Puskesmas Rusak Parah Akibat Gempa, Nakes Ngada NTT Sulap Garasi Mobil Jadi Ruang Bersalin
Hilarius Ninu August 27, 2026 02:47 PM

 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Charles Abar

TRIBUNFLORES.COM, BAJAWA- Gempa yang meluluhlantahkan Flores pada Sabtu (15/8/2026) lalu bukan hanya merenggut banyak nyawa. Berbagai fasilitas kesehatan juga mengalami kerusakan sehingga tidak lagi dapat digunakan.

Kondisi inilah yang dialami UPTD Puskesmas Natarandang, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bangunan yang tergolong masih baru itu kini retak di berbagai sisi ruang. Sejumlah fasilitas di dalamnya pun tidak lagi aman digunakan untuk pelayanan kesehatan.

Ruang UGD tidak lagi berfungsi. Begitu pula ruang bersalin yang bukan lagi menjadi tempat aman untuk memberikan pelayanan kepada pasien.

Baca juga: Cek Rumah Susun di Labuan Bajo, Kapolda NTT : Anggota Juga Jadi Korban Gempa Flores

 

Meski seluruh ruangan dalam gedung sudah tidak layak digunakan, pelayanan kesehatan tidak berhenti. Pasien tetap datang setiap hari, tak terkecuali ibu yang hendak melahirkan.

Satu tenda yang didatangkan BPBD belum cukup untuk melayani berbagai kebutuhan pasien. Ruangan harus dipisahkan agar pelayanan dan privasi pasien tetap terjaga.

Ruang pendaftaran dipindahkan ke tenda darurat di depan gedung. Sementara garasi yang selama ini digunakan untuk memarkir mobil ambulans disulap menjadi ruang persalinan.

“Setelah gempa kami merasa bingung untuk memberikan pelayanan, karena ruangan FKK yang selama ini kami  ada retak, sehingga memutuskan bersama kepala puskesmas membuat garasi ini sebagai ruangan darurat bersalin sementara,” ujar Esther Seliana Ndoen, Bidan koordinator puskesmas Natarandang.

Meski persalinan dilakukan di dalam garasi mobil, para tenaga kesehatan tetap memastikan privasi dan keamanan pasien.

Pelayanan terus berjalan kendati gempa susulan masih memancing rasa takut. Pada hari pertama setelah gempa, pelayanan persalinan awalnya dilakukan di lapangan. Namun, kondisi tersebut tidak memberikan privasi yang cukup bagi pasien sehingga garasi akhirnya menjadi pilihan terbaik.


“Selama ini yang terjadi persalinan di sini dua orang, yang dirujuk dua orang ke rumah sakit,” ungkap Esther.

Bidan Esther mengatakan, meski berlangsung di dalam garasi mobil, ia bersama rekan-rekannya tetap akan memberikan pelayanan secara maksimal.

“Kita selalu memberikan pelayanan yang maksimal, meski dalam kondisi seperti ini,”

Namun, ada kondisi yang selalu dikhawatirkan Esther, terutama ketika malam tiba.

Rasa dingin menembus bilik terpal yang menjadi pembatas ruang persalinan sehingga membuat pasien merasa tidak nyaman.

“Kendala, yah ruangan sepeti ini dingin, walaupun kita sudah pasang terpal begini tapi embun itu masih menetes,” ujar Dia.

Di tengah semangat para tenaga kesehatan melayani pasien dalam situasi darurat, persoalan lain juga mereka hadapi.

Sebanyak lima unit rumah dinas yang ditempati para Nakes di Puskesmas Natarandang turut mengalami kerusakan. Mes yang selama ini mereka huni mengalami kerusakan sehingga tidak bisa digunakan.

“Banyak Nakes yang tinggal di rumah -rumah Puskesmas ada yang roboh, sehingga mereka tinggal sementara di tenda darurat dan membutuhkan perhatian,” ujar dia.

Ia berharap ada perhatian dari pemerintah atas kondisi yang mereka hadapi.

“Semoga kami biasa dapat bantuan sedikit karena kami juga kerja sendiri untuk bangun darurat, supaya kami bisa bayar tukang, selama ini kami kerja sendiri,”

Fasilitas pelayanan di Puskesmas Natarandang kini sangat memprihatinkan. Di tengah jumlah kunjungan pasien yang cukup banyak, fasilitas yang tersedia justru sangat terbatas.

“Sejak hari kejadian hingga hari ini di tenda darurat sudah cukup banyak pasien,” ujar Kapa UPTD Puskesmas Natarandang Yohana Nelu.

Ia berharap ada tambahan tenda berukuran lebih besar agar pelayanan pasien tidak menumpuk dalam satu tenda.

“Kalau bisa kami butuh dapatkan lagi satu tenda darurat seperti ini, karena yang ada kami sekat untuk UGD dan nifas, sementara kamar bersalin kami gunakan garasi mobil , juga rawat jalan,” kata Dia.

Ia mengatakan, tambahan tenda tersebut dibutuhkan untuk memberikan kenyamanan bagi pasien yang terus bertambah setiap hari.

“Pasien mulai dari dewasa, anak-anak lansia yang mengalami shok, itu kami sedang rawat seorang,” tutupnya.(cha)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.