tinggi, sekitar 5 kilometer dari pusat kecamatan dan 8 kilometer dari Ruteng.

Sejak gempa mengguncang pada 15 Agustus 2026, Lambertus bersama warga lainnya masih bertahan di tenda pengungsian.

Bukan karena mereka memilih meninggalkan rumah.

Tetapi karena sebagian rumah sudah tidak dapat ditempati.

“Kami tidak bisa tinggal di rumah. Kami tidak bisa tinggalkan begitu saja karena sudah roboh,” ujar Lambertus saat berbincang dengan Wakil Rektor II UMI, Prof. Dr. Ir. H. Zakir Sabara HW., S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., APEC Eng., Rabu, 26 Agustus 2026.

Pada malam hari, suhu di wilayah tersebut dapat turun hingga sekitar 13–14 derajat Celsius.

Lambertus mengatakan warga menggunakan selimut dan perlengkapan seadanya untuk menahan dingin.

“Masih tinggal di tenda, termasuk kami semua. Padahal dingin sekali kalau malam,” katanya.

Bagi warga yang rumahnya rusak, kembali bukan pilihan aman.

Mereka harus bertahan di pengungsian sambil menunggu keadaan membaik.

Lambertus juga mengingat kembali saat gempa terjadi.

Menurutnya, masih disyukuri warga adalah waktu gempa terjadi pada pagi hari, ketika sebagian besar masyarakat sudah terbangun.

Melihat kondisi tersebut, Tim Relawan Medis UMI datang ke Kampung Nggori untuk memberikan dukungan kepada warga yang masih bertahan di pengungsian.

Prof. Zakir menghampiri warga satu per satu.

Tidak hanya menanyakan kondisi kesehatan mereka, tetapi juga mendengarkan cerita tentang rumah yang rusak, kehidupan selama di tenda, dan pengalaman saat gempa terjadi.

“Kami datang karena merasa ini saudara-saudara kita juga. Kita semua bersaudara. Yang bisa kita lakukan, kita lakukan bersama,” ujarnya.

Tim Relawan Medis UMI menjalankan misi kemanusiaan bersama Association of Medical Doctors of Asia (AMDA), AR7 Team, Tim Bantuan Medis Fakultas Kedokteran UMI, dan KAHMI Manggarai.

Tim medis diketuai dr. Berry Erida Hasbi, Sp.B., dokter spesialis bedah yang memimpin pelayanan kesehatan di lapangan.

Selama misi di Kabupaten Manggarai, tim memberikan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan kepada warga terdampak gempa. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.