TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU TENGAH – Kepala Desa Tabolang, Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah, Rusdin Sakaria meminta warga membatasi aktivitas di sekitar aliran sungai Budong-budong, menyusul insiden bocah SD diterkam buaya pada Selasa (24/8/2026) lalu.
Korban telah ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa, dengan kondisi tubuh penuh luka gigitan.
Baca juga: BPKAD Sulbar Ikuti Pendampingan Penilaian KUA-PPAS 2027 agar Selaras Kebijakan Fiskal Nasional
Baca juga: Mobil Dikemudikan Perempuan di Polman Hilang Kendali, Tabrak 3 Mobil Terparkir
"Kami secara intensif mengimbau masyarakat agar mengurangi aktivitas di sungai, terutama di titik-titik yang dianggap rawan," ujar Rusdin saat kepada Tribunsulbar, Kamis (27/8/2026).
Rusdin menambahkan, dalam waktu dekat pemerintah desa akan memasang plang peringatan di sekitar lokasi kejadian insiden penerkaman buaya.
Langkah ini diambil sebagai upaya mitigasi dan pengingat visual bagi warga yang melintas maupun beraktivitas di bantaran sungai.
Selain pemasangan plang, ia juga akan terus mengingatkan masyarakat untuk senantiasa waspada dan berhati-hati.
Utamanya saat melakukan kegiatan di aliran Sungai Budong-budong, yang merupakan salah satu sungai utama di wilayah Mamuju Tengah.
"Keselamatan warga adalah prioritas utama kami," tegasnya.
"Kami tidak ingin ada korban jiwa berikutnya akibat serangan satwa liar ini," tambahnya.
Masyarakat diimbau segera melapor apabila melihat keberadaan buaya di sekitar sungai.
Selain itu, menghindari aktivitas pada jam-jam rawan, terutama saat pagi dan sore hari.
Korban sebelumnya diterkam biaya saat sedang bermain air di sungai tersebut, ketika bersama neneknya.
Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia sekitar pukul 15.42 Wita, setelah jasadnya tiba-tiba muncul dari dalam air tidak jauh dari lokasi awal korban diterkam.
Tim bersama warga setempat segera melakukan evakuasi terhadap jasad korban.
Muh Haerul, Komandan Tim Operasi SAR Pencarian, menyampaikan bahwa korban ditemukan dengan sejumlah luka gigitan di bagian tubuhnya.
Pencarian dilakukan selama dua hari. Di hari kedua, jasad korban ditemukan.
Selama proses pencarian, tim menghadapi kendala berupa banyaknya buaya berada di lokasi kejadian.
Hal tersebut menyempitkan ruang gerak tim dalam melakukan upaya pencarian.
Untuk mengatasi kendala tersebut, tim bekerja sama dengan pawang buaya dan warga setempat guna menangkap buaya-buaya yang berpotensi membahayakan.
Sebanyak 5 ekor buaya berhasil ditangkap dan dievakuasi dari lokasi.
Tim menggunakan teknik water blender dengan perahu karet dalam upaya mencari keberadaan korban.
Setelah teknik tersebut dilakukan, jasad korban tiba-tiba muncul dari dalam air dan segera dievakuasi.
Atas insiden ini, Muh Haerul mengimbau masyarakat yang kerap beraktivitas di pinggiran sungai agar lebih berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaan terhadap keberadaan satwa liar, khususnya buaya. (*)