Polemik Camat di NTT dan Petugas BNPB Berakhir, Alasan Bantuan Gempa Belum Merata Terungkap
Ani Susanti August 27, 2026 02:14 PM

TRIBUNJATIM.COM - Camat Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Agustinus Supratman, akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Permintaan maaf tersebut disampaikan setelah video yang memperlihatkan momen emosional antara Agustinus dan Inspektur III BNPB Kombes Pol Deden Nurhidayatullah saat pengecekan bantuan logistik korban gempa pada 21 Agustus 2026 beredar luas di media sosial.

"Saya menyampaikan permohonan maaf kepada Bapak Deden, BNPB, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, dan semua pihak yang terdampak atas kejadian maupun informasi yang berkembang," kata Agustinus, Kamis (27/8/2026), dilansir dari Antara.

Agustinus menjelaskan, kejadian tersebut berawal dari kondisi bantuan logistik yang pada saat itu baru tersedia di tingkat kecamatan.

Baca juga: Langkah Pemkab Manggarai Timur usai Camat di NTT Banting Bantuan saat Adu Mulut dengan Petugas BNPB

Di sisi lain, bantuan yang diperuntukkan bagi masyarakat terdampak gempa di seluruh wilayah Kabupaten Manggarai Timur masih dalam tahap pengiriman dan pendistribusian.

Ia menilai kondisi tersebut perlu diluruskan agar tidak menimbulkan persepsi berbeda di tengah masyarakat setelah video kejadian tersebut viral.

Agustinus juga membantah adanya tekanan terhadap dirinya untuk membuat klarifikasi. Ia menegaskan bahwa permintaan maaf dan penjelasan yang disampaikannya merupakan keputusan pribadi.

BNPB Terima Permintaan Maaf Camat

Kombes Pol Deden Nurhidayatullah merespons positif permintaan maaf Agustinus. Inspektur III BNPB tersebut memastikan permintaan maaf itu diterima dengan tulus.

"Permintaan maaf tersebut kami terima dengan tulus dan ikhlas. Bagi kami, yang paling penting sekarang adalah bagaimana kita bersama-sama kembali fokus membantu masyarakat yang sedang menghadapi situasi sulit akibat bencana," ujar Deden.

Menurut Deden, kondisi bencana dapat memberikan tekanan besar kepada semua pihak yang terlibat, mulai dari pemerintah, petugas di lapangan hingga masyarakat yang terdampak langsung.

Karena itu, perbedaan pemahaman yang muncul selama proses penanganan bencana, kata dia, sebaiknya diselesaikan melalui komunikasi dan koordinasi.

"Kami memahami bahwa dalam situasi bencana, semua orang berada dalam kondisi yang tidak mudah. Yang terpenting adalah kita dapat saling memahami, memperbaiki komunikasi, dan kembali bekerja untuk masyarakat," katanya.

Deden menilai fokus seluruh pihak kini harus dikembalikan pada penanganan warga yang terdampak gempa.

Bantuan Gempa Masih Didistribusikan Bertahap

Di tengah polemik yang muncul setelah video viral, proses penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak gempa di Manggarai Timur terus dilakukan.

Deden mengatakan distribusi logistik dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kebutuhan warga serta kondisi akses menuju lokasi-lokasi terdampak.

Sejumlah kendala teknis masih dihadapi dalam proses tersebut. Salah satunya berkaitan dengan akses transportasi menuju beberapa wilayah.

Akibatnya, bantuan yang sudah tersedia di tingkat kabupaten tidak selalu bisa dikirim dan diterima oleh seluruh kecamatan dalam waktu bersamaan.

"Bantuan terus bergerak. Ketika ada kendala akses atau transportasi, tentu membutuhkan waktu untuk memindahkan bantuan dari satu titik ke titik lainnya," jelasnya.

Baca juga: Pemicu Camat di NTT Banting Paket Bantuan dan Amuk Petugas BNPB, Tertekan Harus Bagi ke 11 Desa

BNPB bersama Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur pun terus melakukan koordinasi agar distribusi logistik dapat berjalan dan kebutuhan masyarakat terpenuhi secara bertahap.

Deden turut mengapresiasi pemerintah daerah serta berbagai pihak yang terlibat dalam penanganan dampak gempa di Manggarai Timur.

Ia menegaskan, penanganan warga terdampak tetap menjadi prioritas utama, sementara proses pengiriman dan distribusi bantuan masih terus berlangsung.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.