Menolong lansia yang ambruk, pemilik toko di Tiongkok malah dituntut ganti rugi keluarga si lansia
TRIBUNSTYLE.COM – Seorang pemilik toko di Tiongkok harus menghadapi tuntutan ganti rugi setelah membantu seorang pria lanjut usia yang tiba-tiba merasa tidak enak badan di tempat usahanya.
Dikutip TribunStyle.com dari Stomp.sg pada Kamis, 27 Agustus 2026, pria tersebut kemudian meninggal dunia. Keluarganya meminta ganti rugi 100.000 yuan atau sekitar Rp264 juta kepada pemilik toko, Xiao Aihua. Namun, hasil pemeriksaan pihak berwenang menyatakan Xiao tidak bersalah. Tidak ditemukan hubungan antara bantuannya dan kematian pria tersebut.
Meski begitu, setelah melalui mediasi, Xiao akhirnya membayar 19.000 yuan atau sekitar Rp50 juta kepada keluarga pria itu sebagai bentuk “kemanusiaan”.
Kejadian berlangsung di sebuah tempat bermain kartu di Kabupaten Qidong, Hengyang, Provinsi Hunan.Menurut China National Radio (CNR), pria tersebut merasa tidak enak badan dan masuk ke dalam gedung untuk beristirahat. Tak lama kemudian, ia pingsan.
Rekaman CCTV menunjukkan pria itu masuk sekitar pukul 12.50 pada 17 Agustus dan duduk di dekat pintu masuk. Sekitar empat menit kemudian, Xiao menyadari kondisinya dan meminta bantuan. Ia juga ikut menolong sebelum ambulans tiba sekitar pukul 13.01.
Pria tersebut kemudian dibawa ke rumah sakit. Namun, ia meninggal dunia setelah mengalami serangan akut yang berkaitan dengan kondisi medis yang sudah dideritanya. Pihak berwenang menyimpulkan tidak ada hubungan antara tindakan Xiao dan kematian pria tersebut. Xiao juga dinyatakan tidak memiliki tanggung jawab hukum atas kejadian itu.
Setelah pria tersebut meninggal, keluarganya meminta Xiao membayar 100.000 yuan atau sekitar Rp264 juta. Mereka beralasan pria itu pingsan di tempat usaha Xiao dan mendapat bantuan darinya. Menurut Sohu, keluarga tersebut bahkan diduga mengancam akan meletakkan jenazah pria itu di depan toko Xiao.
Mediasi kemudian dilakukan sebanyak dua kali. Xiao awalnya menawarkan 2.000 hingga 3.000 yuan atau sekitar Rp5,3 juta hingga Rp7,9 juta sebagai bentuk bantuan kemanusiaan, tetapi tawaran itu ditolak. Akhirnya, kedua pihak sepakat Xiao membayar 19.000 yuan atau sekitar Rp50 juta sekali saja. Setelah pembayaran dilakukan, keluarga tersebut tidak akan mengajukan tuntutan lebih lanjut terkait kasus tersebut.
Putra Xiao mengatakan ayahnya memilih membayar karena perselisihan itu sudah berdampak pada kesehatan ibunya. Xiao sendiri disebut mengalami sulit tidur, pusing, dan kehilangan nafsu makan. Tokonya juga sempat berhenti beroperasi. Pihak berwenang setempat kemudian menawarkan untuk mengembalikan seluruh uang yang telah dibayarkan Xiao.
Kasus tersebut memicu perdebatan di Tiongkok. Banyak yang mempertanyakan apakah orang akan takut membantu orang lain jika kebaikan mereka justru bisa berujung pada tuntutan finansial.
Pengacara Ouyang Qiao mengatakan kepada CNR bahwa pembayaran 19.000 yuan atau sekitar Rp50 juta tidak memiliki dasar hukum sebagai kewajiban. Menurutnya, Xiao tidak menyebabkan kondisi pria tersebut dan tidak berkontribusi terhadap kematiannya.
Ia menilai seseorang boleh memberikan uang secara sukarela karena rasa simpati. Namun, hal itu tidak seharusnya berubah menjadi kewajiban bagi orang yang tidak melakukan kesalahan.
Di tengah kontroversi tersebut, Xiao dan keluarganya mendapat dukungan dari masyarakat dan sejumlah pelaku usaha. Pada 24 Agustus, Gong Shengli, manajer umum Jintai Rice Industry di Hunan, mengunjungi keluarga Xiao dan memberikan 20.000 yuan atau sekitar Rp53 juta.
“Kami memberikan uang ini karena kami tidak ingin keluarga Anda mengalami kerugian ekonomi,” ujar Gong. Ia mengatakan dukungan tersebut juga bertujuan mendorong masyarakat untuk tetap berbuat baik. Pengusaha Luo Yonghao juga mengatakan dirinya dan beberapa rekannya telah mengirimkan 100.000 yuan atau sekitar Rp264 juta kepada Xiao.
Luo menilai mengganti uang yang telah dikeluarkan Xiao saja tidak cukup. Menurutnya, orang yang mengalami kerugian setelah berbuat baik juga layak mendapat dukungan. Keluarga Xiao mengatakan akan tetap membantu orang yang membutuhkan jika menghadapi situasi serupa di masa depan.
Mereka juga berencana menggunakan sebagian uang yang diterima untuk membantu lansia di pedesaan dan penyandang disabilitas. ( TribunStyle.com | Ira Azzahra )